
Langkah Keluarga untuk Memastikan Keadilan
Keluarga dari Pratu Farkhan Syauqi Marpaung berencana melakukan langkah-langkah tertentu untuk memastikan keadilan atas kematian putranya. Salah satu tindakan yang akan diambil adalah membuka peti jenazah dan melakukan visum mandiri. Langkah ini dilakukan demi memastikan apakah dugaan penganiayaan oleh senior berpangkat kopral saat tugas di perbatasan Indonesia-Papua Nugini benar-benar terjadi.
Pihak keluarga juga akan menunggu kedatangan ambulans yang membawa jenazah Pratu Farkhan di exit Tol Kisaran sebelum dibawa ke rumah sakit. Hal ini bertujuan untuk melakukan pemeriksaan medis ulang guna melihat secara detail luka-luka yang dialami akibat dugaan kekerasan tersebut.
Proses Visum Mandiri
Ayah korban, Zakaria Marpaung, menyatakan bahwa rombongan keluarga akan menunggu kedatangan ambulans pembawa jenazah di pintu keluar Tol Kisaran. Tujuannya adalah untuk dialihkan sementara menuju fasilitas kesehatan terdekat untuk keperluan autopsi. Ia mengatakan:
"Kami ada rencana mau melakukan visum, kami di rumah ini sudah berencana akan menunggu di exit Tol Kisaran, Sei Renggas. Kemudian, kami meminta menuju ke rumah sakit umum Abdul Manan Simatupang."
Selain itu, Zakaria menegaskan keinginannya untuk membuka peti jenazah meskipun nantinya ada prosedur ketat dari pihak TNI yang mungkin membatasi hal tersebut. Bagi keluarga, melihat wajah almarhum untuk terakhir kalinya adalah hak emosional yang tidak bisa ditawar demi memastikan bahwa jenazah di dalam peti tersebut benar-benar adalah putra kebanggaannya.
"Kemudian yang kedua, aku akan buka sendiri peti itu. Kalaupun pihak TNI tidak mengizinkan, aku bermohon. Karena itu anakku. Wajar ayah, emak, adik, dan kakaknya untuk melihat itu dulu. Apakah benar itu Pratu Farkhan Syauqi Marpaung yang di dalam itu," ungkapnya dengan nada emosional.
Tuntutan Keadilan dan Transparansi
Pihak keluarga almarhum Pratu Farkhan Syauqi Marpaung menuntut keadilan dan transparansi penuh atas kematian anggota keluarga mereka yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh oknum senior. Ayah korban, Zakaria Marpaung, secara terbuka meminta kepada Panglima TNI Jenderal Agus Subianto dan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Maruli Simanjuntak untuk mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya.
Keluarga merasa ada kejanggalan dan berencana melakukan langkah hukum mandiri guna memastikan penyebab pasti kematian Pratu Farkhan sebelum jenazah dikebumikan di kampung halaman. Zakaria juga berharap, proses hukum di militer berjalan seadil-adilnya tanpa ada yang ditutup-tupi agar almarhum bisa pergi dengan tenang dan keluarga mendapatkan kepastian hukum atas tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab.
Di tengah duka yang mendalam, Zakaria tidak dapat menyembunyikan amarahnya terhadap sosok senior yang diduga menjadi penyebab hilangnya nyawa sang anak yang tengah mengabdi kepada negara.
"Kalau bisa memang di dalam peti itu ada Kopral kurang ajar itu, ku suruh mereka berdua, dua-dua mereka di dalam peti, biar berduel mereka berdua di dalam itu," pungkasnya menutup pernyataan terkait tuntutan keadilan bagi putranya.
Informasi Lengkap Tentang Pratu Farkhan Syauqi Marpaung
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung merupakan anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti Aceh. Bila melihat dari kepangkatannya, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung ini kemungkinan lulus Sekolah Calon Tamtama (Secaba) sekitar 2023-2024.
Adapun Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS) tempat Pratu Farkhan Syauqi Marpaung berdinas, merupakan satuan militer TNI AD di bawah Kodam Iskandar Muda (Kodam IM) wilayah Aceh.
Sementara Kisaran merupakan ibu kota Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara dan pusat pemerintahan, ekonomi, serta perdagangan di wilayah tersebut. Kawasan ini dikenal sebagai daerah permukiman dan pertanian, dengan aktivitas masyarakat yang didominasi sektor perdagangan, jasa, serta perkebunan, khususnya kelapa sawit dan karet.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar