
Dampak Kesehatan Pasca Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera
Pasca bencana alam banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumbar, muncul berbagai dampak kesehatan bagi para korban. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga psikologis. Para korban masih berada di pengungsian, sementara rumah mereka telah rusak atau hancur akibat bencana tersebut.
Ahli Kesehatan Masyarakat dan Peneliti Keamanan Kesehatan Global, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa pascabencana selalu memiliki pola risiko kesehatan tertentu, terutama pada kelompok rentan seperti anak dan perempuan. Ia menekankan bahwa dampak psikologis akan terjadi, serta beberapa jenis penyakit yang muncul seiring dengan bencana itu terjadi.
Dampak Psikologis pada Korban Bencana
Dalam 1–2 hari pertama setelah bencana, gangguan psikologis sering muncul. Hal ini dipicu oleh lingkungan pengungsian yang padat, kehilangan rumah, atau bahkan kehilangan anggota keluarga. Dicky menjelaskan bahwa dampak psikologis terutama mengenai anak dan perempuan karena mereka mengalami stres akut maupun kronis akibat kehilangan rumah, harta, dan rasa aman.
Gejala yang sering muncul meliputi stres berat, kecemasan, panic attack. Pada anak, gejala seperti tantrum, ketakutan berulang, serta kesulitan tidur sering terjadi. Kondisi mental yang terganggu juga dapat menurunkan daya tahan tubuh akibat kurang tidur, makan tidak teratur, dan tekanan emosional yang berkepanjangan.
Penyakit Fisik yang Muncul Pasca Bencana
Dalam masa kritis 2–3 hari pertama, penyakit fisik mulai bermunculan. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit yang paling dominan, akibat kepadatan tenda pengungsian, ventilasi buruk, suhu dingin dan lembab, serta asap dapur darurat. ISPA biasanya meningkat dalam 48–72 jam pertama.
Setelah itu, penyakit pencernaan seperti diare dan gastroenteritis mulai meningkat karena air minum terkontaminasi, sanitasi rusak, dan keterbatasan kebersihan tangan. Masalah dermatologis seperti dermatitis, impetigo, dan infeksi kulit sekunder kerap muncul dalam beberapa hari berikutnya.
Wilayah dengan populasi tikus tinggi rawan terkena leptospirosis, sebuah penyakit yang bisa menyebabkan gagal organ jika tidak ditangani segera. Selain itu, penyakit berbasis air seperti hepatitis A, tipes, dan cacingan juga bisa muncul jika sanitasi tidak ditangani secara cepat.
Risiko Penyakit Kronis dan Luka Infeksi
Tidak hanya penyakit infeksi, penyintas bencana sering mengalami kambuhnya penyakit kronis seperti asma, hipertensi, dan diabetes. Hal ini terjadi karena akses terhadap obat rutin terputus. Luka yang tidak ditangani pun berisiko menjadi infeksi serius, bahkan tetanus.
“Luka infeksi bisa menjadi tetanus ketika tidak divaksinasi,” tegas Dicky.
Langkah Penanganan Darurat
Dalam dua hari pertama pascabencana, langkah mendesak harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa. Ini mencakup penyediaan air bersih, toilet dan sanitasi darurat, mengurangi kepadatan tenda, sistem kesehatan, serta prioritas pada anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis.
Fasilitas kesehatan darurat harus dilengkapi dengan oralit dan zinc (diare), antipiretik (demam), antibiotik dasar, antiseptik dan perban, obat sesak napas, serta vaksin tetanus.
Pemantauan Penyakit dan Dukungan Psikologis
Setelah respons dasar terpenuhi, pemerintah dan relawan harus melakukan pemantauan penyakit untuk mencegah wabah lebih besar seperti campak dan polio, terutama di daerah dengan imunisasi rendah. Dukungan psikologis sangat penting, terutama bagi anak-anak. Dicky menekankan perlunya ruang aman anak, aktivitas bermain, rutinitas harian, dan pendampingan psikososial ringan.
Prioritas berikutnya adalah mental health dan psychosocial support. Terutama untuk anak. Ia juga menyarankan pemberian imunisasi darurat seperti polio, campak, dan tetanus untuk mencegah penularan penyakit berbahaya.
Prioritas Utama dalam Penanganan Bencana
Dicky mengingatkan bahwa anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis adalah kelompok yang harus menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana. Penanganan yang terpadu meliputi kesehatan fisik, kesehatan mental, air bersih, sanitasi, dan pemulihan lingkungan dipandang penting untuk mencegah krisis kesehatan skala lebih besar di wilayah terdampak banjir dan longsor di Sumatera.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar