Dampak Bencana Banjir Bandang di Desa Garoga
Salah satu kisah menyedihkan yang terjadi setelah banjir bandang mengguncang wilayah Sumatra bagian utara akibat hujan ekstrem dua pekan lalu berasal dari Desa Garoga, Tapanuli Selatan. Wilayah tersebut kini berubah menjadi hamparan lumpur, batu, dan sampah yang terdiri dari ribuan potongan serta batang kayu pohon. Warga setempat menyebutnya seperti tsunami yang meluluhkan desa seluas 995 ribu meter persegi yang berada di perbatasan antara Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah.
Bencana ini tidak hanya merusak infrastruktur tetapi juga menelan korban jiwa. Foto citra satelit yang beredar menunjukkan deforestasi di ekosistem Batang Toru, yang menyebut sejumlah perusahaan yang beroperasi di dalam hutan sebagai kontributor atas bencana banjir bandang dan tsunami sampah kayu yang terjadi. Salah satu perusahaan yang disebut adalah PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola tambang emas Martabe dengan izin usaha seluas 130.252 hektare. Dari keseluruhan luas konsesi yang dimilikinya, yang tersebar di wilayah-wilayah Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Tengah, Agincourt telah membuka 603,21 hektare hingga Oktober 2025.
Dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo pada Senin malam, 1 Desember 2025, Agincourt tidak menyangkal operasionalnya. Namun, perusahaan menyatakan bahwa lokasi banjir bandang di Desa Garoga berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga atau Aek Ngadol. Sementara itu, aktivitas tambang Agincourt berada di DAS yang berbeda, yakni Aek Pahu. "Pemantauan kami juga tidak menemukan material kayu di DAS Aek Pahu yang dapat dikaitkan dengan temuan di wilayah banjir," bunyi keterangan tersebut.

Area tambang dan pengolahan emas Martabe di Sibolga, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Dok. PT Agincourt Resources
Agincourt atau PTAR menyatakan mendukung penuh kajian komprehensif yang dilakukan pemerintah atas seluruh faktor penyebab bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang terjadi. Perusahaan siap bekerja sama secara transparan. Agincourt menunjuk daerah bencana itu di Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Selatan, dan Padangsidimpuan. "Kami menyampaikan duka cita mendalam kepada seluruh masyarakat yang terdampak bencana banjir dan longsor karena cuaca ekstrem."
Perusahaan juga berharap situasi segera terkendali dan proses pemulihan berlangsung cepat dan aman. Sembari dengan itu, PTAR telah menyalurkan berbagai bentuk bantuan darurat kepada warga terdampak, yang dirinci sebagai berikut:
- Posko dan layanan dasar: Mendirikan 4 posko penanggulangan bencana di Batu Hula, Sumuran, Sopo Daganak, dan Kantor Camat yang secara keseluruhan dapat menampung lebih dari 700 warga, dilengkapi layanan kesehatan, dapur umum, dan tenaga juru masak. Posko menampung penyintas dari Desa Garoga, Hutagodang, Batu Horing, dan Huta Raja.
- Logistik kebutuhan pokok: Menyalurkan pangan dan makanan siap saji, paket sembako, air mineral untuk mendukung kebutuhan dasar warga termasuk mengirimkan paket makanan untuk lokasi yang tidak terjangkau di Huta Raja.
- Sandang dan sanitasi: Menyediakan pakaian layak pakai, selimut, dan kebutuhan khusus untuk menjaga kenyamanan dan kebersihan pengungsi.
- Kesehatan: Menyediakan layanan kesehatan oleh tenaga medis dan menyalurkan obat-obatan di setiap posko.
- Evakuasi dan penyelamatan: Mengerahkan Emergency Response Team (ERT) lengkap dengan perahu karet untuk membantu evakuasi dan penanganan darurat.
- Pelayanan darurat bencana: Sebagai pusat call centre dan berkoordinasi dengan aparat terkait untuk merespons cepat korban bencana.
- Dukungan mobilitas: Mengerahkan helikopter untuk distribusi logistik ke lokasi yang sulit dijangkau serta mendukung mobilitas teknisi PLN guna percepatan pemulihan jaringan listrik.
- Pemulihan akses: Menurunkan ekskavator/backhoe loader untuk membantu pemerintah daerah membuka kembali akses jalan dan jembatan yang tertutup longsor.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar