
nurulamin.pro.CO.ID - JAKARTA.
Target Pertumbuhan Premi yang Moderat dan Berkelanjutan
Pada tahun 2026, sejumlah perusahaan asuransi umum di Indonesia menetapkan target pertumbuhan premi yang moderat dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan mengingat meningkatnya kompleksitas risiko yang dihadapi industri asuransi. Salah satu pelaku utama dalam industri ini adalah PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII), yang menargetkan pertumbuhan premi yang seimbang antara kualitas dan kehati-hatian.
Corporate Secretary YOII, Rahmat Dwiyanto, menyatakan bahwa perusahaan berharap dapat mencatatkan pertumbuhan premi positif dibandingkan realisasi pada tahun 2025. Fokus perusahaan tetap pada penguatan fondasi bisnis, sehingga pertumbuhan bisa tercapai secara sehat dan berkelanjutan.
Lini Asuransi Gaya Hidup sebagai Pendorong Utama
Salah satu strategi yang digunakan oleh YOII adalah fokus pada lini asuransi gaya hidup (lifestyle insurance). Produk-produk seperti asuransi kendaraan bermotor, asuransi perjalanan, asuransi harta benda atau properti, serta asuransi aneka dinilai memiliki potensi besar mengingat kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang.
Namun, YOII juga menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara daya saing produk, kualitas underwriting, dan pengelolaan risiko. Untuk menghadapi hal tersebut, perusahaan merancang strategi yang meliputi:
- Penguatan selektivitas underwriting untuk memastikan kualitas klaim yang lebih baik.
- Optimalisasi saluran distribusi yang sudah ada agar efisiensi operasional meningkat.
- Peningkatan efisiensi operasional untuk menekan biaya dan meningkatkan profitabilitas.
Selain itu, YOII akan terus melakukan evaluasi portofolio bisnis, pengembangan produk sesuai dengan kebutuhan pasar, serta penguatan manajemen risiko. Hingga akhir November 2025, YOII telah mencatatkan pendapatan premi sebesar Rp 631 miliar, tumbuh sebesar 112% secara tahunan.
Strategi Jasindo dalam Mencapai Target Pertumbuhan Premi
PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) juga memiliki rencana serupa. Perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan premi yang terukur pada 2026, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Sekretaris Perusahaan Jasindo, Brellian Gema Widayana, menjelaskan bahwa target ini disusun dengan mempertimbangkan realisasi kinerja sepanjang 2025, perkembangan ekonomi, serta arah strategi perusahaan.
Jasindo akan mengandalkan lini bisnis asuransi harta benda sebagai kontributor utama premi. Segmen ini mencakup perlindungan aset properti, industri, energi, hingga infrastruktur strategis. Selain itu, Jasindo juga menjalankan program penugasan pemerintah, seperti Asuransi Barang Milik Negara (BMN) serta perlindungan di sektor pertanian padi dan ternak sapi.
Di sisi komersial, asuransi energi, baik onshore maupun offshore, serta asuransi rekayasa ditargetkan menjadi penggerak utama kinerja premi pada 2026. Namun, Jasindo juga menyadari tantangan dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya perlindungan aset. Untuk itu, perusahaan akan melanjutkan perluasan edukasi publik sekaligus memperkuat kerja sama dengan mitra distribusi.
Proyeksi Kinerja Industri Asuransi Umum pada 2026
Pengamat asuransi Irvan Rahardjo memproyeksikan bahwa kinerja industri asuransi umum pada 2026 belum menunjukkan perbaikan signifikan. Pertumbuhan sektor ini masih akan dibayangi oleh perlambatan ekonomi nasional serta tekanan kualitas kredit.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan stagnan di kisaran 5% pada 2026, sesuai proyeksi Bank Dunia, akan membatasi ruang ekspansi industri asuransi umum. Angka tersebut berada di level yang sama dengan proyeksi pertumbuhan hingga akhir 2025.
Irvan menambahkan bahwa tantangan utama datang dari rendahnya daya beli masyarakat akibat terbatasnya penciptaan lapangan kerja serta masih tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi ini berpotensi menekan permintaan produk asuransi secara keseluruhan.
Di sisi lain, tingginya klaim asuransi kredit menjadi sinyal memburuknya kualitas kredit. Menurut Irvan, kondisi tersebut tidak terlepas dari praktik penetapan harga premi yang belum sepenuhnya mencerminkan tingkat risiko.
Langkah untuk Memperkuat Keberlanjutan Bisnis
Untuk menjaga keberlanjutan bisnis, Irvan menilai pelaku industri perlu memperkuat strategi melalui peningkatan sinergi dan kolaborasi dengan sektor perbankan. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah penerapan mekanisme berbagi risiko atau burden sharing antara bank dan perusahaan asuransi.
"Sudah bukan waktunya lagi perbankan menjadikan asuransi hanya sebagai sumber fee based income. Perbankan juga perlu mempertimbangkan peran asuransi sebagai penanggung risiko," jelasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar