BPBD Ngada Pantau Wilayah Rawan Longsor, Warga Diimbau Waspada Cuaca Ekstrem

BPBD Ngada Pantau Wilayah Rawan Longsor, Warga Diimbau Waspada Cuaca Ekstrem

Peringatan BPBD Ngada terhadap Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngada telah menetapkan sejumlah titik merah yang dianggap rentan terhadap longsor dan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi perubahan cuaca ekstrem. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan dini terhadap potensi bencana yang bisa terjadi akibat intensitas hujan yang semakin tinggi.

Kepala BPBD Ngada, Emanuel Kora, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Hermenegild Ruba, menjelaskan bahwa pihaknya sedang dalam proses penyusunan Surat Keputusan (SK) Siaga Darurat Hidrometeorologi. Langkah ini merupakan bagian dari antisipasi terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu dan berpotensi memicu bencana alam.

Kami selalu menghimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan daerah rawan longsor untuk waspada. Bila hujan turun dengan durasi panjang, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman, ujar Egild saat berbicara dalam pertemuan di ruang kerjanya, Jumat (12/12/2025).

Selain itu, BPBD juga telah melakukan koordinasi lintas sektoral untuk mempersiapkan logistik dan peralatan jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Menurutnya, langkah awal yang dilakukan adalah memberikan himbauan kepada masyarakat agar lebih siap menghadapi situasi darurat.

Wilayah Rawan Longsor dan Banjir

Berdasarkan pemetaan BPBD, wilayah selatan Kabupaten Ngada masih menjadi daerah paling rentan terhadap longsoran tanah. Beberapa kecamatan yang termasuk dalam daerah rawan antara lain Kecamatan Inerie, Aimere, Golewa Selatan, dan Jerebuu. Sementara banjir lebih sering terjadi di Kecamatan Soa, Riung, dan Lengkosambi Utara.

Egild menyebutkan bahwa Lengkosambi masih menghadapi banyak kendala, khususnya dari sisi infrastruktur. Ia menegaskan bahwa masalah ini berada di luar kewenangan kabupaten dan lebih menjadi tanggung jawab provinsi.

Dampak Bencana terhadap Sektor Pertanian

Selain itu, Egild juga menyoroti potensi dampak lanjutan dari bencana hidrometeorologi, khususnya terhadap sektor pertanian. Dampaknya bisa menyebabkan gagal panen, dan ini berkaitan dengan kerawanan pangan, jelasnya.

Meskipun anggaran bencana sudah dialokasikan, BPBD mengakui ada tantangan dalam pelaksanaan siaga darurat. Namun, ia menegaskan bahwa ketika bencana terjadi, penanganannya tetap menjadi prioritas. Ini amanah aturan. Dan urusan kebencanaan itu pentahelix, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, katanya.

Imbauan untuk Masyarakat

BPBD Ngada meminta masyarakat tetap waspada, khususnya yang tinggal di daerah labil atau yang kerap dilalui aliran air saat hujan deras. Mereka diminta untuk selalu memperhatikan informasi cuaca dan siap mengambil tindakan jika diperlukan.

Pemantauan dan Persiapan Berkelanjutan

Sebagai bagian dari persiapan, BPBD akan terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi wilayah. Selain itu, mereka juga akan melakukan sosialisasi lebih lanjut kepada masyarakat terkait tindakan pencegahan dan protokol keselamatan.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan