Bakpia Tawangmangu: Oleh-Oleh Khas Lereng Lawu, Rasa Ikonik yang Menggugah Selera

Bakpia Tawangmangu: Oleh-Oleh Khas Lereng Lawu, Rasa Ikonik yang Menggugah Selera

Sejarah dan Keunikan Bakpia Tawangmangu

Bakpia Pathok mungkin sudah menjadi salah satu makanan khas yang dikenal oleh banyak orang, terutama di Yogyakarta. Namun, di balik popularitas tersebut, ada satu varian unik dari lereng Gunung Lawu yang mulai menarik perhatian wisatawan: Bakpia Tawangmangu. Cita rasa yang autentik dan berbeda membuat banyak orang penasaran dan akhirnya jatuh hati pada produk ini.

Jika bakpia pada umumnya identik dengan isian kacang hijau, maka Bakpia Tawangmangu justru menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Isinya terbuat dari pisang raja dan ubi cilawu. Kedua bahan ini merupakan hasil pertanian warga setempat yang memberikan pengalaman rasa yang lebih manis, lembut, dan beraroma khas.

Kreasi Kuliner dari Sosok Kreatif di Tawangmangu

Bakpia Tawangmangu lahir dari tangan kreatif Sukatno, sosok yang sudah lebih dulu dikenal sebagai pemilik Warung Makan Gunungmas, ikon kuliner ekstrem di Tawangmangu yang populer dengan menu olahan daging landaknya. Bagi pecinta kuliner unik, nama Sukatno bukanlah asing. Ia adalah salah satu pelopor kuliner ekstrem di Jawa Tengah, sekaligus wirausaha yang gemar menciptakan produk-produk otentik.

Menurut Sukatno, ide membuat bakpia bukan muncul karena ikut tren, tetapi justru karena ia enggan meniru sesuatu yang sudah umum. “Saya ini senang membuat sesuatu yang belum ada. Yang sudah ada itu banyak, tapi yang belum ada lebih banyak lagi. Nah, bakpia isi ubi cilawu dan pisang raja ini di sini kan belum ada,” katanya.

Keinginannya menciptakan identitas baru bagi kuliner Tawangmangu pun terjawab lewat kombinasi isian yang jarang ditemukan di tempat lain.

Dari Kebun Sendiri hingga Pasar Tawangmangu

Bahan baku bukan tanpa alasan. Pisang raja merupakan komoditas khas Tawangmangu, dan banyak dijumpai di pasar tradisional sekitar. Sementara itu, ubi cilawu sebenarnya varietas ubi cilembu dari Jawa Barat dan telah berhasil dibudidayakan di Tawangmangu setelah Sukatno mengikuti studi banding bersama LPM UNS di Bandung.

“Sepulang dari studi banding itu, ubi cilembu kami coba tanam di sini. Ternyata berkembang baik,” tuturnya.

Berkat kombinasi dua bahan lokal tersebut, Sukatno akhirnya menemukan formula bakpia yang berbeda dan punya ciri khas daerah. Untuk produksi, Sukatno melibatkan beberapa karyawan yang juga bekerja di warung makannya. Setiap bahan diproses dengan resep andalan, sehingga rasa manis alami pisang dan ubi tetap dominan tanpa tambahan pemanis berlebih.

Respons Pasar: Laris dalam Waktu Singkat

Bakpia Tawangmangu mendapat sambutan positif dari wisatawan dan warga lokal. Sukatno mengungkap, awal produksinya setiap pekan sekitar 200 dus bakpia keluar dari tempat usahanya. Satu dus berisi 16 potong bakpia yang dikemas rapi dan cocok dijadikan oleh-oleh. Sebagian dijual langsung di warung makan miliknya, sementara sisanya dititipkan ke toko-toko oleh-oleh hingga hotel-hotel di sekitar kawasan wisata Tawangmangu.

Pemasaran memang belum meluas, tetapi Sukatno optimis bakpia ini akan menjadi salah satu signature kuliner Tawangmangu, menemani jajaran produk kuliner lain yang ia kembangkan.

Melengkapi Deretan Kuliner Khas Tawangmangu

Bakpia Tawangmangu bukan satu-satunya inovasi kuliner dari Sukatno. Sebelumnya ia juga sukses memperkenalkan menu ekstrem sate landak yang sempat viral dan diliput berbagai media. Selain itu, ia juga meracik minuman tradisional bir plethok yang terbuat dari 12 jenis rempah pilihan.

Deretan kuliner tersebut memperkaya identitas wisata Tawangmangu yang tak hanya menawarkan pesona pegunungan, tetapi juga kreativitas kuliner lokal yang istimewa.

Dengan karakter rasa yang unik, bahan baku dari bumi Tawangmangu, dan cerita kreatif di balik pembuatannya, Bakpia Tawangmangu menjadi ikon oleh-oleh khas lereng Gunung Lawu.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan