Cara lansia Samin bertahan hidup sendirian dengan Rp 300.000 per bulan di Tanah Merah

SAMARINDA, nurulamin.pro - Di pinggir jalan Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, terpaku sebuah gubuk lusuh berukuran sekitar empat kali empat meter.

Bangunan sederhana tanpa pagar itu berdiri tegak di atas bukit, menyatu dengan alam, diapit beberapa tanaman pertanian.

Keberadaannya nyaris luput dari perhatian, seolah tenggelam di antara kehidupan dan kematian.

Di sanalah Samin, seorang pria berusia 70 tahun, menjalani hari-harinya dalam kesendirian.

Dinding Papan Bekas Menjadi Saksi Bisu Kehidupan

Dinding gubuknya terbuat dari papan bekas yang telah menghitam dimakan usia, sementara atap sengnya yang kusam tak mampu membendung suara nyaring setiap kali hujan turun.

Di dalam, tidak ada sekat yang jelas.

Ruang tidur, dapur, dan ruang duduk berhimpitan dalam satu area sempit.

Tanpa aliran listrik, sebuah lilin menjadi penerang di malam hari.

Kebutuhan air bersih dipenuhi dari satu drum penampungan air hujan, cukup sekadar untuk membasuh diri maupun memasak.

Samin, yang lahir pada 17 April 1955, adalah perantau asal Madura yang telah puluhan tahun menjejakkan kaki di Samarinda.

Rumah kecilnya berlokasi di kawasan Podo Rukun RT 28, sebuah area yang dahulu masih berupa tanah merah dan belum tersentuh aspal.

"Dulu belum ada kuburan ini," ujar Samin saat ditemui nurulamin.pro pada Minggu (11/1/2026).

Ia mengenang masa awal tinggal di kawasan itu, ketika akses jalan masih sulit dan lingkungan sekitar sepi.

Seiring waktu, wilayah tersebut berubah: jalan terbuka, permukiman tumbuh, dan kini sebuah permakaman berdiri tepat di depan rumahnya, menjadi penanda senyap perjalanan hidup yang terus bergerak maju.

Rumah sederhana itu bukanlah hasil program bantuan pemerintah, melainkan buah kepedulian seorang tokoh masyarakat setempat.

Tergerak oleh kondisi Samin, sang tokoh membiayai pembangunan rumah tersebut, termasuk memanggil tukang dan memastikan Samin memiliki tempat tinggal yang layak.

Sebagian material bangunan berasal dari bongkaran rumah lama.

"Kalau dihitung-hitung, mungkin habis lima sampai enam juta," kata Samin.

"Saya bilang dari awal, saya tidak punya uang. Tidak usah dibayar."

Tanpa perjanjian atau cicilan, bantuan itu datang murni dari hati.

"Tidak rugi. Allah yang lebih tahu." ujar tokoh itu seperti yang ditirukan Samin. 

Bagi Samin, rumah itu lebih dari sekadar tempat berteduh. Rumah itu adalah pengingat bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada tangan-tangan yang terulur untuk membantu tanpa banyak tanya.

Kesendirian di Usia Senja

Samin menjalani hidup seorang diri, tanpa istri.

Anak yang pernah dianggapnya sebagai darah daging kini harus menjalani hukuman penjara.

Saudara-saudaranya pun tersebar, sebagian di Madura, sebagian di luar daerah.

"Tidak ada siapa-siapa," ucapnya singkat.

Hari-harinya dilalui tanpa kendaraan pribadi.

Sepeda motor yang dulu menjadi andalannya telah terjual seharga Rp 1,4 juta untuk melunasi tumpukan utang. Samin meminjam uang untuk berobat akibat sakit.

"Daripada saya mati masih punya utang. Lebih baik saya tidak punya motor."

Kini, ketika perlu bepergian atau berobat, Samin bergantung pada kebaikan tetangga atau warga sekitar yang bersedia mengantarnya.

Sumber penghidupannya berasal dari bertani kecil-kecilan.

Ia menanam buncis di lahan terbatas, hasilnya dijual kepada pengepul yang datang menggunakan kendaraan bak terbuka.

Panen biasanya datang setiap empat hingga lima hari.

Jika kondisi sedang bagus, ia bisa meraup Rp 75.000 dalam sehari, namun pendapatan tersebut tidak selalu stabil.

Dalam sebulan, penghasilannya rata-rata hanya berkisar Rp 200.000 hingga Rp 300.000, yang seringkali habis untuk membeli makan.

Samin mengidap asam urat dan pernah menderita penyakit kulit yang cukup parah.

Salah satu kakinya juga pernah tertabrak mobil, membuatnya kesulitan berjalan jauh.

"Kalau jalan jauh, harus berhenti. Kadang duduk dulu di pinggir jalan."

Menu makan Samin pun sangat sederhana.

Singkong rebus menjadi santapan utama, daunnya dimasak sayur, atau diancurkan agar terasa lebih mengenyangkan.

Ikan, ayam, atau telur jarang tersaji di meja makannya.

"Kalau makan ikan, biasanya kalau ada warga yang pulang kerja. Itu juga jarang. Paling sebulan sekali."

Beras yang ia konsumsi sebagian merupakan bantuan dari warga sekitar, namun Samin tetap berusaha membeli beras sendiri ketika bantuan tak lagi ada.

Bantuan sosial dari pemerintah, seperti bantuan langsung tunai atau bantuan pangan, tidak pernah ia terima secara langsung. "Saya dengar orang-orang dapat. Saya tidak."

Ia memiliki kartu BPJS, namun alamat untuk berobat terlampau jauh dari jangkauannya, menyulitkan akses terhadap layanan kesehatan.

Prinsip Hidup yang Tak Ternilai

Meskipun telah memasuki usia senja, Samin tetap memilih untuk bekerja selama tubuhnya masih sanggup.

Mencangkul, membersihkan kebun, dan pekerjaan fisik ringan ia lakukan jika diminta.

Baginya, bekerja bukan semata urusan uang;

ini adalah tentang harga diri.

"Daripada berdiri di depan rumah orang. Saya tidak mau jadi pengemis."

Prinsip itu ia pegang teguh sejak lama.

Selama tubuh masih bisa digerakkan, ia akan berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri.

Ketika ditanya harapannya kepada pemerintah, Samin tidak meminta bantuan besar atau fasilitas khusus.

"Mudah-mudahan RT ingat," ujarnya pelan.

Ia tidak mengetahui siapa gubernur atau wali kota saat ini.

"Siapa ya? Saya enggak tahu apa-apa, TV pun saya gak ada, ponsel apalagi". Ia hanya tahu presiden karena ikut memilih.

Di luar itu, hidup Samin berjalan sebagaimana adanya: bangun pagi, mengurus kebun, menunggu panen, menunggu orang lewat, menunggu hari berganti.

Di rumah kayu berukuran empat kali empat meter yang berdiri tegak di depan pemakaman Katolik, Samin menjalani hidup dengan cara yang sama setiap hari: bertahan sendiri di usia senja, dengan sisa tenaga yang ada, dan harapan yang sederhana.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan