Bukan Hanya Impian, Tapi Kebutuhan yang Terwujud

Impian Mobil Keluarga yang Masih Tertunda


Memasuki tahun 2026, ada satu barang yang ingin saya miliki dan belum tercapai di tahun lalu. Sebenarnya, barang seperti ini pernah saya miliki pada tahun 2017 lalu, tapi terpaksa harus dijual lagi pada tahun 2021 saat pandemi COVID-19. Barang itu adalah sebuah kendaraan roda empat alias mobil. Kini, sudah empat tahun berlalu, dan saya masih terus berusaha untuk menghadirkannya kembali di rumah.

Keinginan untuk memiliki mobil keluarga adalah harapan sederhana namun penting bagi saya dan keluarga. Sebuah kendaraan yang aman, nyaman, dan bisa diandalkan untuk menemani perjalanan bersama anggota keluarga. Meski belum terwujud di tahun-tahun lalu, mobil kerap dimaknai sebagai simbol pencapaian pribadi dan hadiah kecil bagi diri sendiri atas perjalanan yang telah ditempuh.

Bagi banyak orang, memiliki mobil keluarga berarti menghadirkan rasa aman, kemandirian, dan kemudahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, sekaligus menjadi simbol tanggung jawab dan upaya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga. Namun, bagi saya, sederhana saja, mobil adalah alat transportasi cepat kalau ada keperluan penting, membawa keluarga berobat, berkunjung ke rumah kerabat, atau kalau mau pergi liburan.

Untuk keperluan sehari-hari seperti bekerja dan mengantar anak ke sekolah, kereta Commuter Line saat ini sudah tidak tergantikan. Harganya sudah murah sehingga bisa menabung sedikit-sedikit. Waktunya cepat dan tepat waktu, dan rutenya ringkas pula. Keinginan membeli mobil sebenarnya baru menguat pada akhir tahun 2024 lalu, ketika kami sekeluarga pergi ke Yogyakarta bersama kakak ipar. Dan selama empat tahun ini, saya pun sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menabung agar bisa membelinya.

Namun, niat ini harus ditunda karena kebutuhan-kebutuhan prioritas seperti pendidikan dan renovasi rumah. Setiap ada rezeki lebih, alokasinya harus kesana dulu, karena pendidikan itu investasi seumur hidup. Apalagi anak-anak sudah semakin besar, dan rumah sudah mulai terasa lebih sempit dari sebelumnya, hehe... Secara fisik, postur kami di rumah sudah sama bahkan anak-anak sudah lebih besar dari kami orangtuanya. Sekarang saja, saya sudah menerima warisan sepatu dari anak. Sudah terbalik, kan?

Bukan Lagi Kebutuhan Pelengkap

Sebelumnya, memiliki mobil bukan impian saya atau keluarga. Saya dan istri lebih suka menabung untuk membeli tanah agar bisa digunakan oleh anak ketika mereka besar nanti. Kami sudah sepakat saat itu bahwa mobil masih menjadi kebutuhan barang mewah yang dipenuhi sekedar untuk kesenangan pribadi, prestise.

Idealnya, mobil bisa dipenuhi setelah kebutuhan pokok seperti pakaian, makan, atau rumah; dan kebutuhan sekunder seperti pendidikan dan kesehatan, sudah terpenuhi. Tetapi seiring waktu, keinginan untuk memiliki mobil keluarga kembali muncul dan semakin menguat karena anak-anak sudah semakin besar. Sepeda motor yang biasa kami gunakan kalau bepergian sudah mulai "tidak memenuhi syarat" untuk kami berlima.

Mobil sudah mulai dirasakan fungsi praktisnya. Bepergian bisa bersama-sama, kalau tiba-tiba ke UGD bisa cepat (meski ngga setiap saat ke UGD juga...), dan saat mudik jadi lebih praktis, hemat, dan cepat. Berawal dari kebutuhan akan rasa aman ketika bepergian bersama keluarga. Di tengah kegiatan bersama keluarga, mobil menjadi solusi untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa harus bergantung sepenuhnya pada transportasi umum.

Ada ketenangan tersendiri ketika keluarga bisa bepergian bersama dalam satu kendaraan yang aman, terlindung dari hujan, panas, dan ketidakpastian di jalan. Seringkali, kami batal bepergian karena cuaca hujan atau sangat terik. Keputusannya pasti tetap di rumah. Meski saat ini sudah ada sarana transportasi online, seringkali itu tidak bisa jadi solusi yang praktis juga. Misalnya ketika ada anggota keluarga yang sakit, ada keperluan yang urgent lainnya.

Meski demikian, memiliki mobil punya respon sosial yang lebih besar. Orang menganggap, kalau mempunyai mobil, pemiliknya pasti memiliki uang yang sangat banyak. Padahal, bisa saja mobil itu dibeli secara kredit dan digunakan untuk hal-hal penting. Tapi bagi masyarakat kita, mobil masih dianggap sebagai barang mewah karena ekonominya "pasti" berlebihan.

Prioritas yang Masih Lebih Besar

Bagi saya, meskipun menjadi impian, membeli mobil saat ini bukan hal prioritas juga. Masih ada keperluan lain yang jauh lebih penting terutama pendidikan anak dan cadangan biaya kesehatan. Dua kebutuhan ini bisa beres saja, saya sudah sangat tenang.

Pada akhirnya, keinginan memiliki mobil keluarga adalah tentang membangun kualitas hidup yang lebih baik. Bukan soal kemewahannya, melainkan tentang kemudahan, kedekatan, dan rasa aman. Mobil keluarga menjadi perwujudan harapan akan kehidupan yang lebih tertata, lebih hangat, dan lebih memungkinkan untuk terus tumbuh bersama sebagai sebuah keluarga. Semoga bisa terwujud.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan