
Wilayah Simalungun Masih Alami Kelangkaan BBM
Sejumlah wilayah di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara masih mengalami kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), meski ketersediaan BBM di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) telah tercukupi. Fenomena ini terjadi di wilayah Simalungun bagian atas yang berbatasan dengan Kabupaten Karo, mencakup lima kecamatan yang mayoritas penduduknya adalah petani.
Anggota DPRD Simalungun dari Daerah Pemilih (Dapil) I, Junita Veronica Munthe, menyampaikan bahwa warga yang terdampak kelangkaan BBM tersebut berada di Kecamatan Purba, Silimakuta, Pematang Silimahuta, dan Dolok Silau. Menurutnya, karena tidak ada SPBU di wilayah tersebut, masyarakat setempat selama ini hanya bergantung pada penjualan minyak eceran untuk kebutuhan kendaraan bermotor dan operasional mesin pertanian.
SPBU yang dekat hanya satu di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Sekarang kondisinya macet total karena masyarakat mulai panic buying, ujar Junita saat ditemui usai rapat di Balai Djabanten Damanik Kantor Bupati Simalungun, Pematang Raya, Jumat (12/12/2025) sore.
Menurutnya, pemicu kepanikan masyarakat akibat harga BBM eceran yang mencapai Rp.15.000 hingga Rp.20.000 per liter. Akibat harga tinggi, pengendara sepeda motor berbondong-bondong memadati SPBU tersebut.
Warga disana tidak hanya menggunakan BBM untuk kendaraan bermotor, tapi juga untuk kebutuhan mesin pertanian. Jadi, ada yang membeli BBM pakai mobil mengisi penuh lalu dijual kembali dengan harga tinggi, katanya.
Makanya banyak masyarakat yang ikut antri BBM. Kita meminta supaya harga BBM eceran tidak dinaikkan, karena warga disana mayoritas petani, tambahnya.
Penjelasan Pertamina Terkait Kelangkaan BBM di Simalungun
Dalam rapat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kantor Bupati Simalungun, Sales Manager PT. Pertamina Rayon III Medan, Vifki Leondo, menjelaskan bahwa ketersediaan BBM di SPBU saat ini telah kondusif. Untuk Simalungun, kata dia, penyaluran BBM ditambah 6% menjadi 106%, dan satu pekan terakhir penyaluran BBM mencapai 121%, dengan total penyaluran dari tanggal 6 hingga 11 Desember mencapai 120%.
Ia mengungkapkan, kelangkaan BBM yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Utara belakangan ini diakibatkan kapal yang gagal bersandar di pengeboran minyak tengah laut, sebelum bencana banjir dan longsor.
Tanggal 25 November 2025, kapal kami gagal bersandar di center point di tengah laut karena faktor cuaca sebelum terjadi bencana ini, kata Vifki.
Kapal baru dapat bersandar pada tanggal 27-28 November 2025, itu pun kapal kecil bantuan dan baru bisa bersandar ke pelabuhan pelabuhan, ujarnya menambahkan.
Vifki menjelaskan, suplai BBM untuk wilayah Simalungun disalurkan melalui Depot yang berkedudukan di Kota Pematangsiantar yang dikirim melalui Kereta Api dari Pelabuhan Belawan.
Memang di Belawan saat itu terjadi keterlambatan suplai, sehingga kami harus meminta suplai dari Dumai, Sibolga, dan Lhokseumawe, ucap dia.
Namun ternyata terjadi bencana yang mengakibatkan jalan di Kota Sibolga terputus. Selama ini Sibolga membackup 20 persen lebih suplai BBM untuk Sumatera Utara, terutama wilayah perbatasan di Kabupaten Toba, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan. Selebihnya, disuplai dari Pematangsiantar dan Belawan.
Karena terputusnya jalan di Tapanuli Tengah, sehingga penyaluran BBM dari Sibolga tidak bisa kemana-mana. Akibat terputusnya jalan itu mengakibatkan terjadinya kelangkaan BBM, kata Vifki.
Ia menambahkan, akibat terganggunya akses jalan, sejumlah mobil tangki terjebak di Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah, kini telah berhasil dievakuasi seluruhnya pada 6 Desember 2025.
Untuk BBM di Kabupaten Simalungun saat ini disuplai dari Pematangsiantar. Namun Depot Pematangsiantar ada batasnya, harus membantu wilayah Taput, ungkapnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar