Kondisi Warga Tapanuli Tengah Pasca Bencana Banjir dan Longsor
Pasca bencana banjir dan longsor yang terjadi di akhir November lalu, warga di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) masih menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Masalah krisis air bersih, listrik yang belum pulih sepenuhnya, serta kesulitan mendapatkan gas dan bahan pokok menjadi isu utama yang dihadapi masyarakat.
Kesulitan dalam Kehidupan Harian
Kondisi permukiman warga juga masih dalam keadaan hancur amburadul. Banyak rumah rusak atau bahkan hanyut akibat banjir. Selain itu, harga bahan sembako dan bahan pokok meningkat tajam, sementara stok sering kali kosong. Hal ini memperparah kesulitan ekonomi warga yang sedang berusaha bangkit dari dampak bencana.
Di Kota Pandan dan Sibolga, pasar-pasar tradisional mulai aktif kembali, meskipun tidak seperti biasanya. Di Pasar Kalangan Pandan, misalnya, banyak pemilik kios sudah kembali berdagang. Namun, jumlah pembeli jauh lebih sedikit dibanding sebelum bencana. Pedagang mengeluhkan bahwa beberapa jenis barang seperti ikan laut, daging sapi, dan sayuran langka, sementara bumbu giling dan cabai giling lebih diminati oleh masyarakat.

Menurut salah satu pedagang bumbu giling, Idar (43), saat ini kondisi listrik di Tapteng masih belum stabil. Oleh karena itu, warga lebih memilih membeli bumbu giling daripada cabai segar, karena bisa dimasak tanpa perlu menggunakan blender.

Harga Bahan Pokok yang Tinggi
Bawang merah dan cabai adalah dua bahan pokok yang harganya sangat tinggi. Bawang merah kini dijual dengan harga Rp 60 ribu per kilogram, sementara cabai sempat mencapai Rp 300 ribu per kilogram setelah bencana. Meski harga telah turun, tetap saja lebih mahal dari sebelum bencana. Sayuran juga sulit didapat, karena lahan pertanian di beberapa daerah hancur akibat banjir.

Selain itu, bawang putih juga naik harga dari Rp 30 ribu menjadi Rp 40 ribu per kilogram. Namun, menurut Idar, penjualan bumbu giling tetap ramai, meski dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding sebelum bencana.
Peran Pemerintah dalam Penanganan Bencana
Pemerintah setempat, termasuk Bupati Tapanuli Tengah, sedang melakukan sidak ke sejumlah pasar untuk memastikan harga bahan pokok sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Upaya ini dilakukan agar masyarakat tidak terbebani oleh kenaikan harga yang drastis.
Selain itu, pemerintah juga berupaya mempercepat perbaikan infrastruktur jalan agar bantuan dan pasokan bahan pokok dapat masuk lebih cepat ke wilayah Tapteng.
Kondisi Permukiman dan Pengungsi
Bencana banjir dan longsor menyebabkan kerusakan besar pada permukiman warga. Lebih dari 18 kabupaten atau kota di Sumatera Utara terdampak, termasuk Tapanuli Tengah, Sibolga, Langkat, Tapanuli Selatan, dan Humbang Hasundutan. Sebanyak 11.200 rumah rusak, sementara banyak infrastruktur publik seperti sekolah, jembatan, dan fasilitas kesehatan juga rusak.

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa jumlah korban jiwa meningkat menjadi 969 orang, dengan 252 orang hilang dan 894.501 orang mengungsi. Di Tapanuli Tengah sendiri, jumlah pengungsi mencapai 18.300 jiwa.
Upaya Rehabilitasi dan Bantuan
Pemerintah daerah bersama BNPB dan instansi terkait terus berkoordinasi untuk memastikan penyaluran bantuan yang efektif dan mempercepat proses rehabilitasi pasca-bencana. Dengan kondisi yang masih memprihatinkan, upaya pemerintah dan masyarakat terus berjalan demi pemulihan kehidupan warga di Tapanuli Tengah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar