Biografi KH As'ad Syamsul Arifin: Tokoh Situbondo

Sejarah dan Peran KH As'ad Syamsul Arifin dalam Perjalanan NU

Di ujung timur Pulau Jawa, khususnya di wilayah Situbondo, Jawa Timur, sejarah sering kali dihidupkan oleh sosok-sosok yang memiliki peran penting dalam dunia keagamaan dan kebangsaan. Salah satu tokoh yang masih dikenang hingga saat ini adalah KH As'ad Syamsul Arifin. Ia bukan hanya pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia serta perjalanan panjang organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Lahir di Tanah Suci dan Kembali ke Tanah Air

KH As'ad lahir di Kota Makkah pada tahun 1897 Masehi. Ia adalah putra dari KH R. Syamsul Arifin (yang juga dikenal sebagai Raden Ibrahim) dan Nyai Siti Maimunah. Kedua orangtuanya sedang menjalani ibadah haji ketika ia lahir. Setelah kelahirannya, mereka memutuskan untuk tinggal di Makkah selama empat tahun agar sang bayi cukup kuat untuk kembali ke tanah air. Pada tahun 1901, saat usianya menginjak empat tahun, keluarga tersebut akhirnya pulang ke kampung halaman mereka di Desa Kembang Kuning, Pamekasan, Madura.

Nama "As'ad" yang diberikan kepada Kiai As'ad memiliki makna mendalam. Konon, nama tersebut terinspirasi dari mimpi yang dialami KH R. Syamsul Arifin ketika istrinya sedang mengandung. Dalam mimpinya, beliau melihat istri tercintanya melahirkan bayi dengan tubuh berbulu tebal seperti singa, dan di pundaknya tertera tulisan Arab "Asad", yang artinya "Singa". Nama tersebut dianggap sebagai pertanda baik, sehingga dipilih sebagai nama putranya.

Pendirian Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah

KH R. Syamsul Arifin, ayah dari Kiai As'ad, merupakan pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah yang berlokasi di Situbondo. Berdasarkan riwayat, pada tahun 1908 Masehi, ia melakukan pembukaan lahan hutan di kawasan Asembagus, Situbondo, tepatnya di Desa Sukorejo. Area hutan ini kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang besar. Seiring waktu, masyarakat mulai menetap di sekitar pesantren, sehingga wilayah tersebut menjadi semakin ramai dan berkembang.

Setelah pesantren resmi berdiri dan berkembang, kepemimpinan dan pengelolaan pesantren diturunkan kepada Kiai As'ad. Ia pun menjadi pengasuh utama pondok tersebut, yang hingga kini masih berdiri sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur.

Silsilah Keluarga yang Mulia

Kiai As'ad memiliki silsilah keluarga yang sangat mulia. Ia merupakan keturunan dua tokoh besar dalam Wali Sanga, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Ampel. Dari pihak ayahnya, KH R. Syamsul Arifin, ia mewarisi darah Sunan Kudus, sedangkan dari pihak ibunya, Nyai Siti Maimunah, ia memiliki garis keturunan Sunan Ampel. Kedua garis silsilah ini bersatu dalam diri Syekh Maulana Ibrahim Asmoro.

Silsilah keturunan Kiai As'ad dapat ditelusuri hingga ke Syekh Maulana Malik Asmoro, yang memiliki lima istri. Istri-istri ini dinikahi secara bertahap, bukan dalam satu kali pernikahan. Istri pertamanya adalah Tuhfa, putri dari KH Abdul Majid, Banyuanyar, Pamekasan. Mereka menikah pada tahun 1938, tetapi pernikahan ini hanya berlangsung dua tahun. Mereka dikaruniai seorang anak yang meninggal saat kecil.

Setelah itu, Kiai As'ad menikah lagi dengan Zubaidah, yang memberinya sembilan anak. Dari pernikahan ini, dua anak meninggal saat kecil. Ia kemudian menikah lagi dengan Zainab, dari Desa Mimbaan, Situbondo, yang memberinya seorang putra bernama Moh. Kholil. Selanjutnya, Kiai As'ad menikah dengan santrinya, Khoiriyah, yang memberinya seorang putra bernama Abdurrahman, namun sayangnya meninggal saat masih kecil. Istri kelima Kiai As'ad adalah Junaidah, berasal dari Besuki, Situbondo. Namun, dari pernikahan ini, ia tidak dikaruniai keturunan.

Penghargaan dan Warisan

Kiai As'ad wafat pada tanggal 4 Agustus 1990 di Situbondo dalam usia 93 tahun. Saat itu, ia menjabat sebagai Dewan Penasihat (Musytasar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pada masa wafatnya, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah dipimpin oleh cucu keturunannya, KH Achmad Azaim Ibrahimy.

Atas jasa-jasa dan perjuangannya selama hidup, pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menobatkan Kiai As'ad sebagai Pahlawan Nasional. Penganugerahan tanda jasa dan tanda kehormatan Bintang Mahaputra berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 91/TK/Tahun 2016 tanggal 3 November 2016.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan