BMKG Umumkan Anggaran Besar Modifikasi Cuaca: Rp 300 Juta per Penerbangan

BMKG Umumkan Anggaran Besar Modifikasi Cuaca: Rp 300 Juta per Penerbangan

Anggaran Besar untuk Operasi Modifikasi Cuaca

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathan mengungkapkan besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Menurutnya, biaya satu kali penerbangan pesawat dapat menembus lebih dari Rp 300 juta, tergantung jenis pesawat yang digunakan.

“Biayanya tidak kecil. Untuk satu kali penerbangan saja bisa lebih dari Rp 300 juta. Karena itu, perlu diprioritaskan daerah mana yang paling membutuhkan operasi modifikasi cuaca,” ujar Faisal dalam rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga di Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2025).

Modifikasi cuaca terus digencarkan pemerintah untuk mereduksi potensi hujan ekstrem serta membantu memperbaiki kualitas udara. Upaya ini dilakukan melalui kerja sama antara BMKG, TNI Angkatan Udara, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Faisal menegaskan, efektivitas operasi sangat bergantung pada kondisi atmosfer di lapangan, sehingga penentuan wilayah prioritas harus melalui pengamatan dan kajian yang matang.

“Dalam kondisi darurat, darurat bencana itu pembiayaan dari BNPB, tapi BMKG itu me-supervisi pelaksanaan operasi modifikasi cuaca tersebut,” ujar Faisal.

Mahalnya biaya modifikasi cuaca ini tidak menutup kemungkinan bagi daerah-daerah yang punya anggaran. “Tidak menutup kemungkinan bagi daerah-daerah yang memiliki kemampuan secara finansial untuk dapat mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca ini karena biayanya cukup mahal,” tuturnya.

Faisal mengingatkan ihwal cuaca bulan Desember hingga Januari perlu diantisipasi sebab akan muncul siklon tropis di wilayah selatan Indonesia.

Apa Itu Modifikasi Cuaca?

Menurut studi bertajuk Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca sebagai Upaya Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi di Indonesia yang dilakukan oleh Magdalena Sidauruk, dkk., modifikasi cuaca adalah usaha manusia untuk memengaruhi proses alami di atmosfer dengan tujuan meningkatkan atau mengurangi intensitas curah hujan.

Modifikasi cuaca dilakukan dengan menyebarkan bahan tertentu ke dalam awan menggunakan pesawat terbang. Zat yang digunakan dapat berupa garam, perak iodida, atau bahan higroskopis lainnya yang berfungsi untuk merangsang pembentukan hujan. Modifikasi cuaca biasanya dilakukan BMKG setelah adanya penetapan status siaga darurat oleh pihak berwenang, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau Kepala Daerah.

Pelaksanaan modifikasi cuaca didasarkan pada analisis musim hujan dan kemarau, data curah hujan, serta langkah antisipatif dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Manfaat Modifikasi Cuaca

Beberapa manfaat yang didapat dari modifikasi cuaca, antara lain:

  • Menambah curah hujan: Modifikasi cuaca dapat mengatasi kekeringan dan meningkatkan ketersediaan air di daerah yang membutuhkannya.
  • Mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla): Membantu mencegah serta mengendalikan kebakaran dengan meningkatkan kelembapan udara dan tanah.
  • Mendukung sektor pertanian: Membantu petani dengan menyediakan curah hujan yang cukup untuk tanaman, terutama di musim kemarau.
  • Mengurangi cuaca ekstrem: Dalam hal ini, modifikasi cuaca dilakukan untuk mengurangi dampak badai atau hujan deras yang berpotensi menyebabkan banjir.

Cara Melakukan Modifikasi Cuaca

Secara umum, modifikasi cuaca dilakukan dengan melakukan penyemaian atau menyebarkan bahan higroskopis seperti garam dan perak iodida ke awan. Ada dua metode yang biasanya digunakan untuk menyebarkannya, yaitu:

  1. Menggunakan Metode Dinamis
    Metode dinamis dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang dan dikenal sebagai mekanisme proses lompatan. Pada metode ini, penyemaian dilakukan dengan cara menyebarkan bahan-bahan higroskopis di sekitar awan saat pesawat beroperasi di udara.

  2. Menggunakan Metode Statis
    Metode statis memanfaatkan sistem Ground Base Generator (GBG) dan disebut sebagai mekanisme persaingan (competition mechanism). Metode GBG dilakukan dengan menempatkan tiang tinggi yang berisi bahan higrokopis di daerah pegunungan, sehingga bahan tersebut dapat memodifikasi awan-awan orografik.

Meskipun berbeda cara pelaksanaannya, kedua metode ini memiliki tujuan yang sama, yaitu melepaskan bahan higroskopik ke dalam awan. Bahan higroskopik berfungsi sebagai inti kondensasi, yang berperan untuk meningkatkan efisiensi proses tumbukan dan penggabungan antara butiran uap air di atmosfer.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan