Berkontribusi sebelum mati, menjadikan hidup lebih berarti

Ketika saya mulai belajar tentang grafologi (ilmu analisis tulisan tangan untuk memahami kepribadian seseorang), saya berangkat dari semangat untuk berkontribusi. Ya, berkontribusi kepada masyarakat yang membutuhkan analisis tentang kepribadian mereka. Inilah sebentuk kontribusi yang ingin saya jalani pada sisa hidup ini.

Jika Tuhan masih mengizinkan, semoga kelak setelah benar-benar mahir, saya bisa mengamalkan ilmu itu dengan baik sebagai seorang grafolog. Saya melihat, peluang di bidang yang satu ini cukup besar dan belum banyak yang menekuninya.

Semangat Berkontribusi

Mari kita mulai dengan semangat berkontribusi. Apa yang bisa kita berikan kepada sesama dan kehidupan ini? Inilah pertanyaan yang mengingatkan kita untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dan kehidupan pada umumnya. Kata para bijak, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Cara agar kita bisa bermanfaat adalah dengan berkontribusi sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Setiap orang memiliki cara dan pilihannya sendiri. Ada yang berkontribusi di bidang kesehatan, olahraga, pendidikan, bantuan saat bencana, dan lainnya. Apapun bentuk dan pilihannya, tidak masalah. Yang penting, kita bisa berguna bagi sesama dan bagi kehidupan ini.

Saya ingin menulis apa yang saya selama ini saya coba berikan kepada orang lain, tanpa bermaksud menyombongkan diri atau sok sudah banyak berbuat kebaikan. Sama sekali tidak! Namun, setidaknya inilah hal-hal kecil dan sederhana yang bisa saya lakukan untuk mengisi hidup di masa yang merayap senja agar tak menjadi individu hanya berdiam diri menunggu dijemput pemilik kehidupan.

Pertama, mengajar di perguruan tinggi.

Sejak 9 tahun lalu saya terjun di dunia pendidikan tinggi, setahun setelah menyelesaikan pendidikan doktor. Memang belum begitu lama, karena sebelumnya saya berkarier di birokrasi pemerintahan. Kemudian, saya memutuskan untuk meneruskan pengabdian di dunia pendidikan karena dorongan hati.

Pada dasarnya saya gemar belajar. Di samping itu, saya juga suka berbagi apa yang saya ketahui kepada orang lain, termasuk pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki. Saya suka mengajar. Motivasi internal untuk menjadi staf pengajar demikian kuat sejak saya masih di birokrasi hingga pada akhirnya saya benar-benar terjun ke dalamnya dan menikmati prosesnya.

Saya mengajar sejumlah mata kuliah di bidang ilmu manajemen dan ekonomi. Misalnya, mata kuliah perilaku organisasi, budaya organisasi, perilaku konsumen, komunikasi bisnis, etika dalam bisnis, manajemen SDM, pelatihan dan pengembangan SDM, dan masih beberapa lagi. Homebase saya di S1, tapi sekali waktu juga diminta pimpinan untuk ikut mengajar di S2 dan S3.

Dengan mengajar saya belajar. Artinya, untuk menjadi pengajar diperlukan penguasaan pengetahuan yang cukup mendalam di bidang ilmu yang saya geluti. Oleh karena itu, mau tak mau, saya mesti belajar dan belajar. Ya, belajar melalui buku-buku, hasil penelitian, dan sumber belajar lainnya.

Saya juga belajar dari para dosen lain yang memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang yang tidak saya pahami. Selain itu, saya juga belajar dari para mahasiswa, karena saya menyadari seorang dosen belum tentu lebih banyak tahu tentang hal-hal tertentu dibandingkan dengan mahasiswanya. Jadi, saya selalu siap belajar dan belajar dari berbagai sumber.

Dengan mengajar, saya merasa turut berkontribusi di dunia pendidikan tinggi kendati belum banyak yang bisa saya lakukan. Yang penting, bagaimana bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi generasi penerus bangsa ini.

Dan, dalam dunia pendidikan, saya yakin dengan ungkapan ini:  "Kita hanya bisa mengajarkan siapa kita sebenarnya." Silakan pembaca yang menelaah ungkapan singkat ini.

Kedua, berlatih dan melatih olahraga.

Bidang kedua yang memberi kesempatan berkontribusi adalah  bidang olahraga, khususnya olahraga beladiri Shorinji Kempo yang sudah saya tekuni selama 30 tahun.

Di olahraga ini saya banyak berlatih secara rutin dan dilatih oleh para sensei senior baik di daerah maupun di tingkat nasional. Saya bersama kawan-kawan seperguruan acapkali nglurug ke Jakarta untuk latihan barsama, baik latihan yang disebut dengan gashuku nasional, south east asia study session, maupun international study session. Kami berkumpul dan berlatih bersama dengan para pelatih dari seluruh Indonesia, bahkan sesekali ada yang dari negara lain.

Selain berlatih, saya dan pelatih lainnya juga melatih. Ini, lagi-lagi, menjadi ruang berkontribusi: memberi manfaat bagi orang lain. Di dojo (tempat latihan), ada banyak kenshi (anggota Shorinji Kempo) yang mengikuti dan berlatih beladiri asal Jepang ini. Mulai dari yang masih anak-anak hingga orang dewasa. Yang paling dominan adalah anak-anak SD, SMP, dan SMA/K.

Belajar beladiri Shorinji Kempo tidak hanya melatih tentang bagaimana cara memukul, menandang, menangkis, melipat, mengunci, dan membanting sebagaimana materi kurikulum.  Kepada para kenshi, kami para pelatih juga berupaya keras membentuk mental mereka agar menjadi baik. Jadi, tidak hanya fisik dan teknik yang dilatih, bahkan juga menata mental dan rohani mereka juga dibentuk. Sebab, tanpa keseimbangan keduanya -- teknik dan mental, akan sangat berbahaya.

Ada semboyan di Shorinji Kempo yang isinya begini: "Kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan, kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman."  Selain itu, ada juga filosofi ini: "Taklukkan dirimu sendiri sebelum menaklukkan orang lain." Semuanya berorientasi pada upaya untuk membentuk manusia yang berguna bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.

Filosofi itulah yang membuat kami di perguruan menjadi yakin seyakin-yakinnya bahwa jalan yang kami tempuh ini adalah pilihan yang baik dan bermanfaat. Perguruan tempat pilihan kami untuk menggembleng diri sekaligus berbagi kepada orang lain, terutama kepada generasi muda bangsa.

Ketiga, menulis artikel di media.

Karena menulis merupakan passion, maka tidak akan saya tinggalkan selagi bisa. Sejak lama saya sudah merasa senang menulis, bahkan sering lupa waktu ketika suntuk menulis. Menulis memberikan ruang bagi saya untuk menuangkan gagasan yang bisa dinikmati oleh masyarakat pembaca.

Pada dasarnya, saya sangat mencintai dunia tulis-menulis. Jika tidak menulis, terasa ada sesuatu yang kurang. Tatkala, misalnya, saya tak kunjung menulis di nurulamin.prokarena sejumlah kegiatan, maka saya diserbu rasa rindu untuk kembali menulis.

Saya belajar menulis di nurulamin.prohingga kini dan berharap ini tetap berlanjut. Selain di nurulamin.pro, saya juga menulis sesekali di kompas.com, di detik.com, selain di beberapa media online. Di kampus, saya bersama teman-teman menulis jurnal ilmiah di samping menulis buku.

Dengan menulis, kita semua -- para penulis di nurulamin.pro, bisa berkontribusi terhadap masyarakat pembaca dengan mengunggah pengalaman, pengetahuan, dan cerita. Teman-teman kompasianer tentu juga merasakan betapa nurulamin.prosudah menghadirkan ruang yang luas untuk berkontribusi kepada masyarakat. Menyenangkan, bukan?

Keempat, belajar dan berkontribusi di bidang grafologi.

Sebagaimana sudah pernah saya tulis dalam artikel sebelumnya, saya kini sedang mempelajari grafologi, sebuah ilmu untuk memahami karakter atau kepribadian individu melalui tulisan tangan (handwriting).

Nah, dengan belajar dan nantinya menguasai ilmu grafologi ini, saya berharap bisa berkontribusi bagi orang lain. tidak melulu untuk tujuan mendapatkan uang, melainkan terutama untuk membantu masyarakat memahami siapa dirinya sesuai dengan analisis tulisan tangan mereka.

Di sinilah ruang untuk berkontribusi yang baru sedang terbuka. Sebelumnya, saya sama sekali tak mengenal apa itu grafologi. Tetapi, karena rasa penasaran terhadap tulisan tangan beberapa  mahasiswa yang saya kaitkan dengan perilaku keseharian mereka, saya lalu berusaha mencari pengetahuan apa yang bisa menguak kaitan keduanya. Dan, saya temukan ilmu grafologi untuk memahami semua itu.

Mengetahui saya mulai menekuni dunia grafologi, banyak sahabat dekat yang memberi dukungan. Mereka bahkan mendorong saya untuk lebih serius mendalami ilmu yang satu ini, tidak sekadar tahu di permukaaan atau sebagian melainkan benar-benar menguasainya secara mendalam.

Ada juga sahabat-sahabat yang seketika menyodorkan tulisan tangan dan meminta saya menganalisis. Saya hanya tersenyum dan mencoba memahami makna dari tulisan tangan mereka. Menariknya, ketika saya memberikan komentar terhadap kepribadian dengan mengamati tulisan tangan mereka, nyaris semuanya mengangguk dan berucap "Ya benar Pak, benar sekali." Lalu, saya tersenyum dan sesekali tertawa sampai terkekeh-kekeh. 

(I Ketut Suweca, 12 Janusari 2026).

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan