Banyumas Pilih Salawat dan Kuliner di Alun-alun, Tak Ada Kembang Api Tahun Baru

Suasana Malam Tahun Baru di Purwokerto yang Berbeda

Malam tahun baru di Purwokerto, ibukota Kabupaten Banyumas, berlangsung dengan suasana yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada pesta kembang api atau keramaian yang biasanya menggema di sekitar Alun-alun. Namun, malam tersebut justru menjadi momen yang penuh makna bagi masyarakat setempat.

Di Pendopo Si Panji, Purwokerto, sekitar pukul 20.30 WIB, lantunan ayat suci dan salawat terdengar menggema. Acara ini dihadiri oleh warga yang hadir dalam kesederhanaan, dengan mengenakan sarung dan pakaian serba putih. Mereka berkumpul untuk melakukan doa bersama sebagai bentuk empati atas bencana yang menimpa saudara-saudara di Sumatra Utara dan Aceh.

Suasana khidmat dan penuh harapan terasa di sana. Lantunan ayat suci Alquran mengalun pelan, disusul dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk keselamatan bangsa serta keteguhan masyarakat dalam menghadapi tantangan.

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menjelaskan bahwa kegiatan keagamaan seperti ini idealnya dilaksanakan minimal dua kali dalam setahun. Menurutnya, di tengah situasi nasional yang sedang "mumet" akibat kebijakan efisiensi di berbagai sektor, masyarakat membutuhkan ruang untuk menenangkan diri.

"Kalau tahun baru biasanya hura-hura, sekali-kali kita isi dengan mengaji dan berdoa," ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa perayaan Natal dan Tahun Baru 2026 di Banyumas berjalan kondusif, aman, dan terkendali. Atas situasi tersebut, Bupati menyampaikan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat dan aparat keamanan.

"Tantangan ke depan adalah bagaimana kita memperkuat kesatuan dan persatuan, melayani masyarakat dengan lebih ikhlas, agar Banyumas semakin produktif, aman, dan sejahtera," katanya.

Kehidupan di Alun-alun Purwokerto

Sementara itu, hanya sekitar 50 meter dari lokasi doa bersama, suasana berbeda terlihat di Alun-alun Purwokerto. Petugas parkir nampak sibuk mengatur kendaraan yang hilir mudik datang dan pergi di sekitar Alun-alun. Area yang hampir setiap malam pergantian tahun menjadi pusat keramaian itu mulai dipadati warga sejak malam.

Biasanya, atraksi kembang api dari pusat perbelanjaan di depan alun-alun menjadi daya tarik utama. Namun tahun ini, meski tanpa pesta kembang api, warga tetap berdatangan. Pedagang kaki lima tampak sibuk melayani pembeli, sementara sebagian pengunjung menggelar tikar di pinggir jalan.

Nyatanya, daya tarik alun-alun masih kuat sebagai ruang berkumpul warga. Tegar (17), salah seorang pengunjung, mengaku datang bersama keluarganya sekadar untuk mengisi libur sekolah. Ia dan keluarganya memilih menikmati suasana santai sambil jajan.

"Sama keluarga cari makan sama jalan-jalan saja, beli jagung bakar sama jajanan di alun-alun," kata Tegar.

Ia mengaku sempat menantikan kembang api. Namun karena tahun ini tidak ada, ia tak mempermasalahkannya.

"Awalnya nunggu kembang api, tapi katanya nggak ada ya nggak apa-apa. Paling beli jagung bakar," ujarnya sambil tersenyum.

Perayaan yang Berbeda, Makna yang Sama

Meskipun tidak ada pesta kembang api, malam tahun baru di Purwokerto tetap menjadi momen yang berkesan. Dengan doa bersama dan suasana yang tenang, warga berhasil menciptakan momen yang penuh makna. Di satu sisi, mereka merayakan pergantian tahun dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Di sisi lain, mereka juga menunjukkan kepedulian terhadap sesama yang sedang menghadapi kesulitan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan