Bupati Aceh Utara Ayahwa Pantau Banjir dengan Sampan Malam Hari

Bupati Aceh Utara Menembus Wilayah Terisolir dengan Sampan

Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil yang akrab disapa Ayahwa, melakukan kunjungan ke daerah-daerah terisolir akibat banjir besar. Menggunakan sampan, ia memantau langsung wilayah-wilayah yang masih sulit diakses melalui jalur darat. Kecamatan Langkahan menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi, termasuk Desa Geulumpang Payong dan Meunye Peut.

Hingga hari ke-11 pascabencana, sembilan kecamatan di Aceh Utara masih terendam air. Kerusakan yang terjadi cukup parah, dengan lebih dari 50 persen rumah warga mengalami kerusakan berat. Selain itu, infrastruktur seperti jalan dan jembatan juga rusak, serta beberapa bangunan sekolah tidak dapat difungsikan karena terendam air.

Kondisi ini menyulitkan distribusi bantuan dan mobilitas petugas. Untuk menjangkau desa-desa terpencil, petugas harus menggunakan perahu kecil. Beberapa warga masih bertahan di tempat pengungsian karena belum bisa kembali ke rumah masing-masing. Mereka juga mengalami kesulitan dalam mengakses bantuan.

“Sebagian warga tidak dapat menghubungi petugas karena listrik padam dan jaringan internet sempat hilang selama beberapa hari,” ujar Ayahwa. Situasi ini membuat upaya pendataan dan evakuasi semakin terhambat. Petugas di lapangan bekerja dengan sumber daya terbatas, baik dari segi perlengkapan maupun personel.

Di tengah keterbatasan, sebagian besar personel gabungan masih dikerahkan untuk mencari jenazah dan korban hilang. Jumlah korban hingga saat ini dilaporkan mencapai 90 orang. Proses pencarian mengalami kendala akibat arus air yang deras, kedalaman banjir, serta sulitnya akses menuju lokasi-lokasi terisolir.

Profil Bupati Aceh Utara

Ismail A Jalil, yang lebih dikenal dengan panggilan Ayahwa, memimpin Kabupaten Aceh Utara sebagai Bupati untuk periode lima tahun ke depan. Ayahwa lahir di Matang Serdang pada 12 Juni 1979. Ia berasal dari keluarga petani sederhana. Sejak muda, ia aktif berjuang dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Pada tahun 1996, ia dipercaya menjadi Komandan Operasi Daerah IV dalam GAM. Meski akrab dengan senjata dan kerasnya perjuangan di medan perang, semangat Ayahwa untuk belajar tidak pernah pudar. Pria murah senyum ini juga dikenal sangat dermawan di komunitasnya.

Pendidikan dasar hingga sekolah lanjutan pertama ditempuhnya di Kecamatan Tanah Jambo Aye. Setelah itu, ia nyantri di Pondok Pesantren Darul Ulum Tanah Merah, Kabupaten Bireuen, dan lulus pada tahun 2004. Ayahwa melanjutkan pendidikannya dengan mengambil sarjana ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Budi Bakti (STIM) Bekasi pada tahun 2010. Kemudian, ia menuntaskan magister manajemen di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen pada tahun 2024.

Setelah kesepakatan damai tercapai, Ayahwa meninggalkan aktivitas militernya bersama GAM dan memilih menapaki jalur politik. Pada tahun 2009, ia terpilih menjadi anggota DPRD Aceh Utara. Partainya, Partai Aceh, kemudian memberikan kepercayaan besar padanya untuk memimpin DPRD Aceh Utara sebagai Ketua pada Pemilu 2014.

Lima tahun berikutnya, Ayahwa sukses menjadi anggota DPR Provinsi Aceh dari Partai Aceh. Kepercayaan masyarakat terhadapnya terus meningkat hingga Pemilu 2024, di mana Ayahwa meraih suara terbanyak dan kembali menjadi anggota DPR Provinsi Aceh. Namun, ia memilih mundur dari kursi legislatif itu untuk maju dalam Pilkada Aceh Utara.

Hasilnya? Kemenangan dan kesempatan memimpin daerah itu selama lima tahun mendatang. Pengalamannya di DPRD kabupaten dan provinsi tentu menjadi modal berharga untuk mengatur jalannya pemerintahan daerah.

Bencana Banjir yang Lebih Parah dari Tsunami 2004

Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, SE, MM yang akrab disapa Ayahwa, menyampaikan bahwa bencana banjir yang melanda wilayahnya dalam beberapa hari terakhir berada pada tingkat keparahan yang melampaui tragedi tsunami 2004 silam. Menurutnya, skala kerusakan yang terjadi tidak hanya menghancurkan permukiman warga, tetapi juga memutus akses vital dan menelan korban jiwa dalam jumlah banyak.

“Lebih parah daripada tsunami, rumah hilang, seluruh kawasan terdampak, nyawa manusia melayang, infrastruktur rusak, jembatan putus, jalan-jalan rusak parah,” ujar Ayahwa kepada Serambinews.com, Selasa (2/12/2025). Menurut Bupati, perbandingan dengan tsunami bukan tanpa alasan. Jika tsunami pada 2004 hanya terdampak di wilayah pesisir dan berlangsung singkat. Banjir kali ini sudah hampir sepekan tak kunjung surut.

Banyak daerah yang masih terisolir, masyarakat belum mendapatkan bantuan optimal, dan beberapa laporan menyebutkan adanya penemuan mayat di sejumlah titik belum dapat dievakuasi. Ayahwa menegaskan, bahwa pemerintah daerah sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun keterbatasan sumber daya membuat penanganan bencana tak dapat dilakukan tanpa bantuan pusat.

Data Lengkap Kerusakan Akibat Banjir

Memasuki hari ke-11 musibah banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara, jumlah titik pengungsian terus bertambah dan kini mencapai 447 lokasi. Data tersebut diperoleh Serambinews.com dari laporan resmi Pusat Informasi Posko Bencana Banjir BPBD Aceh Utara per 2 Desember 2025 pukul 18.00 WIB. Lonjakan ini mencerminkan semakin luasnya dampak banjir yang melanda puluhan kecamatan dengan kondisi yang hingga kini belum sepenuhnya pulih.

Data BPBD Aceh Utara mencatat, sebanyak 56.638 kepala keluarga (KK) dengan total 163.985 jiwa, terdampak langsung akibat rumah mereka terendam banjir. Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi juga sangat besar, yaitu 115.018 jiwa. Meski terdapat kekeliruan penulisan angka pada papan informasi terkait jumlah KK pengungsi, angka total jiwa tetap mencerminkan skala bencana yang sangat besar.

Banjir yang berlangsung sejak 22 November ini juga menimbulkan korban jiwa. Hingga hari ke-11, tercatat 112 orang meninggal dunia, sementara 118 orang masih hilang dan proses pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan. Dua warga dilaporkan mengalami luka-luka. Selain itu, terdapat kelompok rentan yang ikut terdampak. Yakni 198 ibu hamil, 1.251 balita, 1.687 lansia, dan 58 penyandang disabilitas yang kini membutuhkan penanganan khusus di berbagai titik pengungsian.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan