Ketersediaan BBM di Aceh Tamiang dan Langsa Masih Terbatas
Kondisi ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Aceh Tamiang hingga Langsa, Aceh, masih terbatas hingga Jumat (12/12/2025). Hal ini disebabkan oleh banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan tersebut. Akibatnya, sejumlah fasilitas publik mengalami gangguan layanan.
Pengamatan tim berita menunjukkan bahwa hanya dua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang beroperasi, yaitu satu di Kecamatan Seumadam, Aceh Tamiang, dan satu lagi di pusat Kota Langsa. SPBU lainnya masih tutup karena dampak bencana atau kendala pasokan.
Akibatnya, antrean kendaraan mengular hingga menutupi satu lajur jalan utama. Kemacetan tak terhindarkan. Bahkan, mobil yang digunakan tim berita sempat terjebak macet karena barisan panjang kendaraan yang menunggu giliran mengisi BBM.
Lama antrean di SPBU tersebut juga tidak main-main. Untuk sepeda motor, waktu tunggu bisa mencapai 12 jam. Adapun kendaraan roda empat harus menunggu lebih lama.
Shamim, sopir yang mengantar tim berita dari Deli Serdang hingga ke Langsa, Jumat (12/12/2025), menyampaikan bahwa SPBU yang buka hanya satu di Kota Langsa dan satu lagi di Seumadam. Namun, lokasi SPBU di Seumadam berada di luar Kota Langsa, Aceh Tamiang.
Pedagang Eceran Jual BBM dengan Harga Tinggi
Di tengah kelangkaan BBM di SPBU, sejumlah pedagang bensin eceran muncul di sisi kanan dan kiri jalan. Mereka menjajakan botol-botol bekas berisi bensin, meski jumlahnya tidak banyak. Namun, harga yang ditawarkan cukup mencengangkan, yaitu mencapai Rp 60.000 per liter.
Ini menjadi pilihan sulit bagi warga dan pengendara, antara mengantre berjam-jam di SPBU atau membeli dengan harga tinggi. Shamim berseloroh, "Itu mau enggak mau, kalau untuk situasi kayak gini dan misalnya harus buru-buru. Harga segitu, ibaratnya bukan buat beli minyak (bensin), tetapi membeli waktu."
Situasi di Bener Meriah Lebih Berat
Keterbatasan BBM tidak hanya terjadi di Aceh Tamiang dan Langsa. Di Kabupaten Bener Meriah, kondisi yang dialami warga bahkan lebih berat. Di Desa Pondok Baru, Kecamatan Bandar, warga mengeluhkan harga BBM yang melambung pasca-banjir. Pertalite dijual hingga Rp 80.000 per liter, dan stoknya sangat terbatas.
Norman, salah seorang warga Pondok Baru, mengungkapkan kepada berita bahwa mereka terpaksa berjalan kaki sekitar tiga jam menuju Kamp Desa Seni Antara, Kecamatan Permata, untuk mencari bahan bakar dan kebutuhan pangan.
"Kami benar-benar terisolasi. Listrik masih padam. Jangan pernah bilang listrik sudah menyala 100 persen di Bener Meriah. Itu fitnah," tegas Norman, Rabu (10/12/2025).
Dia menambahkan bahwa pasokan BBM dengan harga lebih "murah" hanya bisa ditemukan di Kecamatan Permata, tetapi tetap mencapai sekitar Rp 35.000 per liter. "Wajar saja mahal karena mereka beli ke perbatasan Aceh Utara. Dipanggul berjerigen-jeriken. Di perbatasan Aceh Utara saja harganya Rp 25.000 per liter," kata Norman.
Norman berharap Presiden RI Prabowo Subianto bisa segera menginstruksikan percepatan pemulihan di daerah terdampak. "Minimal sinyal dan listrik bisa teratasi secepatnya," ujarnya.
Pertamina Kirim BBM dan LPG Melalui Jalur Udara
Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga kembali mengirimkan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG menggunakan moda udara ke Bandar Udara Rembele, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, Selasa (9/12/2025).
Distribusi untuk Aceh Tengah dan Bener Meriah terpaksa lewat jalur udara karena jalan yang tertimbun longsor belum bisa dipulihkan. Kondisi jalan masih ambles dan sejumlah jembatan putus akibat banjir dan longsor pada 26 November 2025 lalu.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyebutkan pengiriman dalam jumlah terbatas, yaitu LPG Bright Gas 5,5 kg sebanyak 10 tabung yang diterbangkan menggunakan pesawat Casa TNI AL dari Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe.
Selain itu BBM jenis gasolinePertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbodengan total 2.800 liter, serta BBM jenis gasoilPertamina Dex, Dexlite, dan BioSolarsebanyak 8.000 liter.
"Pertamina Patra Niaga terus memastikan distribusi energi berjalan lancar. Pada wilayah tertentu yang aksesnya terbatas, pengiriman melalui jalur udara menjadi opsi terbaik agar kebutuhan energi masyarakat dan fasilitas pelayanan tetap terjaga," ujar Roberth dalam keterangan tertulisnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar