Banyak yang Terisolasi di Tapanuli Tengah, Kapolres: Hanya Bisa Dijangkau Helikopter atau Hutan


MEDAN, aiotrade
Sejumlah wilayah di Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, masih mengalami isolasi pasca bencana banjir dan longsor yang terjadi pada Senin (24/11/2025). Kondisi ini membuat akses ke beberapa daerah menjadi sangat sulit.

Kapolres Tapteng, AKBP Wahyu Endrajaya menjelaskan bahwa lokasi-lokasi tersebut hanya bisa dicapai melalui helikopter. Jika melalui jalur darat, masyarakat harus berjalan kaki melewati hutan.

“Ada sekitar 3 sampai 5 wilayah yang benar-benar terisolasi. Tidak bisa dilalui kendaraan roda empat atau pun roda dua. Satu-satunya jalur yang mungkin hanya dengan berjalan kaki melewati hutan,” ujar Wahyu dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/12/2025).

Menurutnya, akses darat yang paling terganggu berada di kawasan Jalan Sigiring-giring, Kecamatan Tukka, Jalan Kapusin Kecamatan Badiri, serta wilayah Aek Bontar, Tapteng. Meski begitu, bantuan tetap disalurkan melalui helikopter.

“Bersama Polda Sumut kami telah menyiapkan titik-titik prioritas untuk penurunan logistik melalui udara. Apabila pendaratan tidak memungkinkan, petugas akan menjatuhkan bantuan dari ketinggian aman agar tidak merusak isi logistik,” katanya.

Selain itu, polisi juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta lembaga terkait untuk mempercepat jangkauan penanganan.

Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni menyampaikan bahwa hingga saat ini ada 11 Kecamatan dan 37 desa yang masih terisolir di Tapteng. Berikut rinciannya:

  • Kecamatan Sosor Godang: satu desa, yaitu Huta Tombak.
  • Kecamatan Sorkam: dua desa, yaitu Desa Teluk Robam dan Desa Bottot.
  • Kecamatan Kolang: empat desa, yaitu Desa Simarpinggan, Desa Hudopa Nauli, Desa Sipakpahi Aek Lobo, dan Desa Pargaringan.
  • Kecamatan Sitahuis: delapan desa, yaitu Kelurahan Nauli, Desa Rampa, Desa Simaninggir, Desa Naga Timbul, Desa Bonan Dolok, Desa Lapan Lombu, Desa Rampa, dan Desa Mardame.
  • Kecamatan Lumut: tiga desa, yaitu Desa Sialogo, Desa Lumut Nauli, dan Desa Aek Gambir.
  • Kecamatan Badiri: dua desa, yaitu Desa Sitardas, dan Desa Lubuk Angkolu.
  • Kecamatan Tukka: tujuh desa, yaitu Desa Aek Bottar, Huta Batuka, Desa Sigiring-giring, Kelurahan Huta Nabalon, Kelurahan Sipange, Saur Manggita, dan Desa S Kalangan Dua.
  • Kecamatan Pasaribu Tobing: lima desa, yaitu Po Simargarap, HKBP Simargarap, Huta Tombok, Sidaling dan Makmur.
  • Kecamatan Pinang Sori: satu desa, yaitu Desa Parjalihotan Baru.
  • Kecamatan Sibabangun: satu desa, yaitu Desa Muara Sibuntuon.
  • Kecamatan Tapian Nauli: tiga desa, yaitu Desa Bair, Desa Mela Dolok, dan Desa Aloban Bair.

Meski kondisi ini sangat sulit, bantuan tetap dikirim ke daerah terisolasi. Namun, tidak semua bantuan diterima langsung oleh masyarakat, melainkan melalui dapur umum yang dikelola oleh pihak Kecamatan.

“Memang belum bisa dilalui roda dua atau pun roda empat. Hanya bisa dilalui jalan kaki. Nah, di Adian Koting sendiri, bantuan disalurkan melalui helikopter dan jalan kaki oleh anggota TNI,” ucap Sri Wahyuni, Minggu (7/12/2025).

Sebelumnya, banjir dan longsor menerjang 18 kabupaten/kota di Sumatera Utara sejak Senin (24/11/2025). Data terbaru BPBD Sumut, Senin (8/12/2025) pukul 08.00, menunjukkan jumlah korban meninggal akibat musibah itu berjumlah 338 jiwa, 138 hilang, terluka 650 dan 42.686 mengungsi.

Lokasi terparah di Kabupaten Tapanuli Tengah. Korban meninggal tercatat 110 orang, hilang 94 orang, dan luka-luka 524 orang. Terparah kedua terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan. Korban meninggal 85 orang, 30 orang hilang, dan 69 orang luka-luka.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan