BUDAMFEST 2025: Kebudayaan yang Tumbuh dari Akar, Kolaborasi untuk Masa Depan

BUDAmFEST: Festival Budaya yang Berusaha Tumbuh dari Akar

Dalam lanskap festival budaya Indonesia yang kian padat, Bukda Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) muncul bukan sebagai gegap-gempita raksasa, melainkan sebagai denyut kecil yang ingin tumbuh dari akar. Tahun ini, festival yang diinisiasi oleh Laboratorium Teater Ciputat (LTC) dan didukung oleh Manajemen Talenta Nusantara (MTN) itu mengusung spirit akselerasi dan kolaborasi, sambil menempatkan diri sebagai ruang pertemuan antara seniman, publik, dan ekosistem pendukung seni yang lebih luas.

Egol Ngger: Performativitas, Stigma, dan Politik Tubuh Lengger Lanang dalam BUDAmFEST 2025

Malam Tanpa Akhir, Pementasan yang Menggugat Cara Pandang pada Perempuan dalam BUDAmFEST 2025

Visi: Akselerator Seniman, Bukan Panggung Kemegahan

Menurut Direktur Festival, Wulan Pusposari, M. Hum., BUDAmFEST memosisikan diri sebagai ruang akselerasi seniman nasional yang selama ini tergabung dalam kelas penciptaan LTC. Artinya, festival bukan sekadar perayaan karya, tetapi wahana bagi para kreator untuk mempercepat pertumbuhan artistik mereka, memperluas jejaring, dan menemukan kemungkinan baru dalam penciptaan.

Arah festival tahun ini pun tegas: mempertemukan kreator dengan penikmatdan terutama dengan para pemodal pertunjukan yang dapat membuka ruang produksi lanjutan.

Kami hanya entitas kecil di tengah ekosistem besar, ujar Wulan pada wawancara, 11 Desember 2025 di Museum Kabangkitan Nasional, Jakarta, tapi justru di situ kami melihat celah untuk bergerak luwes.

Pembeda: Rajutan Kerjasama Antarfestival

Dengan ekosistem festival yang semakin ramai, BUDAmFEST memilih jalur berbeda. Festival ini berupaya merajut kerja sama antardirektur festival secara organik, dengan impian bahwa karya-karya seniman LTC dapat berumur panjang di panggung lain.

Pendekatan ini terasa segar di tengah festival yang biasanya fokus pada citra dan panggung megah. BUDAmFEST justru membangun jembatan produksi lintas lembaga, bukan menara gading apresiasi.

Tema: Kolaborasi Sebagai Nafas

Tema tahun ini, yang lekat dengan diksi kolaborasi, dipilih bukan sebagai slogan, melainkan cermin proses. Di baliknya ada kesadaran bahwa LTC sendiri adalah wadah dari individu-individu dengan identitas kultural dan artistik berbeda. Kolaborasi meresap ke seluruh lini: program penciptaan, kerja produksi, hingga kemitraan dengan para penyokong barang dan fasilitas.

Platform ini berdiri dari banyak tangan dan kepala, kata Wulan. Maka, bekerja secara kolaboratif itu konsekuensi, bukan pilihan.

Kurasi: Menjaga Ragam, Menegakkan Kualitas

Proses kurasi di BUDAmFEST dilakukan melalui program Dapur LTCwilayah kerja para kurator yang tahun ini dibuka lebih lebar. Di luar daftar karya bawaan LTC, Wulan juga menyisipkan beberapa karya undangan dari luar lingkaran komunitas untuk memperkaya spektrum estetika.

Meski demikian, kurasi tidak semata-mata ingin mengumpulkan sebanyak mungkin karya. Festival tetap menjaga standar artistik sambil memastikan keberagaman bentuk, metode kerja, dan perspektif sosial.

Fokus Karya Lokal dan Gandeng Publik Muda

Terkait fokus pada isu minoritas dan praktik budaya yang terancam punah, Wulan menyebut bahwa arah itu ada, namun masih diraba energinya sebelum dibawa ke skala diskusi yang lebih luas. Ada kehati-hatian di sini, pertanda bahwa festival tidak ingin terjebak romantisasi tradisi ataupun tokenisme.

Untuk menjangkau publik mudakelompok yang kerap menjauh dari isu kebudayaanBUDAMFEST mengandalkan strategi digital. Tim komunikasi mempelajari pola konsumsi media Gen Z, menata editorial plan, dan mengoptimalkan kanal-kanal yang akrab bagi mereka.

Masuk ke dunia mereka bukan soal gaya visual saja, tapi memahami ritme kebiasaan mereka, ujar Wulan.

Literasi Budaya dan Tantangan: Tim yang Satu Ritme

Salah satu program literasi budaya tahun ini adalah penerbitan buku kumpulan naskah. Buku tersebut tidak berhenti di rak, melainkan dibawa ke sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas untuk memantik percakapan baru tentang seni pertunjukan.

Mengelola festival budaya berskala nasional tentu menghadirkan tantangan klasik: pendanaan, infrastruktur, hingga regenerasi pelaku seni. Namun bagi Wulan, yang terberat justru membangun tim yang solid dan bekerja dalam ritme yang sama.

Untuk persoalan-persoalan lain, ia mengakui jawabannya kerap hanya satu: Kenekatan. Sudah enam hingga tujuh tahun ia bekerja dengan pola itu, dan festival ini adalah kelanjutan dari keberanian tersebut.

Jembatani ke Festival Lain dan Lahirkan Kolektif Baru

Harapan terbesar dari kerja kolaborasi adalah agar para direktur festival yang hadir dapat melihat talenta dari Dapur LTC, lalu mengundang mereka tampil di festival masing-masing. BUDAmFEST ingin menjadi batu loncatan, bukan tujuan akhir.

Perempuan berhijab itu berharap BUDAmFEST dapat mendorong semakin banyak kolektif di berbagai kota untuk menginisiasi festival mereka sendiri, sekaligus memperluas paparan komunitas terhadap instrumen penciptaan yang dikembangkan LTC. Pada level publik, festival ingin menanamkan kebiasaan menonton teater sebagai bagian dari kehidupan kota.

Tradisi vs Modernitas dan Benturan yang Diamini

Dalam konteks tradisi yang mulai memudar, BUDAmFEST merawatnya lewat kelas penciptaan Napak Tilas, yang membaca pengalaman dan ketubuhan para peserta sesuai lokus masing-masing. Sedangkan soal benturan antara tradisi dan modernitas, Wulan menyebutnya sebagai keniscayaan dalam keragaman seni hari ini.

Menutup perbincangan, Wulan menyatakan harapan sederhana: agar BUDAmFEST dapat terus hidup sebagai ruang tumbuhbukan sekadar panggung perayaandan agar festival ini dapat meninggalkan jejak perubahan kecil yang terasa bagi para seniman maupun masyarakat luas.

Karena bagi BUDAmFEST yang digelar pada 8-11 Desember 2025 di Museum Kebangkitan Nasional ini, festival bukan akhir sebuah proses, melainkan awal percakapan yang lebih panjang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan