
nurulamin.proSebuah video yang viral di media sosial belum lama ini menyoroti kondisi rangka atap rumah dari baja ringan yang ternyata sudah mengalami kerusakan parah hingga keropos.
Video tersebut diunggah oleh pengguna akun Instagram @yeannahajj*** pada Minggu (28/12/2025), yang merekam sekaligus menjelaskan bagaimana material baja ringan sebagai penopang atap terlihat rapuh dan tergerus padahal baru beberapa tahun digunakan.
Pengunggah pun mempertanyakan penyebab kerusakan, apakah karena paparan air, pengaruh semen, atau faktor lain.
Unggahan itu memantik perdebatan di kalangan warganet, yang saling mempertanyakan daya tahan baja ringan sebagai material konstruksi.
Sejumlah komentar muncul, mulai dari rasa penasaran terhadap merek baja ringan hingga perbandingan dengan kayu, yang dinilai mampu bertahan puluhan tahun.
"Itu merek apa baja ringan yang dipakai," tulis akun @yogi***.
"Brarti masih awet pakai kayu dong, sampai puluhan tahun," komentar @nicomoxe***.
Lantas, bagaimana pandangan arsitek mengenai fenomena baja ringan yang keropos?
Korosi jadi biang kerok
Arsitek Ariko Andikabina menjelaskan, penyebab utama baja ringan keropos adalah proses korosi atau oksidasi.
Itu adalah reaksi logam dengan udara dan kelembaban yang memicu karat dan lama-kelamaan menggerogoti struktur baja.
“Baja bisa keropos karena proses korosi oksidasi atau karat. Karena itu penting mengetahui jenis baja ringan yang digunakan, apakah zinc alum atau dilapisi galvanis,” ujar Ariko saat diwawancarai nurulamin.pro, Minggu (11/1/2026).
Jenis lapisan pelindung sangat memengaruhi ketahanan baja ringan, terutama di lingkungan tertentu.
Baja ringan berlapis galvanis lebih tahan terhadap korosi, terutama di wilayah ekstrem atau pesisir dengan kelembaban tinggi dan kadar garam tinggi.
Selain material, faktor eksternal lain seperti udara lembap, air hujan mengandung zat asam, lingkungan pesisir, hingga kualitas pemasangan turut mempercepat proses keropos jika tidak diantisipasi sejak awal.
Baja ringan seharusnya tahan sampai 20 tahun
Soal usia pakai, Ariko menegaskan baja ringan memiliki daya tahan panjang jika direncanakan dan digunakan sesuai standar teknis.
Dalam kondisi ideal, konstruksi baja ringan dapat bertahan hingga puluhan tahun.
“Idealnya baja ringan bisa bertahan lebih dari 15 sampai 20 tahun, selama menggunakan bahan yang sesuai kondisi geografis, teknik sambungan tepat, serta ukuran dan spesifikasi sesuai rencana beban,” jelasnya.
Kesalahan perencanaan sering menjadi penyebab kerusakan. Baja ringan tidak dirancang menerima beban tambahan secara mendadak tanpa perhitungan matang.
“Konstruksi baja ringan harus direncanakan seksama. Tidak bisa tiba-tiba diberi beban terpusat, misalnya menambah lampu gantung atau meletakkan pemanas air di atap,” ujarnya.
Jika tambahan beban memang diperlukan, perhitungannya harus dilakukan sejak awal desain agar struktur tetap aman dan awet.
Ariko pun menuturkan pengalamannya menangani bangunan dengan konstruksi baja ringan berusia lebih dari dua dekade yang masih berfungsi optimal.
“Saya pernah menggunakan atap baja ringan yang sudah berumur lebih dari 20 tahun, dan kondisinya masih baik, selama perencanaan dilakukan dengan benar,” pungkasnya.
Dengan pemilihan material tepat, perencanaan matang, serta penggunaan sesuai fungsi, baja ringan tetap menjadi solusi konstruksi yang kuat, awet, dan ekonomis untuk jangka panjang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar