
Pengalaman Menonton Avatar: Fire and Ash
Setelah menonton Avatar: Fire and Ash, saya harus mengakui bahwa James Cameron, secara beruntun, mampu memberikan tontonan keluarga yang sangat indah, dalam, dan membekas. Sumpah, bagus banget... Bagi yang relate.
Sebelumnya, saya urungkan menulis judul dengan kalimat negatif untuk artikel ini, karena saya takut diteror bom molotov, kepala ayam, ataupun telur busuk oleh pihak yang berseberangan.
Lupakan mereview tentang kehebatan visual CGI dari film berdurasi 3 jam 17 menit. Saya tak layak, anda juga tak layak. Apa sebabnya? Karena James Cameron adalah maestro di bidang ini semenjak Avatar muncul tahun 2009. Ya kalee Mozart kita review Requiem -nya...
Jadi, jika ada ruang untuk mereview film ketiga ini, tentu adalah jalinan ceritanya. Yang mana, James Cameron menulis naskahnya bersama Rick Jaffa dan Amanda Silver.
Kembali tentang relate, di Avatar : Fire and Ash, ini bukan lagi inklusivitas keserakahan manusia yang hendak menambang Unobtanium di Pandora ataupun Amrita pada hewan Tulkun. Kekayaan ceritanya adalah pada bagaimana keluarga Sully menyikapi kematian Neteyam secara beragam, plus para anak yang akhirnya menunjukkan perkembangan kemampuan masing-masing.
Lo'ak bisa begini, Kiri ternyata secara luar biasa bisa melakukan hal yang belum pernah dilihat para Na'vi, dan Spider ternyata bisa begitu. Dan mungkin saja, James Cameron secara sengaja menyimpan kemampuan Tuk untuk sekuel selanjutnya yang desas-desusnya baru akan tayang 2029 mendatang.
Inilah yang bagi para orang tua, termasuk saya, sangat-sangat menikmati pertumbuhan anak-anak Sully. James Cameron mampu membuat saya merasakan masing-masing anak serasa anak saya sendiri yang sudah beranjak dewasa.
Dan ketika Lo'ak, Kiri, serta Spider mampu menunjukkan kemampuan mereka, saya merasa takjub sekaligus bangga. Narasi inilah yang memungkinkan Suzy Amis Cameron dikabarkan menangis tersedu selama empat jam kala menonton draft awal Avatar: Fire and Ash.
"Dia menangis selama empat jam. Dia terus berusaha menenangkan diri agar bisa memberi tahu saya reaksi spesifiknya, lalu dia menangis lagi. Akhirnya, saya berkata, 'Sayang, aku harus tidur. Maaf, kita bicarakan lain kali saja.'", ujar James Cameron.
"Dia yang menentukan Titanic, Avatar, dan Avatar 2. Jadi, saya memercayai hatinya."
Masih secara prima memerankan karakter utama Jake Sully di film ini, Sam Worthington menjalin chemistry yang apik bareng Zoe Saldana (Neytiri), Sigourney Weaver (Kiri), Britain Dalton (Lo'ak), Jack Champion (Spider), dan Trinity Jo-Li Bliss (Tuk) sebagai keluarganya.
Kate Winslet juga masih mendapatkan menit main yang cukup banyak dengan peran Ronal, Tsahik dari suku air, lengkap dengan suami dan juga kedua anaknya yang setia melindungi keluarga sang Toruk Makto.
Sebagai pihak antagonis, Avatar Kolonel Miles Quaritch yang diperankan Stephen Lang, mungkin adalah satu-satunya tokoh yang punya peran membingungkan di film ini. Ambisinya kurang jelas, apalagi ketika disandingkan dengan penarik perhatian utama, Varang (dipernakan Oona Chaplin).
Meski demikian, pengalaman menonton tanpa mengantuk yang saya alami selama tiga jam, adalah bukti bahwa meski terlalu banyak tokoh yang ada di dalam film ini, plus adanya paparan baru mengenai para hewan dan juga Eiwa, mampu diberikan proporsi yang pas oleh James Cameron.
Bravo!
Fire and Ash
Memasuki planet Pandora, jika Avatar (2009) memperkenalkan suku hutan Omatikaya asal Neytiri, lalu di Avatar: The Way of Water kita disuguhkan kesetiaan hidup suku air Metkayina, maka pada film yang rilis 17 Desember 2025 lalu ini, kita dibuat ngeri oleh suku Mangkwan (Ash People) yang berperan antagonis.
Langsung melanjutkan momen setelah kematian Neteyam di Avatar: The Way of Water, Lo'ak mengambil alih pembaca narasi dengan menjelaskan bahwa kedua orang tuanya menghadapi kehilangan sang kakak dengan cara berbeda. Neytiri dengan jalan Na'vi, sementara Jake Sully dengan jalan manusianya.
Kekosongan hati kedua orang tua itu, mampu diisi dengan semakin bersatunya Lo'ak, Kiri, Spider, dan Tuk sebagai generasi kedua Sully's. Mereka terlihat sangat kompak, menyuarakan tagline yang fenomenal di film sebelumnya "Sully's always stick together".
Masalah kecil timbul saat Spider mulai kehabisan persediaan sumber oksigen di maskernya. Neytiri yang semakin membenci Spider karena jadi alasan terbunuhnya Neteyam, belum bisa juga berdamai dengan asal muasalnya yang merupakan anak Miles Quaritch.
Jake Sully awalnya memberikan ide agar Spider bisa kembali sendirian ke Omatikaya bersama rombongan klan pedagang, tetapi anak-anaknya yang lain serempak melawan ide sang ayah. Mereka tak mau berpisah, "Sully's always stick together" .
Jake dan Neytiri akhirnya mengalah, dan semuanya berangkat bersama kembali ke Omatikaya, hendak bertemu kembali dengan suku asal yang sempat ditinggalkannya.
Tanpa diduga perjalanan mereka ini diganggu oleh suku Mangkwan yang memang berniat menjarah dan bersifat perusak. Sang Tsahik, yakni Varang, memimpin langsung invasi ini untuk mengambil sumber daya yang bisa didapat dari kapal para pedagang. Mereka tidak mengetahui ihwal keluarga Sully ada dalam rombongan.
Karena serangan ini, keluarga Sully jadi harus terpisah. Dan di momen kritis, muncul Quaritch yang mempunyai dendam pribadi terhadap Jake Sully.
Fire and Ash, digambarkan oleh James Cameron, bukan hanya menggambarkan ke-chaos-an yang ditimbulkan oleh suku Mangkwan.
"Fire merepresentasikan kebencian, kekerasan, trauma, dan mungkin penyalahgunaan kekuasaan. Ada banyak hal-hal bertema seperti itu," penjelasan James Cameron seperti diberitakan ScreenRant pada 2024.
"Kemudian apa arti dari ash? Dalam pikiran saya, itu merepresentasikan situasi setelah semua energi diberikan, apa itu rasa kehilangan dan menjalani kehidupan dengan yang sudah kamu lakukan."
Menjadi "hebat" dalam keseluruhan film ini, justru adalah ketika representasi ash yang digambarkan James Cameron lebih dulu digapai para anak-anak Sully's dibanding kedua orang tuanya. Kebersamaan merekalah yang bisa mendamaikan diri masing-masing dari kehilangan Neteyam.
Ruang Kritik dan Potensi Pengembangan Cerita
Kembali saya tegaskan, tidak ada yang berhak mengkritik visual dari Avatar: Fire and Ash ini. Mau berusaha membandingkan karya visual sang maestro dengan film sebelumnya pun, tidak apple to apple. Kecuali memang punya ekspektasi berlebihan tentang kekayaan dalam Pandora.
Sumpah deh, Visualnya sungguh sempurna, apalagi di perang kolosal pada satu jam terakhir.
Mungkin hanya satu yang membuat saya mengerutkan dahi, adalah pengembangan karakter dari Avatar Miles Quaritch. Ia memang dengan cerdik memanfaatkan suku Mangkwan untuk mengalahkan Jake Sully, tetapi ketika sudah mendapatkan buruannya, ia tak tahu harus berbuat apa.
Menggunakan simbolis "persidangan" terhadap Jake Sully sekalipun, masih tidak bisa mempertegas bahwa sebenarnya masalah antar keduanya adalah personal. Kolonel dan Kopral.
Namun setidaknya, ada yang menyala dari jiwa Avatar Quaritch, ketika Jake mengingatkan terus padanya bahwa ia kini adalah bagian dari Na'vi. Kisahnya bersama Varang, sang partner in crime, bisa menjadi landasan besar sekuel berikutnya.
Potensi pengembangan cerita lain, ada pada kehilangan besar yang dialami oleh suku Metkayina. Tidak ditunjukkan dengan jelas bagaimana reaksi sang kepala suku atas kehilangan ini.
Terekspos dan hancurnya markas pasukan Quaritch, disiratkan oleh James Cameron dalam momen zoom out Pandora pada akhir film, bukanlah merupakan akhir dari invasi manusia. Mungkin, masih ada beberapa lagi markas yang sama atau bahkan lebih besar, yang sudah berdiri di Pandora.
Lalu secara pribadi, saya mendalami cerita keluarga Sully ini sedikit mirip dengan keluarga Stark di Game of Thrones. Meski ada perbedaan mendasar dengan masih adanya kedua orang tua mereka, tongkat estafet perjuangan Na'vi secara tersirat sudah diserahkan kepada para anak.
Neteyam seperti Robb Stark, Lo'ak layaknya Sansa, Kiri pun sangat persis seperti Bran Stark. Bukan tidak mungkin, bahwa sosok yang akan mengakhiri Raja Akhir, atau Night King seperti di Game of Thrones, adalah Tuk yang cukup mirip dengan Arya Stark.
Well, mungkin masih empat tahun lagi penantian terhadap film yang kabarnya akan diakhiri di sekuel kelimanya ini. Dengan kemajuan teknologi yang makin pesat, tentu penonton berharap James Cameron bisa mempercepat proses produksi sehingga tak membutuhkan waktu penantian selama itu.
Bagi yang belum nonton Avatar: Fire and Ash, saya garansi tidak akan rugi mengeluarkan uang untuk nonton di bioskop. Mereka yang mengkritik film ini, jelas tidak relate dengan jalan ceritanya.
Btw, sebelumnya saya ingin menggunakan judul artikel "Yang Mengkritik Negatif Avatar: Fire and Ash, Adalah Penonton yang Tak Relate dengan Ceritanya"
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar