Banjir Bandang Berulang di Batu Busuk Padang, Nenek 70 Tahun Trauma dan Pilih Mengungsi

Kehidupan Marnis, Nenek yang Harus Mengungsi Akibat Bencana

Seorang nenek bernama Marnis mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupannya sehari-hari akibat ancaman banjir bandang dan tanah longsor di kawasan Batu Busuk, Padang. Ia harus meninggalkan rumahnya untuk mencari perlindungan di posko pengungsian. Perjalanan menuju posko tersebut dilakukannya dengan berjalan kaki atau menumpang kendaraan masyarakat yang lewat.

Kecemasan terhadap kemungkinan banjir bandang susulan membuat Marnis takut untuk tinggal di rumahnya saat malam hari, apalagi kondisi tubuhnya sudah tua. Selain itu, ia masih merasa trauma akan tragedi longsor 14 tahun lalu yang sempat menghancurkan rumahnya.

Perjalanan Berat Menuju Posko Pengungsian

Pada hari Selasa (16/12/2025), awan hitam yang datang dari hulu aliran Sungai Batu Busuk mempercepat langkah Marnis menuju posko pengungsian di Mushola Al Barkah Rimbo Panjang, Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Sekitar pukul 16.03 WIB, ia mulai berjalan menuju posko sambil membawa tas kain berwarna merah.

Langkahnya pelan dan perlahan, melewati tanjakan bersudut 30 derajat sepanjang 700 meter. Jalur ini rutin ia lewati selama enam hari terakhir karena banjir bandang yang semakin parah di kawasan tersebut. Biasanya, ia baru pergi ke posko pada pukul 17.00 WIB, tetapi kali ini ia lebih cepat karena mendung yang mengisyaratkan hujan.

Marnis pergi ke posko pengungsian untuk tidur karena rasa cemas terhadap ancaman banjir bandang dan tanah longsor. Bencana ini sudah hampir dua pekan menghantam kawasan Batu Busuk, dari yang hanya menggerus dinding sungai hingga menghanyutkan rumah-rumah.

Trauma yang Masih Menyelimuti

Trauma akan tragedi longsor 14 tahun silam masih membekas dalam diri Marnis. Longsor tersebut sempat menimbun habis rumahnya, dan kini ia kembali tinggal di rumah yang dibangun ulang. Namun, kecemasan terhadap kemungkinan longsor kembali membuatnya takut untuk menghuni rumahnya di malam hari.

Anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyarankan Marnis untuk mengungsi sejak hari pertama bencana. Ia takut merepotkan keluarga jika air naik atau terjadi longsor. “Nanti anak saya dan warga kesulitan pula. Mending saya ke pengungsian,” ujarnya.

Perjalanan yang Melelahkan

Marnis sudah mengungsi sejak banjir bandang pertama melanda daerah tersebut pada Selasa (25/11/2025) di posko pengungsian SMPN 44 Kota Padang. Di posko pertama, ia pergi menggunakan kendaraan roda dua yang diantar oleh anaknya atau menumpang orang lain yang sedang melintas.

Anak-anak Marnis setiap harinya tidur di rumah tersebut, kecuali jika terjadi hujan. Ia memerintahkan anaknya untuk tidur di pengungsian jika hujan turun. Namun, akibat banjir bandang susulan yang semakin parah, posko pengungsian dialihkan ke tempat sekarang.

Akibatnya, Marnis harus menempuh jalan sekitar 10 menit setiap harinya ke atas dan 10 menit ke bawah. Syukur-syukur ada kendaraan lewat, ia bisa menumpang. Namun sejak lima hari terakhir, akses jalan putus akibat banjir bandang, sehingga langkahnya makin panjang.

Jalan yang putus disebabkan oleh banjir bandang yang menghancurkan badan jalan. Ia mengaku bahwa setiap pagi ia pergi ke rumah untuk memasak, karena nasi di posko pengungsian baru datang pada siang hari. Ia biasa memasak nasi dengan lauk seperti mie atau cabai merah giling dicampur minyak panas dan telur ayam.

Kondisi Saat Malam Hari

Marnis mengatakan bahwa malam hari menjadi waktu yang paling sulit baginya. Meski cuaca terlihat aman di siang hari, ia tetap waspada karena ancaman banjir bandang. Ia kembali ke posko pengungsian pada sore hari, membawa kain sarung, mukena, jaket, dan kain selimut dalam tas kain.

Di posko, ia tidak terlalu khawatir soal makanan karena selalu ada makanan yang diantarkan dari dapur umum. Dalam perjalanan panjang itu, napasnya masih teratur, meski ia melangkah dengan gontai. Sesekali ia menoleh ke kanan melihat aliran Sungai dan hamparan rumah yang sudah rata dengan tanah.

Harapan untuk Kembali Normal

Marnis berharap cuaca serupa ini segera berakhir, agar ia bisa kembali menjalankan aktivitas harian seperti biasa, yaitu ke ladang dan mencari kayu bakar. “Kalau saya berharapnya, cepat normal. Sudah capek pula seperti ini terus hampir satu bulan,” ujarnya.

Belum selesai Marnis menapaki pendakian itu, hujan sudah turun di Batu Busuk. Alat berat langsung menepi, tim gabungan bergegas pergi, dan para warga kembali berjalan keluar mengambil motornya yang diparkir di sekitar jembatan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan