Batasan Ramadan bagi Korban Banjir Sumatra


nurulamin.pro, JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa para korban banjir di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara akan tetap dapat melaksanakan ibadahnya dengan baik menjelang Ramadan.

Berdasarkan kalender Hijriah yang dirilis Kementerian Agama (Kemenag), awal puasa Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa berdasarkan data yang dikumpulkan, terdapat total sebanyak 1.137 rumah ibadah yang terdampak banjir di tiga provinsi tersebut. "Sebagian besar sudah kembali berfungsi," ujar Nasaruddin, seperti dilansir Minggu (4/1).

Contohnya di Aceh, dari 878 rumah ibadah yang terdampak, sebanyak 703 telah beroperasi kembali, sementara 175 lainnya masih dalam proses pemulihan. Di Sumatera Utara, 112 dari 137 rumah ibadah sudah digunakan kembali. Sementara itu, di Sumatera Barat hampir seluruhnya pulih, dengan 120 dari 122 rumah ibadah telah beroperasi.

Untuk memastikan umat Muslim bisa beribadah saat Ramadan nanti, Kemenag mulai menyalurkan berbagai bantuan sarana ibadah. Bantuan tersebut berupa karpet atau hambal, sajadah, mukena, serta ribuan mushaf Al-Qur’an. "Total mushaf yang disalurkan mencapai 9.000 unit di tiga provinsi," katanya.

Selain rumah ibadah, Kemenag juga memprioritaskan kesiapan kegiatan belajar mengajar (KBM) di lembaga pendidikan Islam. Tercatat sebanyak 500 madrasah terdampak bencana, dengan total 112.964 siswa dan lebih dari 12 ribu guru serta tenaga kependidikan.

Dari jumlah tersebut, 435 madrasah atau sekitar 87 persen dinyatakan siap melaksanakan KBM. Sementara itu, 65 madrasah lainnya masih belum siap karena mengalami kerusakan berat, kehilangan sarana pembelajaran, atau proses pembersihan yang belum selesai.

“Prinsip kami, layanan keagamaan dan pendidikan tidak boleh terhenti. Dalam kondisi darurat, kami siapkan kelas sementara, pembelajaran bergantian,” kata Nasaruddin.

Nasaruddin menegaskan bahwa pemulihan kegiatan sosial keagamaan menjadi perhatian utama Kemenag, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri. Menurutnya, rumah ibadah dan madrasah bukan hanya tempat ibadah dan belajar, tetapi juga pusat pemulihan sosial masyarakat pascabencana.

“Ramadan harus tetap menjadi ruang penguatan spiritual masyarakat, meskipun kita sedang menghadapi ujian bencana. Karena itu, negara hadir memastikan sarana ibadah dan pendidikan kembali berfungsi,” tegas dia.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan