Cara Media Jepang Bertahan di Era Disrupsi

Tantangan Industri Media di Jepang dan Upaya Menjaga Relevansi

Industri media di Indonesia menghadapi tantangan besar sejak media sosial menjadi kanal utama penyebaran informasi. Namun, di Jepang, industri media masih cukup tangguh meskipun juga menghadapi tantangan serupa. Negeri Sakura ini memiliki strategi unik untuk tetap relevan di era digital.

Saya bersama sejumlah perwakilan media dari Indonesia berkesempatan mengunjungi tiga media utama di Jepang, yaitu Nippon TV, The Hokkaido Shimbun Press, dan The NHK Sapporo Broadcasting Station. Masing-masing media memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi menghadapi tantangan serupa, yakni penurunan jumlah pelanggan akibat depopulasi dan minat generasi muda yang menurun.

Nippon TV, salah satu stasiun televisi terbesar di Jepang, menyadari bahwa minat lansia terhadap TV dan informasi resmi masih tinggi, namun sulit menarik pemirsa muda. Untuk menjaga relevansi, Nippon TV memperluas kehadiran internasional dengan membuka kanal YouTube yang telah memiliki 3,1 juta subscriber dan video sebanyak 82.000. Selain itu, Nippon TV juga menyiarkan konten dalam bahasa asing seperti Mandarin dan bekerja sama dengan influencer di berbagai negara.

Shinichiro Ochi, Senior Producer Nippon TV, menekankan bahwa kualitas konten tetap menjadi prioritas. Ia menyebutkan bahwa influencer tidak dapat menyajikan sumber berita yang kaya dan analisis mendalam yang membutuhkan waktu dan biaya tinggi. Contohnya, penggunaan gambar satelit sebagai pendekatan diferensiasi.

Selain itu, Nippon TV melihat peluang di lini penjualan konten, khususnya untuk dipasarkan ke luar negeri. Meski belum sepenuhnya menggunakan artificial intelligence (AI) dalam produksi, Nippon TV memiliki tim khusus yang mengkaji potensi pemanfaatan AI untuk pemeriksaan fakta.

Strategi Unik The Hokkaido Shimbun Press

Berbeda dengan Nippon TV, The Hokkaido Shimbun Press memiliki strategi yang tak kalah unik dengan menghadirkan koran untuk anak-anak. Tujuannya adalah untuk menanamkan kebiasaan membaca dan menulis pada generasi muda. Koran reguler terbit tiap hari dengan ukuran 40x54 cm, sedangkan koran anak-anak terbit dua kali sebulan dengan ukuran lebih kecil, 7x40 cm.

Ishimaru, perwakilan The Hokkaido Shimbun Press, menjelaskan bahwa koran tersebut digunakan sebagai bahan ajar di sekolah, terutama untuk mata pelajaran Bahasa Jepang dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Anak-anak SD turut berpartisipasi dalam penulisan berita, sehingga mereka dapat berlatih menulis sejak dini.

Daisaku Oya, Digital Editor The Hokkaido Shimbun Press, menjelaskan bahwa media ini memasarkan paket berlangganan dengan harga 4.300 yen atau sekitar Rp450.000 per bulan. Ini termasuk koran, media digital, dan koran anak-anak. Meski koran anak-anak terbit dua kali sebulan, isi tulisan di dalamnya edukatif dan sesuai minat anak-anak.

The Hokkaido Shimbun Press masih mampu menjual korannya hingga 710.000 eksemplar per hari, jauh lebih tinggi dibandingkan media di Indonesia. Daisaku menekankan bahwa media ini lebih mementingkan kualitas pembaca ketimbang jumlah pembaca.

Layanan Informasi Bencana Alam

Salah satu faktor lain yang membuat media di Jepang tetap relevan adalah layanan informasi bencana alam yang cepat dan update. Jepang sangat rentan terhadap gempa bumi dan bencana alam lainnya. The NHK Sapporo Broadcasting Station, misalnya, memiliki sistem deteksi bencana di ruang kontrol dan memberikan informasi secara real-time.

Hiroyuki Hamada, Full Time Manager The NHK Sapporo Broadcasting Station, menjelaskan bahwa NHK menyediakan channel khusus untuk orang asing yang akan memberikan imbauan evakuasi dalam berbagai bahasa. Selain itu, NHK juga memiliki program khusus untuk pelanggan disabilitas.

Keandalan media Jepang dalam memberitakan informasi bencana terasa saat gempa bumi M7,6 mengguncang Jepang. Siaran TV langsung memberikan informasi dan peringatan tsunami, meskipun gempa terjadi jauh dari Tokyo.

Upaya Menjaga Relevansi

Pemaparan dari Kurasawa Haruo, Direktur Bee Media, menunjukkan bahwa publik Jepang menghadapi tantangan serius terkait penyebaran informasi palsu. Hal ini justru menjadikan media di Jepang kembali mendapatkan kepercayaan publik sebagai sumber informasi yang terpercaya.

Meski oplah media cetak di Jepang cenderung menurun, penurunannya tidak separah yang terjadi di Indonesia. Haruo menjelaskan bahwa masih ada sekitar 4.000 koran di Jepang dengan total sirkulasi sekitar 30 juta eksemplar per hari.

Jepang diuntungkan oleh populasi yang gemar membaca, meskipun populasi tersebut makin menua. Sebaliknya, Indonesia memiliki struktur demografi yang lebih muda dan terus bertumbuh. Kebutuhan terhadap informasi tetap tinggi, dan industri media di Indonesia harus memperkuat kehadiran dan kredibilitasnya bagi generasi muda.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan