Penjelasan BNPB Mengenai Pembangunan Tenda untuk Pengungsi di Aceh Tamiang
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan penjelasan terkait berita yang beredar mengenai pembangunan tenda bagi pengungsi di Kabupaten Aceh Tamiang. Pernyataan ini dilakukan sebagai klarifikasi atas narasi yang sempat muncul di sejumlah media.
BNPB menjelaskan bahwa distribusi logistik berupa tenda sudah dimulai sejak akses jalur darat dari Kota Medan menuju Kabupaten Aceh Tamiang mulai terbuka pada Sabtu, 6 Desember 2025. Dalam proses tersebut, ada dua jenis tenda yang dibangun, yaitu tenda pleton (TP) dan tenda keluarga (TK). Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam satu minggu terakhir, BNPB telah mengirimkan sekitar 30 TP dan 1.000 TK. Sebanyak 8 TP dan 664 TK sudah ditempatkan sejak Rabu, 9 Desember 2025.
"Untuk mendirikan TP dan TK juga membutuhkan waktu untuk penyiapan lokasi dan pemasangannya," ujar Abdul Muhari dalam keterangan tertulisnya. Selain itu, tim BNPB di lapangan terus berupaya membangun tenda sepanjang hari agar warga yang terdampak bisa mendapatkan tempat yang lebih layak.
Keberadaan Tenda untuk Kebutuhan Pengungsi
Abdul menegaskan bahwa pendirian tenda pleton dan tenda keluarga dilakukan dalam rangka memberikan tempat bernaung yang lebih baik bagi warga terdampak. "Pendirian tenda itu akan terus dilakukan hingga menjangkau seluruh warga yang saat ini masih mengungsi, terwadahi," katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa BNPB terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat untuk mengoptimalkan pelayanan kepada warga yang terdampak bencana.

Kondisi Warga di Tenda Pengungsian
Kondisi Aceh Tamiang porak-poranda sejak diterjang banjir bandang pada 26 November 2025. Data dari Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Aceh Tamiang menunjukkan, banjir bandang menerjang 216 desa di 12 kecamatan. Artinya, seluruh kawasan Aceh Tamiang terdampak banjir.
Dalam data tersebut disebutkan, 58 orang meninggal dunia. Sebanyak 209.460 orang dari 59.220 Kepala keluarga menjadi penyintas di pengungsian. Banjir juga merusak berbagai fasilitas umum seperti perkantoran, sekolah, rumah sakit hingga Puskesmas yang lumpuh total.
Para penyintas sudah mulai membersihkan rumahnya dari lumpur. Sebagian masih bertahan di tenda pengungsian. Kini tenda-tenda itu sudah berjajar di atas jembatan. Para penyintas belum tahu kapan akan meninggalkan pengungsian lantaran rumah mereka mayoritas sudah hilang tersapu banjir.
Semula, kata Gabriel, mereka mendapat informasi satu kepala keluarga mendapat satu tenda. Namun belakangan, kebanyakan satu tenda diisi dua sampai tiga keluarga. Mereka harus berbagi ruang dengan keluarga lain.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Aceh Tamiang
Presiden RI Prabowo Subianto kembali datang ke Aceh untuk ketiga kalinya pada Jumat (12/12). Prabowo kembali setelah kunjungan luar negeri ke Pakistan dan Rusia. "Bapak Presiden telah selesai melaksanakan kunjungan di Pakistan dan Rusia. Dari Moskow hari ini (Jumat), Presiden Prabowo bertolak ke tanah air dan akan langsung mengunjungi Aceh ketiga kalinya, kemudian dilanjutkan ke Sumatra Utara dan Sumatra barat," kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Kali ini, Prabowo untuk pertama kalinya datang ke Aceh Tamiang, salah satu kabupaten yang terkena paling parah dihantam banjir bandang dan longsor pada 26 November 2025 lalu. Tiba di Kualanamu pukul 03.00 WIB pagi, Prabowo kemudian terbang dengan helikopter menuju Lapangan Bola Aceh Tamiang pada 08.20 WIB. Dia juga mengunjungi Posko Pengungsian di Jembatan Sungai Tamiang. Ini merupakan posko pengungsian terbesar. Kemudian Prabowo kembali naik helikopter ke Aceh Tengah untuk meninjau Posko Pengungsian Takengon.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar