
Banjir Besar di Ciwandan, Cilegon Menimbulkan Trauma Mendalam
Banjir besar yang melanda Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, pada Jumat (2/1/2026), meninggalkan trauma mendalam bagi warga. Peristiwa tersebut dinilai sebagai banjir paling parah dalam beberapa tahun terakhir, dengan ketinggian air dan arus yang jauh lebih besar dibanding kejadian sebelumnya. Luapan air dengan ketinggian signifikan dan arus deras menggenangi hampir seluruh kawasan permukiman warga. Kondisi terparah terjadi di wilayah padat penduduk, khususnya di Kelurahan Kepuh, yang sebagian besar rumah warga terendam air.
Banjir dipicu oleh hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Ciwandan dan sekitarnya sejak pagi hari. Curah hujan yang tinggi menyebabkan saluran air tidak mampu menampung debit air, sehingga air meluap dengan cepat dan masuk ke rumah-rumah warga. Akibatnya, aktivitas masyarakat lumpuh total. Sejumlah warga terpaksa bertahan di dalam rumah sambil menunggu air surut. Sementara itu, sebagian lainnya berusaha menyelamatkan barang-barang berharga dengan memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi agar tidak rusak akibat terendam air.
Tak hanya merendam permukiman, banjir juga menutup akses jalan lingkungan. Kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas karena genangan air yang cukup dalam. Untuk sementara waktu, mobilitas warga hanya bisa dilakukan dengan menggunakan perahu. Salah seorang warga Lingkungan Kepuh, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Hayati Nufus, mengungkapkan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah selama ia tinggal di kawasan tersebut.
Menurutnya, meski wilayah tersebut dikenal sebagai daerah rawan banjir, rumahnya selama ini belum pernah terdampak parah seperti sekarang. “Selama ini memang daerah sini rawan banjir, tapi rumah ibu belum pernah kebanjiran sebesar ini,” ujar Nufus, Sabtu (3/1/2026). Ia menuturkan, banjir besar sebelumnya pernah terjadi sekitar tiga tahun lalu. Namun saat itu, air hanya menggenangi area depan rumah dan belum sampai masuk ke dalam bangunan.
“Tiga tahun lalu itu banjir juga besar, tapi cuma sampai depan pagar saja,” katanya. Pada banjir kali ini, ketinggian air meningkat drastis dan menggenangi hampir seluruh wilayah Kepuh. Air bahkan masuk ke dalam rumah warga hingga merendam perabotan serta peralatan dapur. Kondisi tersebut membuat warga panik dan khawatir terhadap keselamatan anggota keluarga, terutama anak-anak dan lansia. Sebagian warga memilih menyelamatkan diri ke lantai atas rumah atau ke tempat yang dianggap lebih aman.
“Ibu lihat dari atas itu parah banget, kaya lautan. Semua terendam. Di dapur rumah ibu, air sampai ketiaknya orang yang kerja di situ,” tuturnya. Selain ketinggian air, derasnya arus juga menambah kekhawatiran warga. Air yang mengalir kencang dinilai berbahaya karena berpotensi menyeret kendaraan maupun barang-barang berat.
Nufus juga menyoroti kondisi air yang naik dan turun secara tidak biasa. Menurutnya, fenomena tersebut menyerupai pasang surut air laut dan membuat warga semakin was-was. “Itu airnya kencang, di sudut pagar rumah ibu sampai ada lima motor numpuk di situ. Airnya juga aneh, kaya naik turun seperti air laut,” pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar