BMKG: 81 Persen Wilayah Indonesia Masuki Musim Hujan Januari 2026, Tak Ada Provinsi Alami Kekeringan

JAKARTA, nurulamin.pro — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan pada awal Januari 2026. Berdasarkan pemantauan terbaru hingga pekan pertama Januari, sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia atau setara 566 ZOM sudah berada dalam periode musim hujan.

Kondisi ini menandai berakhirnya dominasi musim kemarau di banyak wilayah Tanah Air, sekaligus menunjukkan bahwa dinamika iklim nasional bergerak sesuai pola musiman. 

BMKG juga menegaskan bahwa tidak ada satu pun provinsi di Indonesia yang mengalami hari tanpa hujan lebih dari satu bulan hingga awal Januari 2026.

Mayoritas Wilayah Sudah Diguyur Hujan

Dalam keterangan di akun Instagram @infobmkg, Sabtu (3/1/2026), BMKG menjelaskan bahwa musim hujan saat ini telah meluas di berbagai pulau besar Indonesia. 

Wilayah yang telah masuk musim hujan mencakup sebagian besar Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.

Di Pulau Sumatera, musim hujan meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, serta Lampung. 

Sementara di Pulau Jawa, hujan telah menjadi pola dominan di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Kondisi serupa juga terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. 

Di kawasan Sulawesi, musim hujan terpantau berlangsung di Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, serta Gorontalo.

Adapun di wilayah timur Indonesia, musim hujan mencakup Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, hingga Papua Barat Daya.

BMKG menilai meluasnya musim hujan ini sebagai indikator bahwa sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki fase puncak musim basah, meskipun intensitas dan karakter hujan dapat berbeda antarwilayah.

Tidak Ada Kekeringan Lebih dari Sebulan

Salah satu poin penting dalam laporan BMKG adalah tidak ditemukannya provinsi yang mengalami hari tanpa hujan lebih dari 30 hari. 

Kondisi ini berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, ketika sejumlah wilayah sempat mengalami kekeringan meteorologis berkepanjangan akibat pengaruh anomali iklim global.

Meski demikian, BMKG mencatat masih terdapat wilayah tertentu yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH), meskipun dalam kategori terbatas. 

Hingga awal Januari 2026, kategori HTH menengah tercatat terjadi di Cenrana, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dengan durasi 25 hari tanpa hujan.

BMKG menjelaskan bahwa kategori menengah tersebut masih berada dalam batas yang relatif terkendali dan belum menunjukkan indikasi kekeringan ekstrem.

Namun, kondisi ini tetap menjadi perhatian dalam pemantauan iklim secara berkelanjutan.

Masuknya sebagian besar wilayah Indonesia ke musim hujan membawa implikasi penting bagi berbagai sektor, mulai dari pertanian, transportasi, hingga aktivitas masyarakat sehari-hari. 

Di satu sisi, curah hujan yang cukup dapat membantu ketersediaan air dan mendukung sektor pertanian.

Namun di sisi lain, hujan dengan intensitas tinggi juga berpotensi menimbulkan dampak turunan seperti genangan, banjir, dan tanah longsor di wilayah rawan.

BMKG mengingatkan bahwa meskipun secara umum Indonesia telah berada dalam musim hujan, distribusi hujan tidak selalu merata. 

Beberapa daerah dapat mengalami hujan lebat dalam waktu singkat, sementara daerah lain mengalami hujan ringan atau bersifat episodik.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak hanya berpatokan pada status musim, tetapi juga memperhatikan prakiraan cuaca harian dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.

BMKG mengajak masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim secara berkala melalui kanal resmi, baik situs web, media sosial, maupun aplikasi informasi cuaca. 

Langkah ini dinilai penting agar aktivitas harian, perjalanan, serta perencanaan kegiatan dapat dilakukan secara lebih aman dan terukur.

Dengan dominasi musim hujan di awal 2026, kesiapsiagaan dan literasi cuaca menjadi kunci untuk meminimalkan risiko dan memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan lancar. 

BMKG memastikan akan terus melakukan pemantauan dan pembaruan informasi iklim guna mendukung keselamatan dan perencanaan publik. 

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan