Buku 'Asu Panting: Hantu Legenda Gunung Bawakaraeng' Karya Hilman Ajak Perbincangan Iman dan Nalar

Membongkar Mitos Asu Panting: Antara Kepercayaan dan Nalar

Hanya desau angin dan gemerisik daun yang memecah sunyi. Tiba-tiba, dari balik bayangan pohon-pohon kuno, sepasang mata merah menyala menatap tajam. Suara dengusan aneh—seperti serigala, namun lebih dalam, lebih mencekam—meraung. Kemudian, siluet itu bergerak: berbulu lebat, kaki depannya tampak lebih pendek, dan sekelebat sayap hitam tampak mengepak perlahan di antara dahan. Jika Anda pernah mendengarkan cerita-cerita horor hantu Legenda Gunung Bawakareng, yang terbayang kemungkinan besar adalah suasana menyeramkan seperti itu.

Jantung berdegup kencang. Ia dikenal sebagai Asu Panting, siluman anjing. Beberapa versi menyebut makhluk itu bersayap, dari cerita-cerita yang beredar di ruang bisik masyarakat Bugis-Makassar. Namun, benarkah makhluk itu nyata? Atau ia hanya proyeksi ketakutan terdalam yang bersemayam dalam imajinasi kolektif kita?

Pertanyaan itulah yang kini berusaha diurai oleh Hilman dalam karya ketiganya, sebuah buku yang berani menyingkap tirai mitos:

Asu Panting: Hantu Legenda Gunung Bawakaraeng
(Penerbit: Pakalawaki).

Ini bukan sekadar kompilasi cerita seram, melainkan sebuah undangan untuk berdialog: antara iman dan nalar, antara warisan budaya dan ilmu pengetahuan, antara yang gaib dan yang nyata.

Mitos sebagai Cermin Kegelisahan Manusia

Dalam kata pengantar yang ditulis oleh Andi Batara Al Isra, S.Sos., MA., Dosen Antropologi UNHAS, buku ini ditempatkan pada posisi penting dalam lanskap budaya kita. Ia menjelaskan, mitos selalu hadir sebagai cermin kegelisahan manusia, lahir dari perjumpaan antara rasa takut, imajinasi, dan pengalaman kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Asu Panting, sebagai fenomena yang belakangan viral di media sosial, di mata Andi Batara, bukanlah sekadar kisah tentang makhluk gaib, melainkan penanda bagaimana masyarakat Bugis-Makassar membingkai relasi mereka dengan alam, dengan kegelapan, dan dengan dunia yang tak kasat mata. Di sinilah nilai fundamental buku ini terletak: ia menempatkan mitos bukan hanya sebagai bahan takut-takutan, melainkan sebagai sebuah teks budaya yang kaya, yang bisa dibaca dan ditafsir ulang.

"Ada upaya serius dari Hilman untuk mengaitkan kisah Asu Panting dengan gejala sosial yang lebih luas, pengalaman spiritual yang mungkin dialami sebagian orang, bahkan mencoba melihatnya dari interpretasi medis," tulis Andi Batara.

Asu Panting: Imajinasi yang Termaterialisasi?

Lebih jauh di dalam buku, Hilman menggiring pembaca pada sebuah argumen yang kuat: Asu Panting jauh lebih dekat dengan imajinasi daripada realitas fisik. Penulis secara lugas menyatakan bahwa Asu Panting dapat dianggap sebagai produk imajinasi kolektif, sebuah "pikir wujud", atau yang biasa dikenal sebagai manifestasi pikiran—baik yang termanifestasi melalui cerita rakyat, maupun pengalaman personal yang diinterpretasikan.

Alasan kuat di balik argumen ini sangat rasional dan faktual. Penulis menekankan bahwa tidak ada bukti fisik yang konkret dan dapat diverifikasi secara ilmiah tentang keberadaan Asu Panting. Tidak ada jejak kaki, tidak ada bangkai yang ditemukan, tidak ada rekaman visual atau audio yang valid.

"Saya memandang buku ini penting bukan karena ia sekadar ‘membuktikan’ ada atau tidaknya Asu Panting, tetapi karena ia berani mengangkat kembali sebuah kisah yang sering hanya beredar di ruang bisik-bisik, cerita dapur, atau percakapan malam hari di kampung. Melalui penelitian panjang, saya berusaha menyingkap makna di balik cerita, lalu menawarkannya kembali kepada kita dengan sudut pandang yang lebih rasional," kata Hilman.

Ia melanjutkan, jika Asu Panting dianggap sebagai entitas astral (gaib), deskripsi visual yang begitu detail—seperti memiliki kaki depan lebih pendek atau bersayap—justru menimbulkan kejanggalan. Hilman mengutip ayat-ayat Al-Qur'an (Surah Al-A'raf ayat 27 dan An-Naml ayat 65) yang menegaskan bahwa makhluk gaib berada di luar jangkauan pandangan manusia. Pandangan ini semakin memperkuat argumen bahwa deskripsi fisik Asu Panting lebih merupakan hasil interpretasi visual yang keliru atau manifestasi dari imajinasi kolektif, bukan realitas yang kasat mata.

Hilman, Pendaki dan Penulis yang Merawat Budaya dan Alam

Di balik riset yang berani dan argumentasi yang tajam ini, Hilman adalah pribadi yang tak pernah berhenti berkarya. Asu Panting Hantu Legenda Gunung Bawakaraeng merupakan karya ketiganya. Sebelumnya, ia sukses menerbitkan buku Jeritan Anak Bangsa dan novel Memoar Sang Pemimpi.

Hilman lahir di Makassar pada 26 Februari 1990. Anak tertua dari empat bersaudara yang lahir dari pasangan Nasing dan Nuriana ini, kini telah berkeluarga dan dikaruniai empat orang anak. Meskipun disibukkan dengan perannya sebagai kepala keluarga, Hilman tetap aktif menjalani dua passion terbesarnya, yaitu mendaki gunung dan berkarya dalam dunia literasi.

Dedikasi Hilman terhadap dunia literasi sejalan dengan kecintaannya pada alam. Ia merupakan pendiri organisasi pecinta alam, Tapak Pemuda Gowa, serta inisiator perpustakaan Pondok Ilmu sebagai wadah berbagi pengetahuan. Ia adalah pendiri organisasi pecinta alam, Tapak Pemuda Gowa, sekaligus inisiator Perpustakaan Pondok Ilmu.

Buku Asu Panting adalah perwujudan nyata dari perpaduan dua passion-nya: merawat kisah panjang Gunung Bawakaraeng, sambil menguji narasi tersebut dengan kacamata pengetahuan. Membaca Asu Panting bukan hanya mengajak kita mengenal satu makhluk mitologis dari Sulawesi Selatan, tetapi juga menantang kita untuk merenungkan bagaimana ketakutan, kepercayaan, dan cerita bisa membentuk cara kita memandang dunia.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan