Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera Ungkap Kekurangan Koordinasi dan Pemanfaatan Data Ilmiah

Masalah Penanggulangan Bencana di Indonesia

Beberapa minggu terakhir, banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan adanya tantangan serius dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Beberapa masalah utama yang muncul antara lain adalah koordinasi lintas sektor yang lemah, respons yang lambat, serta penggunaan data ilmiah dan teknologi secara tidak terpadu.

Pada forum diskusi publik “Memperkuat Sinergi Penanggulangan Bencana di Indonesia” yang diselenggarakan ILUNI UI secara daring, Climate and Energy Manager Greenpeace Southeast Asia, Iqbal Damanik, mengkritik rendahnya pemanfaatan rekomendasi ilmiah. Menurutnya, para ilmuwan telah memberikan peringatan sejak lama, tetapi rekomendasi sains sering kali tidak diakomodasi sebelum bencana terjadi.

“Kita punya data dan prediksi, tetapi tanpa tindakan, semua itu hanya menjadi arsip,” ujar Iqbal. Ia menambahkan bahwa pada kenaikan suhu 1,5°C, Indonesia berpotensi menghadapi hingga 23.000 titik bencana per tahun. Lonjakan ini tampak delapan kali lipat dari kondisi saat ini.

Hambatan Birokrasi dalam Penanggulangan Bencana

Dari sisi operasional, Ketua Task Force Penanggulangan Bencana BRIN, Joko Widodo, menekankan hambatan klasik birokrasi. Menurutnya, masalah utama di Indonesia ada tiga, yaitu koordinasi, koordinasi, dan koordinasi. Ia menilai tanggap darurat harus berani mendobrak kebuntuan birokrasi agar dapat bergerak cepat.

“Masalah utama di Indonesia ada tiga, koordinasi, koordinasi, dan koordinasi. Tanggap darurat harus berani mendobrak kebuntuan birokrasi agar kita bisa bergerak cepat,” jelas dia. Ia mengingatkan bahwa duplikasi kerja antar lembaga membuat waktu penanganan semakin berlarut, seringkali satu lembaga bekerja, lembaga lain mulai lagi dari awal. Menurutnya hal ini harus dihentikan.

BRIN pun menegaskan komitmennya menyediakan akses data, pemetaan terdampak beresolusi tinggi, serta dukungan teknis bagi pemerintah pusat dan daerah. “Data dan analisis BRIN dapat langsung digunakan untuk rekonstruksi tanpa perlu memulai dari nol,” ujar Joko.

Pendekatan Kesehatan Masyarakat dalam Penanggulangan Bencana

Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) DKI Jakarta, Narila Mutia Nasir, menegaskan bahwa pendekatan kesehatan masyarakat harus menjadi pondasi utama pada setiap fase penanggulangan bencana.

“Penanggulangan bencana bukan hanya soal logistik dan infrastruktur. Ini persoalan kesehatan publik. Dan kesehatan publik hanya bisa terjaga jika semua sektor bergerak bersama, berbagi data, dan saling memperkuat,” ungkapnya.

ILUNI UI menekankan bahwa sinergi ini hanya bisa terjadi jika kolaborasi menjadi budaya, bukan hanya inisiatif insidental. Indonesia tak kekurangan ahli, teknologi, atau kapasitas, yang dibutuhkan hanya kemauan untuk bekerjasama dengan semangat kolaboratif antara pemerintah, akademisi, masyarakat umum, serta pendekatan holistik lantaran kompleksitas penanganan, mitigasi, rekonstruksi, hingga pencegahan bencana.

Harapan untuk Kolaborasi yang Lebih Baik

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan masukan yang positif bagi para pemangku kepentingan di Indonesia sehingga bangsa kita dapat secara kolektif beradaptasi dan saling bahu membahu menghadapi tantangan krisis iklim,” tukas Pramudya A. Oktavinanda, Ketua Umum ILUNI UI.

Dengan adanya kolaborasi yang lebih baik antara berbagai pihak, diharapkan penanggulangan bencana di Indonesia dapat menjadi lebih efektif dan efisien. Diperlukan kesadaran bersama bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga tertentu saja. Dengan demikian, upaya pencegahan dan mitigasi bencana dapat dilakukan secara lebih optimal.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan