Bantu Korban Banjir, Mahasiswa Kota Langsa Lawan Keterisoliran di Aceh Tamiang

Bantu Korban Banjir, Mahasiswa Kota Langsa Lawan Keterisoliran di Aceh Tamiang

Aksi Kemanusiaan Mahasiswa di Wilayah Terdampak Banjir

Aliansi Mahasiswa Kota Langsa melakukan aksi kemanusiaan dengan menembus salah satu wilayah paling terdampak bencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, yakni Desa Tanjung Lipat 1, Kecamatan Bendahara. Puluhan mahasiswa ini menembus daerah terisolir yang terkena dampak banjir bandang dan longsor, pada Selasa (9/12/2025) lalu.

Mereka sengaja memilih desa ini karena masih minim akses bantuan logistik maupun medis pasca-bencana. Lokasi desa tersebut sangat sulit ditembus kendaraan, sehingga kebutuhan masyarakat tidak terpenuhi secara maksimal.

Rombongan aktivis kampus ini disambut oleh perangkat desa setempat dan masyarakat yang terlihat cukup gembira meskipun jauh dari perkotaan. Ketika tiba di sana, tidak hanya sekadar menyerahkan bantuan secara simbolis, para mahasiswa langsung bergerak mendirikan dapur umum untuk kebutuhan pangan mereka.

Selain itu, mahasiswa juga membuka layanan cek kesehatan gratis, bagi masyarakat yang mulai mengeluhkan berbagai penyakit akibat lingkungan yang kotor pasca-banjir. Di tengah puing dan sisa lumpur dibawa dampak banjir ini, Aliansi Mahasiswa Kota Langsa juga menghadirkan keceriaan bagi anak-anak melalui program traumatic healing.

Guna memastikan pendidikan tidak terhenti, mereka turut menginisiasi Sekolah Rakyat sebagai ruang belajar darurat. Berbagai kebutuhan mendesak disalurkan dalam aksi ini, mulai dari kebutuhan pokok seperti beras, telur, mie instan, roti, dan air mineral. Hingga kebutuhan spesifik perempuan dan bayi seperti pembalut, popok bayi, serta berbagai jenis obat-obatan.

Koordinator Aksi yang juga Presiden Mahasiswa Universitas Sains Cut Nyak Dhien (USCND), Mirza Maulana, menyuarakan kritik tajam atas kondisi menyedihkan yang masih dialami masyarakat terisolir ini. Dirinya menilai pemerintah terkesan lamban dan gagap dalam memetakan wilayah terdampak, terutama desa-desa yang memiliki akses geografis sulit dijangkau, seperti Tanjung Lipat 1, maupun desa pedalaman lainnya.

Mirza menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa di lokasi ini merupakan bentuk tamparan bagi birokrasi yang dianggap terlalu lama bertindak. Menurutnya, masyarakat tidak bisa menunggu prosedur yang berbelit di saat perut lapar dan kesehatan terancam. Ia mendesak pemerintah agar tidak hanya duduk di balik meja dan rapat berjam-jam, namun segera melakukan percepatan penanganan bencana hingga ke pelosok desa, bukan hanya di pusat kota saja.

Senada juga disampaikan Koordinator Lapangan, Arya Aji, yang menilai bahwa distribusi bantuan harus difokuskan pada kebutuhan yang benar-benar menyentuh akar masalah di lapangan. Aji memberikan apresiasi kepada pihak perangkat Desa Tanjung Lipat 1 yang telah kooperatif membantu jalannya aksi sosial tersebut.

Ia berharap bantuan obat-obatan dan logistik yang dibawa dapat meringankan beban warga, sebelum bantuan permanen dari pemerintah benar-benar tiba di lokasi. Aksi kemanusiaan ini ditutup dengan kegiatan mengajar di Sekolah Rakyat yang disambut antusias oleh anak-anak desa setempat.

Pihak desa berharap keberanian dan kepedulian mahasiswa ini dapat menjadi pemantik bagi pihak lainnya untuk segera mengulurkan tangannya ke wilayah-wilayah yang selama ini luput dari jangkauan bantuan pemerintah.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan