
Malioboro yang Penuh, Tapi Becak Kayuh Kian Sepi
Malioboro kembali ramai. Libur Natal dan Tahun Baru yang berbarengan dengan libur sekolah membuat jantung wisata Kota Yogyakarta itu dipadati wisatawan dari berbagai daerah. Jalanan yang biasanya sepi kini penuh sesak dengan pengunjung yang berjalan-jalan sambil memotret atau mencari oleh-oleh. Trotoar yang biasanya hanya digunakan untuk berjalan kaki kini menjadi tempat bersantai bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana.
Namun, di tengah keramaian ini, ada cerita lain yang terjadi. Di sekitar Pasar Beringharjo hingga Nol Kilometer, para pengayuh becak kayuh lebih sering duduk menunggu daripada mengayuh. Mereka tampak kesulitan mendapatkan penumpang, meskipun situasi tersebut seharusnya memberi peluang besar bagi mereka.
Kardiwiyono, tukang becak yang sehari-hari mangkal di Malioboro, mengaku bahwa ramainya wisatawan tidak otomatis membawa rezeki. Menurutnya, banyak pelancong kini lebih memilih becak motor atau moda transportasi lain yang dianggap lebih cepat dan praktis. “Penumpang biasanya pilih bentor. Kalau becak kayuh seperti saya ini, ya cuma bisa nonton,” ujarnya lirih.
Soal penghasilan, ia tak lagi mematok angka. Bisa makan sehari saja sudah cukup disyukuri. Cerita serupa datang dari Kusnanto, pengayuh becak yang setiap hari menempuh puluhan kilometer dari Patalan, Bantul, menuju Malioboro. Dalam sehari, ia sering hanya mendapat satu atau dua penumpang. Bahkan, bukan hal aneh jika berangkat pagi dan baru menarik satu kali menjelang siang.
Menurut Kusnanto, sepinya becak kayuh tak lepas dari makin ketatnya persaingan transportasi. Transportasi online dengan tarif pasti membuat wisatawan enggan menawar. Belum lagi munculnya moda transportasi lain yang bergerak cepat dan agresif mencari penumpang.
Meski demikian, Kusnanto memilih tak mengeluh. Ia percaya Yogyakarta tetap hidup dengan semangat guyub. Rezeki, katanya, tak selalu datang dari satu pintu.
Berbeda dengan nasib becak kayuh, momentum libur Nataru justru dirasakan pengemudi becak motor. Sumadi, salah satunya, mengaku jumlah penumpang meningkat. Dalam sehari, ia bisa mengantar sekitar tujuh orang, naik dibanding hari biasa yang hanya empat penumpang. Meski begitu, kemacetan Malioboro saat liburan menjadi tantangan tersendiri.
Data di lapangan menunjukkan, pengayuh becak kayuh di kawasan Nol Kilometer rata-rata hanya mendapat maksimal tiga penumpang per hari. Omzet harian berkisar Rp60 ribu hingga Rp90 ribu, dengan tarif sekali jalan sekitar Rp20 ribu sampai Rp30 ribu. Angka itu sedikit naik dibanding hari biasa, tapi tetap jauh dari kata panen.
Para pengayuh juga menyoroti maraknya transportasi ilegal seperti bajaj yang beroperasi tanpa aplikasi. Kendaraan ini kerap langsung menerobos kerumunan dan menawarkan harga murah, membuat persaingan kian berat.
Di saat Malioboro berpesta wisata, becak kayuh justru berjalan di jalur sunyi. Sebuah potret kontras tentang perubahan zaman dan perjuangan moda transportasi tradisional bertahan di tengah gempuran modernitas.
Perubahan dalam Transportasi Wisata
Perubahan tren transportasi wisata di Malioboro menunjukkan bagaimana teknologi dan inovasi memengaruhi kehidupan para pengayuh becak kayuh. Beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan permintaan terhadap becak kayuh antara lain:
-
Peningkatan penggunaan transportasi online
Aplikasi transportasi online seperti Gojek dan Grab memberikan kepastian harga dan layanan yang lebih cepat. Ini membuat wisatawan lebih memilih moda transportasi ini daripada becak kayuh yang sering kali memerlukan negosiasi harga. -
Munculnya transportasi alternatif
Selain transportasi online, munculnya moda transportasi seperti bajaj yang beroperasi tanpa aplikasi turut memperparah persaingan. Bajaj sering kali menawarkan harga yang lebih murah dan langsung menerobos kerumunan untuk menarik penumpang. -
Perubahan preferensi wisatawan
Wisatawan kini lebih mengutamakan kepraktisan dan kecepatan. Mereka cenderung memilih transportasi yang dapat membawa mereka ke destinasi dengan cepat dan efisien.
Tantangan yang Dihadapi Pengayuh Becak Kayuh
Pengayuh becak kayuh menghadapi beberapa tantangan yang sulit diatasi. Salah satunya adalah kurangnya peningkatan pendapatan meskipun jumlah wisatawan meningkat. Mereka harus bersaing dengan transportasi modern yang lebih cepat dan murah. Selain itu, kondisi cuaca dan kemacetan juga memengaruhi kemampuan mereka untuk mendapatkan penumpang.
Bahkan, beberapa pengayuh becak kayuh mengaku merasa kehilangan arah karena tidak tahu bagaimana menghadapi perubahan ini. Namun, sebagian dari mereka tetap optimis dan berusaha menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.
Kesimpulan
Perubahan zaman dan perkembangan teknologi telah mengubah wajah transportasi di Malioboro. Becak kayuh yang dulu menjadi andalan wisatawan kini mulai terpinggirkan oleh transportasi modern. Namun, meskipun situasi ini menimbulkan tantangan, para pengayuh becak kayuh tetap berjuang untuk bertahan di tengah perubahan yang cepat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar