Penjelasan BMKG Mengenai Bencana Banjir dan Longsor di Wilayah Sumatera
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, memberikan penjelasan mengapa bencana banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh menyebabkan banyak korban meskipun BMKG telah memberi peringatan dini sejak 8 hari sebelumnya.
Tidak Siap Menghadapi Siklon Tropis
Teuku menjelaskan bahwa Indonesia sejak awal tidak merasa rawan terhadap siklon tropis atau tropical cyclone. Hal ini karena siklon tropis biasanya terjadi di negara-negara lain seperti Filipina, Jepang, Hong Kong, dan Taiwan. Sehingga, negara-negara tersebut lebih siap menghadapi bencana yang datang.
"Kenapa kesiapsiagaannya masih belum optimal? Ini karena kita tumbuh dengan keyakinan bahwa Indonesia bukan daerah yang rawan terhadap siklon. Biasanya siklon terjadi di daerah-daerah di atas 5 derajat Lintang Utara atau Selatan," ujar Teuku saat berbicara di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
Ia menambahkan bahwa bahkan di atas utaranya Papua, sering terbentuk bibit siklon yang bergerak melintasi Filipina dan berhenti di Laut Cina Selatan. Peristiwa ini terjadi lebih dari 10 kali setahun, sehingga negara-negara tersebut lebih siap menghadapi ancaman tersebut.
Indonesia Belum Siap Menghadapi Bencana Besar
Menurut Teuku, Indonesia tidak siap menghadapi siklon tropis karena kejadian ini bukanlah hal yang lazim. Dengan demikian, ketika ada bencana dengan eskalasi besar akibat siklon tropis, Indonesia belum sepenuhnya siap.
"Kita tidak sering menghadapi siklon tropis karena kita berada di bawah 5 derajat Lintang Utara atau Selatan. Ini kejadian akibat anomali cuaca dan atmosfer, sehingga terjadilah siklon. Oleh karena itu, kita secara prinsip belum begitu siap menghadapi bencana dengan eskalasi sebesar ini," papar Teuku.
Mitigasi Pemerintah Terhadap Bencana Hidrometeorologi
Meski demikian, Teuku menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan banyak mitigasi jika berkaitan dengan bencana hidrometeorologi. Ia memastikan bahwa pemerintah tetap bersiaga ketika BMKG memberikan informasi tentang siklon tropis.
"Ketika diberi informasi soal siklon, persiapannya cukup banyak. Kami menyiapkan semua personel di daerah. Drainase-drainase mulai dibersihkan agar siap alirkan air, kemudian semua bersiaga. Masyarakat juga disiapkan bahan makanan agar bisa bertahan lebih lama ketika terjadi isolasi," tambahnya.
Peringatan Dini Diberikan 8 Hari Sebelum Bencana
Teuku menyampaikan bahwa pihaknya sudah memberi peringatan dini mengenai cuaca ekstrem di Sumatera Utara sejak 8 hari sebelum bencana terjadi. Untuk kawasan Aceh dan Sumatera Barat, BMKG memberi peringatan sejak 4 hari sebelum bencana.
Hal ini disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Teuku menjelaskan bahwa BMKG pusat telah memberi wewenang kepada Kepala Balai Besar BMKG Wilayah I untuk menyampaikan peringatan dini.
"Ini adalah peringatannya. Beberapa kepala daerah langsung memberikan respons positif dengan mengingatkan warganya melalui berbagai kanal. Kami sampaikan ke Forkopimda, provinsi, BPBD, dan semua kami update setiap 2 hari bahwa akan terjadi cuaca ekstrem di tiga wilayah ini," imbuhnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar