
Potensi Temulawak sebagai Kekuatan Ekonomi dan Budaya
Temulawak, yang dikenal dengan nama ilmiah Curcuma xanthorrhiza, sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Tanaman ini tidak hanya digunakan dalam bumbu masakan tetapi juga sebagai jamu rumahan yang diketahui memiliki berbagai manfaat kesehatan. Dikatakan bisa membantu meningkatkan stamina, melancarkan pencernaan, serta melindungi kesehatan hati. Meski begitu, sebagian besar khasiat temulawak masih berdasarkan pengalaman turun-temurun.
Penelitian dan uji klinis terhadap temulawak masih terbatas, sehingga membutuhkan lebih banyak bukti ilmiah untuk mendukung klaim-klaimnya. Dunia internasional saat ini sedang gandrung pada obat herbal, namun mereka menginginkan bukti yang kuat, seperti uji keamanan, dosis yang konsisten, dan uji klinis pada manusia. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi Indonesia.
Nilai pasar obat herbal global diperkirakan mencapai US$37,9 miliar (Rp631 triliun) pada 2032. Negara seperti Korea Selatan (Korsel) telah membuktikan bahwa tanaman obat bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus alat diplomasi budaya. Mereka berhasil menjadikan ginseng sebagai ikon nasional dan komoditas ekspor unggulan. Melalui Korea Ginseng Corporation (KGC), produk ginseng kini diekspor ke lebih dari 60 negara dan menguasai sekitar 40% pasar dunia.
Strategi Korsel dalam memasarkan ginseng tidak hanya sekadar menjual produk, tetapi juga menyesuaikan format dan citra dengan selera global. Misalnya, mereka menciptakan suplemen berbentuk gummies dan jelly sticks serta melakukan kampanye dengan duta merek yang akrab bagi publik internasional. Kesuksesan ini tidak lepas dari investasi besar dalam riset dan inovasi, termasuk menciptakan varietas ginseng baru yang lebih tahan iklim ekstrem dan teknik budidaya inovatif untuk menjaga mutu.
Pemerintah Korsel juga aktif dalam kebijakan Globalization of Traditional Korean Medicine, yang mengintegrasikan riset, industri, dan promosi budaya. Hasilnya, ginseng bukan lagi sekadar produk herbal, tetapi simbol diplomasi ekonomi dan kebanggaan nasional Korsel.
Di Indonesia, sejak 2023, Kementerian Kesehatan bersama BRIN, perguruan tinggi, dan lintas kementerian telah menetapkan temulawak sebagai tanaman unggulan nasional. Tahun 2025 ditargetkan terbit Keputusan Presiden untuk memperkuat posisinya agar sejajar dengan ginseng Korea di masa depan.
Indonesia juga memiliki dasar regulasi yang kuat: klasifikasi jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Temulawak bahkan telah tercantum dalam Farmakope Herbal Indonesia dan diakui dalam Farmakope Eropa. Namun, penerapan standar mutu di industri masih lemah. Indonesia memerlukan penegakan standar yang nyata, mulai dari budi daya dan standardisasi yang konsisten agar produk temulawak Indonesia layak ekspor.
Langkah tersebut perlu mencakup sistem sertifikasi produksi pertanian dengan teknologi ramah lingkungan atau Good Agricultural and Collection Practices (GACP), pengolahan dengan sistem pedoman mutu lewat Good Manufacturing Practices (GMP), hingga standardisasi produk akhir.
Pada akhirnya, untuk bisa memasarkan temulawak secara global, kita perlu strategi terpadu: riset ilmiah jangka panjang, regulasi mutu yang kuat, kemitraan industri-inovasi, serta promosi budaya global. Dengan ilmu sebagai paspor, industri sebagai penggerak, dan diplomasi sebagai panggung, temulawak dapat melangkah dari jamu dapur menuju ikon kesehatan dunia.
Jadi, pertanyaannya kini bukan lagi apakah temulawak bisa mendunia, tetapi apakah kita siap mengantarkannya ke sana?
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar