Sejarah dan Kondisi Terkini Kabupaten Tamiang
Kabupaten Tamiang, yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera di bagian timur Provinsi Aceh, memiliki jejak sejarah yang panjang. Daerah ini menjadi salah satu kerajaan Islam tertua di Indonesia. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid III terbitan 2008 (Halaman 226), disebutkan bahwa Kerajaan Tamiang menggantikan Kerajaan Samudera Pasai yang ditaklukan oleh Majapahit pada abad ke-14. Sebelumnya, kerajaan ini diperintah oleh Raja Dinok, sebelum akhirnya ditaklukan oleh Samudera Pasai. Pemerintahan kemudian dipegang oleh seorang pembesar dari Samudera Pasai bernama Raja Muda Setia.
Kerajaan Tamiang menjadi negeri bawahan Kesultanan Aceh, namun tidak mendapatkan gelar Uleebalang, tetapi hanya raja. Meskipun memiliki sejarah yang kaya, kabupaten ini kini sedang menghadapi tantangan besar akibat bencana alam.
Bencana Banjir yang Menimpa Tamiang
Tamiang menjadi salah satu wilayah yang paling parah menderita kerusakan akibat banjir Sumatera. Relawan yang memberikan bantuan hingga yang bekerja di posko-posko menceritakan bahwa kondisi sangat memprihatinkan. Penyanyi Andien Aisyah dan rombongan relawan lainnya membagikan pengalaman mereka di akun Instagramnya pada sekitar 10-11 Desember 2025. Mereka menyebutkan bahwa dibutuhkan enam jam untuk bisa mengunjungi Desa Babo, di Kecamatan Bandar Pusaka. Sepanjang jalan desa-desa yang dilewati dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, tanpa listrik dan 518 kepala keluarga terdampak. Rumah-rumah dan sekolah hancur, sementara jalan berlumpur.
Tim mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang sudah tiba lebih dulu di sana pada 3 Desember 2025 juga melaporkan kondisi serupa. Dengan hanya tujuh mahasiswa, mereka mendirikan dapur umum dan menurut laman Umsu, penduduk menyatakan bahwa kelompok ini yang paling pertama datang. Laporan mereka membuat miris karena 90 persen rumah hancur, termasuk fasilitas umum, sekolah, dan tanpa listrik.
Bantuan dan Kondisi Wilayah yang Terisolir
Andien dan rombongan juga mengunjungi Desa Sekumur yang hanya bisa dicapai dengan perahu kayu dari warga. Kondisi rumah juga rata dengan tanah. Rombongan ini membawa makanan, generator untuk menyalakan listrik, serta starlink untuk internet. Andien dalam narasinya bercerita bahwa warga telah 13 hari tanpa listrik. Pada satu kesempatan, ia ikut menghibur anak-anak Aceh Tamiang dengan mengajak bernyanyi lagu "Tanah Air", yang sangat menyentuh.
Relawan dari Wanadri bernama H. Soma Suparsa mengungkapkan bahwa kerusakan di Aceh Tamiang sangat parah. Ketiadaan listrik membuat daerah yang dikunjungi seperti kota mati. Ia menjelaskan bahwa makanan sehari-hari masih kurang karena akses yang sulit, peralatan masak yang rusak bahkan hilang, serta minimnya air untuk mandi, masak, dan buang air besar.
Tim Wanadri bergerak sejak hari Rabu 2 Desember 2025 dengan 6 orang relawan. Mereka melakukan assessment mapping untuk sumber air, rumah sakit, masyarakat terdampak, kebutuhan air bersih, dan logistik lainnya.
Bantuan dari Pemerintah dan Laporan Resmi
Kawasan Tamiang terisolir akibat bencana. Gubernur Aceh Muzakir Manaf baru menemui wilayah tersebut pada Kamis 4 Desember 2025, membawa 30 ton sembako, termasuk air minum, beras, makanan instan, biskuit, telur, dan obat-obatan.
BBC pada 5 Desember 2025 melaporkan bahwa paling tidak sembilan hari bantuan tidak datang dan sepekan sejumlah kawasan tanpa dialiri listrik. Menurut cerita warga bernama Arif di Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru, situasi seperti itu membuat daerah tersebut mirip film zombie.
Laporan Resmi Pemerintah Aceh per 6 Desember 2025 mengatakan jumlah rumah yang rusak di Kabupaten Tamiang tercatat 2.262 rumah, fasilitas pendidikan 54 unit, 40 fasilitas kesehatan, perkantoran 32 unit, 33 rumah ibadah, 2 jembatan rusak, dan satu jembatan putus total. Sebanyak 262.087 jiwa mengungsi dari sekitar 310 ribu penduduk, artinya sekitar 80 persen dari populasi. Sementara sebanyak 57 orang meninggal dan 23 hilang. Banjir melanda semua kecamatan yang berjumlah 12.
Proses Pemulihan Pascabencana
Adanya dampak yang besar, yang saya bayangkan adalah pemulihan pascabencana. Tentu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Belum memulihkan kerusakan ekologis yang mengakibatkan banjir. BNPB saja, dikutip dari Kompas, mengakui perlu anggaran lebih dari Rp24 triliun untuk pemulihan pascabencana di seluruh Provinsi Aceh.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar