Berapa Harga Pohon Natal di Papua? Ini Detailnya

Perayaan Natal di Mimika, Papua Tengah

Suasana perayaan Natal 25 Desember 2025 mulai terasa di Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Kota yang dikenal sebagai Kota Dolar ini mulai dipenuhi berbagai dekorasi dan aksesoris khas Natal. Warga mulai membeli kebutuhan untuk merayakan Natal, termasuk pohon Natal yang menjadi simbol utama setiap tahun.

Para pedagang musiman, toko, hingga pusat perbelanjaan telah menyiapkan berbagai produk yang cocok untuk merayakan Natal. Pohon Natal menjadi salah satu barang yang paling diminati. Berikut informasi lengkap mengenai pohon Natal yang dijual di Mimika, termasuk harga dan ukuran, serta sejarah singkat tradisi pohon Natal.

Harga Pohon Natal di Mimika

Harga pohon Natal di Mimika bervariasi tergantung ukuran dan bentuknya. Nirma (40), seorang pedagang musiman, menjelaskan bahwa pohon Natal berukuran 6 feet (1,8 meter) dijual seharga Rp 1,5 juta tanpa hiasan. Untuk ukuran yang lebih kecil, pohon 3 feet dibanderol Rp 350.000. Sementara itu, pohon Natal berukuran 7 feet (2,13 meter) dihargai Rp 1,8 juta.

Selain pohon Natal, berbagai aksesoris pelengkap juga tersedia. Lampu Natal dijual dengan harga Rp 100.000–150.000, tergantung model. Romi, pedagang lainnya, menyediakan bola Natal dengan harga Rp 35.000–75.000 per set. Lampu 10 meter dijual seharga Rp 80.000–100.000, sementara topi Santa ukuran besar dihargai Rp 35.000 dan ukuran kecil Rp 24.000.

Toko pernak-pernik Natal di Jalan Budi Utomo juga menawarkan berbagai dekorasi berukuran besar. Salah satunya adalah boneka Santa Claus berukuran 180 cm lengkap dengan topi, baju, dan tas seharga Rp 4,8 juta. Ada pula boneka salju setinggi 1,5 meter seharga Rp 6.399.000. Boneka kijang berukuran 1 meter dijual seharga Rp 2.699.000. Keberadaan dekorasi berskala besar ini menunjukkan bahwa minat masyarakat Mimika terhadap dekorasi mewah cukup tinggi.

Meski begitu, para pedagang mengakui bahwa penjualan masih cenderung sepi hingga akhir November. Menurut mereka, pembeli biasanya mulai memadati lapak dan toko pada awal Desember.

Sejarah Singkat Tradisi Pohon Natal

Tradisi pohon Natal yang kini dikenal luas ternyata berakar dari Jerman pada abad pertengahan. Masyarakat Jerman kala itu menampilkan pertunjukan teatrikal tentang Adam dan Hawa yang menampilkan “pohon surga”, yaitu pohon cemara yang dihiasi buah apel sebagai simbol Taman Eden. Setiap 24 Desember, warga Jerman memasang pohon ini di rumah mereka.

Pada masa selanjutnya, mereka menggantungkan wafer sebagai penanda penebusan Kristus, yang kemudian digantikan oleh kue-kue kecil dan lilin. Selain pohon, warga Jerman juga membuat piramida kayu berisi patung-patung Natal yang didekorasi dengan pepohonan hijau dan lilin. Pada abad ke-16, piramida tersebut akhirnya digabungkan dengan pohon cemara hingga membentuk pohon Natal modern yang dikenal saat ini.

Tradisi ini kemudian menyebar melalui komunitas Lutheran pada abad ke-18 sebelum akhirnya diadopsi oleh negara-negara Eropa lainnya. Bahkan, kebiasaan menghias pohon besar di dalam rumah baru populer di Inggris setelah diperkenalkan dan dipopulerkan oleh Pangeran Albert, suami Ratu Victoria.

Tradisi pohon Natal berkembang pesat pada abad ke-19, terutama saat Ratu Victoria dan Pangeran Albert menjadikan pohon Natal sebagai bagian penting perayaan keluarga kerajaan. Pohon Natal saat itu dihiasi mainan, permen, lilin, hingga kado-kado kecil yang digantung rapi. Seiring meningkatnya minat, publik Inggris mulai mengadopsi dekorasi pohon Natal sebagai tradisi keluarga.

Norwegia turut berperan menyebarkan tradisi ini dengan rutin mengirimkan pohon cemara besar ke London sejak 1947 sebagai bentuk terima kasih atas bantuan Inggris dalam Perang Dunia II. Sementara itu, Amerika Utara sudah mengenal pohon Natal lebih dulu sejak kedatangan pemukim Jerman pada abad ke-17, meski baru menjadi populer pada abad ke-19. Tradisi serupa juga menyebar ke Austria, Swiss, Polandia, dan Belanda.

Di Asia, pohon Natal diperkenalkan melalui misionaris Barat pada abad ke-19 dan 20, termasuk ke China dan Jepang. Mereka menggunakan dekorasi berbahan kertas dengan desain rumit. Meskipun pohon Natal modern bermula dari Jerman, penggunaan pohon cemara, karangan bunga (wreath) dan rangkaian bunga (garland) sebagai simbol kehidupan kekal merupakan kebiasaan orang Mesir kuno, China, dan Ibrani dulu kala.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan