Bubur Ayam Banjar Jadi Favorit Pagi di Antang Sejak 2017

Bubur Ayam Banjar Jadi Favorit Pagi di Antang Sejak 2017

Sejarah dan Perjalanan Bubur Ayam Khas Banjar di Palangka Raya

Di tengah keramaian kota Palangka Raya, terdapat sebuah tempat yang selalu ramai meski berada di lokasi sederhana. Di simpang empat Jalan Antang, tepat di seberang Alfamart, terdapat lapak bubur ayam khas Banjar yang telah menjadi ikon bagi warga setempat. Penjualnya, Misran (52), telah menjalani usaha ini selama hampir delapan tahun.

Mulai dari Nol

Misran memulai usahanya pada Oktober 2017. Saat itu, lokasi tersebut masih relatif sepi dari para pedagang lain. Ia memulai dengan berjualan sendirian, tanpa bantuan orang lain. Untuk memulai, ia terlebih dahulu meminta izin kepada RT setempat agar bisa berjualan di lokasi tersebut.

Sejak awal, ia sudah menetapkan jadwal kerja yang konsisten. Setiap hari, ia mulai membuka lapaknya sejak pukul 05.15 WIB hingga sekitar pukul 10.00 atau paling lambat 11.00 WIB. Rutinitas ini dilakoninya tanpa libur, kecuali jika ada alasan khusus. Menurutnya, jika tidak berjualan sehari saja, pelanggan akan langsung mencari ke tempat lain.

Cita Rasa yang Berbeda

Bubur ayam khas Banjar yang dijual oleh Misran memiliki cita rasa yang berbeda dibanding bubur ayam pada umumnya. Buburnya diracik dengan campuran sayur-sayuran dan bumbu khas, tanpa menggunakan santan. Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa bubur Banjar terdiri dari tiga komponen utama: bubur, sayur, dan bumbu yang sudah digabung dalam satu sajian.

Berbeda dengan bubur ayam Bandung yang biasanya lebih polos dan kaldunya terpisah, bubur khas Banjar disebut memiliki rasa yang lebih lengkap dalam satu sajian. Sayurnya juga lengkap, dan bumbunya sudah menyatu. Dengan demikian, rasanya sudah terasa hanya dari buburnya saja.

Resep Khas dan Pelanggan Setia

Resep bubur ayam khas Banjar yang digunakan oleh Misran merupakan racikan sendiri. Selain bubur, ia juga mampu mengolah berbagai masakan lainnya, namun ia memilih fokus pada bubur karena sudah memiliki pelanggan tetap.

Selama berjualan, pelanggan Misran datang dari berbagai kalangan. Tidak hanya pembeli yang datang langsung ke lokasi, sebagian besar pelanggan juga memesan melalui layanan daring. Ia menyebutkan bahwa aplikasi Gojek memiliki nama “Bubur Ayam Khas Banjar Jekan Raya” sebagai identitas usahanya.

Yang paling berkesan bagi Misran adalah pelanggan setianya yang sudah mengikuti perjalanan usahanya sejak awal. Ada beberapa pelanggan yang sudah mengenalnya sejak bayi, bahkan hingga dewasa. Beberapa di antaranya pernah kuliah ke Jawa, tetapi tetap kembali ke Palangka Raya untuk memesan bubur ayam khas Banjar ini.

Harga Terjangkau dan Keinginan Membuka Cabang

Harga bubur ayam khas Banjar yang dijual oleh Misran pun relatif terjangkau. Porsi kecil dibanderol Rp13.000, sedangkan porsi besar Rp17.000. Meskipun ukurannya berbeda, isiannya sama.

Meski begitu, ia pernah mencoba membuka lapak di ruko tak jauh dari lokasi sekarang. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan. Pelanggan lebih suka beli di lokasi asli karena suasana yang lebih nyaman. Akhirnya, ia kembali ke lokasi lama karena biaya kontrak ruko terlalu besar.

Ke depan, Misran mengaku memiliki keinginan untuk membuka cabang. Namun, rencana tersebut masih tertunda karena keterbatasan tenaga. Ia masih menunggu anaknya untuk bisa membantu menjaga usaha tersebut.

Tetap Berjualan Meski Hujan

Meski terkadang hujan turun di pagi hari, Misran tetap berjualan. Menurutnya, bubur yang sudah dimasak harus tetap dijual agar tidak terbuang. Ia percaya bahwa dengan ketekunan dan konsistensi, usahanya akan terus berkembang.

Sebagai penutup, Misran mengajak masyarakat Palangka Raya yang ingin mencicipi bubur ayam khas Banjar untuk datang langsung ke lapaknya atau memesan secara daring. Ia yakin bahwa rasanya akan memuaskan.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan