Banyak Banjir, Warga Tabing Banda Gadang Minta Penanganan Segera

Warga Terdampak Banjir di Kelurahan Tabing Banda Gadang Minta Tindakan Konkret dari Pemerintah

Warga terdampak banjir di Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), kembali mengeluhkan kondisi yang mereka alami. Banjir yang terjadi secara berulang sejak akhir November 2025 lalu membuat kehidupan warga menjadi tidak stabil dan penuh ketidakpastian.

Salah satu warga, Ibet (50), yang tinggal di Perumahan Banda Gadang Permai, menceritakan pengalamannya selama beberapa bulan terakhir. Menurutnya, rumahnya telah terendam banjir sebanyak lima kali sejak peristiwa banjir bandang pada 27 November 2025 lalu. Setiap kali hujan lebat mengguyur Kota Padang selama satu hingga dua jam, air langsung naik dan menyebabkan rumah mereka kembali terendam.

Pada saat banjir kembali terjadi pada Selasa (30/12/2025) sore, Ibet dan keluarganya sedang berada di rumah yang baru saja selesai dibersihkan dari lumpur sisa banjir sebelumnya. Mereka harus tidur hanya beralaskan tikar dan kasur bantuan karena kasur lama yang biasa digunakan sudah rusak akibat terendam air.

Bertahan di Atas Plafon Rumah

Ketika air kembali naik, Ibet dan keluarganya tidak sempat mengungsi ke tempat lebih tinggi. Mereka memilih untuk bertahan di atas plafon rumah. “Air datang terlalu cepat, jadi kami tidak sempat mengungsi. Kami naik ke plafon rumah, sebelumnya suami sudah membuat semacam lantai, jadi kami bisa duduk dan berbaring di sana,” jelasnya.

Ibet menjelaskan bahwa pilihan tersebut diambil karena tidak ada lagi tempat berlindung. Sejak masa tanggap darurat bencana berakhir, posko pengungsian yang sebelumnya digunakan warga telah dibongkar. Ia juga mengaku enggan menumpang ke rumah saudara karena keterbatasan tempat.

Hingga kini, Ibet dan sejumlah warga terdampak lainnya belum mendapatkan hunian sementara (huntara) meski banjir terus berulang. Menurutnya, hunian yang disediakan pemerintah sudah penuh. “Kalau ke rumah orang tua atau saudara, saya segan karena sudah penuh. Kemarin sempat ada tawaran huntara, tapi sampai sekarang belum jelas, katanya yang disediakan pemerintah sudah penuh,” ungkapnya.

Bantuan Uang Hunian Sementara Digunakan untuk Kebutuhan Lain

Meskipun Ibet mendapatkan bantuan uang hunian sementara sekitar Rp600 ribu per bulan, dana tersebut terpaksa dialihkan untuk kebutuhan lain, seperti memperbaiki sepeda motor yang rusak akibat terendam banjir. “Kami pakai uang itu untuk memperbaiki motor karena dipakai untuk bekerja. Jadi sementara kami bertahan saja tinggal di rumah,” tambahnya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Rini (44), warga lainnya di kawasan tersebut. Ia bersama keluarga terpaksa naik ke atap rumah saat banjir kembali melanda. “Kemarin kami naik ke atap, sudah tidak tahu lagi mau mengungsi ke mana. Setelah dievakuasi, kami sempat menginap di posko rumah warga semalam. Pagi harinya air surut, kami kembali ke rumah untuk bersih-bersih,” katanya.

Rini menyebut hingga saat ini belum ada kejelasan terkait hunian sementara yang dijanjikan. “Katanya ada di rusunawa, tapi ternyata penuh. Kami diminta bersabar dan menunggu,” ujarnya.

Bantuan Logistik Masih Cukup

Meski demikian, warga mengakui bantuan logistik seperti sembako masih mencukupi. Bantuan tersebut didapatkan baik melalui posko maupun diantar langsung oleh relawan. “Kalau bantuan sembako aman, masih ada. Kadang kalau tidak sempat ke posko, ada yang mengantarkan,” ujar Ibet.

Namun, warga berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan darurat, tetapi juga segera menangani akar permasalahan banjir agar kejadian serupa tidak terus berulang dan mengancam keselamatan serta kehidupan mereka.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan