Program Pertanian yang Mengubah Masa Depan Boalemo
Bupati Boalemo, Rum Pagau, telah mengumumkan sejumlah program unggulan di sektor pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir pembangunan dari sekadar memberikan bantuan bahan pokok menjadi investasi jangka panjang bagi masyarakat.
Salah satu program utama yang sedang dikembangkan adalah pengembangan tanaman bambu petuk secara masif. Menurut Rum Pagau, pemerintah daerah telah menyiapkan lahan seluas 2.000 hektare untuk penanaman bambu. Ia menjelaskan bahwa bambu memiliki nilai ekonomi tinggi dan manfaat jangka panjang yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Menurutnya, bambu dapat digunakan sebagai bahan bangunan pengganti kayu dan besi serta memiliki potensi besar untuk diekspor. Politisi Partai Nasdem ini menegaskan bahwa kekuatan bambu sebagai material bangunan tidak kalah dengan bahan konstruksi lainnya seperti besi. "Untuk bangunan seperti rumah bambu itu cukup kuat, hampir sama dengan besi," ujarnya.
Selain itu, mantan wartawan RRI Manado ini mengaku sebagian bangunan yang dibuatnya saat ini banyak menggunakan material bambu petuk. Hal itu menjadi contoh bahwa bambu bukanlah tanaman biasa, melainkan komoditas strategis. "Bangunan-bangunan seperti villa saya buat rata-rata pakai bambu," tambahnya.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah daerah juga menyiapkan bibit berkualitas. Bibit bambu, kata Rum Pagau, didatangkan dari Yogyakarta yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bambu terbaik di Indonesia. "Bibitnya kami beli dari Jogja, karena di sana penghasilan bambu paling banyak dan terjamin," katanya.
Ia menegaskan, bambu berbeda dengan tanaman musiman lainnya karena dapat dipanen secara berkelanjutan. "Kalau bambu ini bisa terus-menerus dipanhen, beda dengan durian," tegasnya.
Selain bernilai ekonomi, tanaman bambu juga dinilai ramah lingkungan dan mudah dalam perawatan. Rum Pagau menyebut bambu tidak membutuhkan perlakuan rumit seperti tanaman lain. "Tanaman ini mudah dirawat, hasilnya banyak, dan lingkungan sekitar juga jadi sejuk," ujarnya.
Dia bahkan memaparkan potensi keuntungan yang bisa diperoleh petani dari satu hektare lahan bambu. "Kalau panen bisa sekitar 400 kali 40 ribu per hektare, jadi untungnya besar dan tidak repot seperti tanaman lain, tidak perlu pupuk," terangnya.
Program bambu ini juga mulai menarik perhatian pihak luar negeri. Rum Pagau mengungkapkan, calon pembeli dari Eropa sudah menunjukkan minat serius terhadap bambu dari Boalemo. Ia menambahkan, ketertarikan tersebut bukan sekadar wacana. "Orang Inggris dan Belgia akan datang ke Boalemo. Saya bahkan dikejar sampai ke Jakarta kemarin," ucapnya.
Saat ini kebutuhan bambu petuk masih banyak dan belum terpenuhi. Saat ini daerah yang menghasilkan bambu adalah NTT, jika berhasil Boalemo adalah daerah pertama di Sulawesi. "Pak Rahmat Gobel tertarik dan sangat konsen sekali, ada investor Dubai dan Jepang. Kita lakukan gerakan sejuta bambu," beber Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi ini.
Dia sudah meminta pihak perguruan tinggi untuk menyediakan bibit melalui metode kultur jaringan. "Saya tidak memikirkan diri sendiri, kalau hanya program bantuan sosial, terima langsung habis," ungkapnya.
Rum Pagau menargetkan, dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, Boalemo akan menjadi daerah yang makmur dengan bambu sebagai salah satu penggerak ekonomi utama. “Target saya 10 tahun ke depan Boalemo makmur,” ujar Rum Pagau yang kini memimpin 152.850 jiwa penduduk.
Ia berharap Kabupaten Boalemo bisa menjadi pusat pengambilan bambu untuk kebutuhan bangunan, tidak hanya di dalam daerah tetapi juga untuk pasar nasional hingga ekspor. “Bukan hanya untuk daerah, tapi sampai ke luar daerah bahkan ke luar negeri,” katanya.
Pengembangan Tanaman Lainnya
Selain bambu, Pemerintah Kabupaten Boalemo juga menyiapkan program pengembangan tanaman durian untuk masyarakat. Selain itu, dia juga mendorong dan memberikan bantuan bibit kakao, jambu menteh, dan sawit.
Ia menyebut durian sebagai tanaman bernilai ekonomi tinggi, meski membutuhkan waktu cukup lama untuk panen. “Durian sekarang mahal, keuntungannya besar kalau dirawat,” ucapnya.
Meski masa tunggunya panjang, Rum Pagau menilai durian cocok sebagai investasi jangka panjang bagi masyarakat. Tak hanya itu, Rum Pagau juga mulai mendorong pengembangan tanaman kakao. Tanaman ini diproyeksikan menjadi alternatif pengganti jagung yang selama ini masih menjadi komoditas utama petani di Gorontalo.
“Banyak petani jagung, tapi sampai sekarang belum sejahtera, banyak utang,” katanya. Ia bahkan mempertanyakan hasil nyata dari pola tanam jagung yang terus dilakukan bertahun-tahun. “Apakah ada petani jagung yang sejahtera? Belum ada,” ujarnya.
Menurut Rum Pagau, Gorontalo selama ini terlalu bergantung pada jagung sehingga perlu terobosan baru agar petani memiliki pilihan yang lebih menguntungkan. “Gorontalo selalu tanam jagung, jadi kita buat inovasi,” tegasnya.
Program-program ini, kata Rum Pagau, dirancang untuk mengubah struktur ekonomi masyarakat Boalemo agar lebih mandiri dan berkelanjutan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar