BPBD Bogor Catat 1.826 Bencana, Angin Kencang Terbanyak

BPBD Bogor Catat 1.826 Bencana, Angin Kencang Terbanyak

Tingkat Kerawanan Bencana di Kabupaten Bogor Tahun 2025

Selama tahun 2025, wilayah Kabupaten Bogor menghadapi tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Data resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa berbagai kejadian bencana terjadi silih berganti hampir di seluruh wilayah, menimbulkan dampak yang tidak sedikit bagi masyarakat.

Dalam kurun waktu Januari hingga Desember 2025, jumlah total kejadian bencana yang tercatat mencapai ribuan kasus, dengan korban jiwa yang juga tidak dapat diabaikan. BPBD Kabupaten Bogor melalui hasil kaji cepat mencatat bahwa selama satu tahun penuh terdapat 1.826 kejadian bencana. Dari seluruh peristiwa tersebut, lima orang dilaporkan meninggal dunia akibat dampak langsung bencana alam maupun non-alam.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, M Adam Hamdani, menyampaikan bahwa data tersebut merupakan hasil rekapitulasi resmi yang dihimpun selama tahun 2025. “Rekapitulasi taksiran dampak kejadian bencana hasil kaji cepat periode Januari sampai Desember 2025 mencatat total 1.826 kejadian bencana, dengan korban meninggal dunia sebanyak lima orang,” ujar Adam saat memberikan keterangan pada Jumat, 2 Januari 2026.

Daftar Bencana di Kabupaten Bogor Sepanjang Tahun 2025

Jika ditinjau berdasarkan jenis kejadiannya, bencana angin kencang menjadi peristiwa yang paling sering terjadi di Kabupaten Bogor sepanjang tahun lalu. Jumlahnya mencapai 919 kejadian, atau hampir setengah dari total bencana yang tercatat. Kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Bogor diduga menjadi faktor utama maraknya bencana angin kencang tersebut, yang kerap menyebabkan kerusakan rumah, fasilitas umum, serta infrastruktur lainnya.

Selain angin kencang, bencana tanah longsor juga mendominasi daftar kejadian. BPBD mencatat terdapat 587 peristiwa longsor yang tersebar di berbagai kecamatan. Tingginya curah hujan, kondisi geografis yang berbukit, serta kepadatan permukiman di wilayah rawan diduga berkontribusi terhadap tingginya angka longsor di Kabupaten Bogor.

“Untuk kejadian banjir, selama 2025 tercatat sebanyak 163 kejadian,” jelas Adam. Banjir umumnya terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi, ditambah dengan sistem drainase yang belum optimal di sejumlah wilayah. Beberapa kawasan langganan banjir dilaporkan mengalami genangan berulang, terutama saat puncak musim hujan.

Tak hanya bencana hidrometeorologi, Kabupaten Bogor juga menghadapi jenis bencana lain. BPBD mencatat adanya 70 kejadian pergerakan tanah yang berpotensi mengancam keselamatan warga, terutama di daerah lereng. Selain itu, terdapat pula 47 kejadian bencana non-alam yang mencakup berbagai insiden di luar faktor alam.

Aktivitas seismik juga tercatat memengaruhi wilayah Kabupaten Bogor sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data BPBD, terjadi 26 kejadian gempa bumi, meskipun sebagian besar tidak menimbulkan kerusakan besar. Namun demikian, gempa tetap menjadi ancaman yang perlu diantisipasi, mengingat potensi risikonya terhadap keselamatan masyarakat.

Sementara itu, bencana kekeringan tercatat terjadi sebanyak 11 kali selama tahun 2025. Kekeringan umumnya melanda wilayah tertentu pada musim kemarau, berdampak pada ketersediaan air bersih bagi warga. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan juga tercatat meski jumlahnya relatif kecil, yakni tiga kejadian sepanjang tahun.

“Selain itu, ada pula kejadian kekeringan sebanyak 11 kasus dan kebakaran hutan atau lahan tercatat tiga kejadian,” pungkas Adam.

Upaya BPBD dalam Menghadapi Bencana

Dengan tingginya angka kejadian bencana tersebut, BPBD Kabupaten Bogor terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat memasuki musim hujan dan cuaca ekstrem.

Masyarakat diminta untuk selalu memperhatikan informasi cuaca dan peringatan dini dari instansi terkait. Selain itu, pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang berisiko meningkatkan risiko bencana juga menjadi fokus utama BPBD.

Dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan, BPBD juga melakukan berbagai kegiatan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat, termasuk simulasi tanggap darurat dan penguatan kapasitas komunitas.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi ancaman bencana, sehingga dampaknya bisa diminimalkan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan