Cepat Sembuh, Ya Mak

Doa Ibu dan Kekuatan yang Tak Terlihat

"Wuih, hampir nabrak! Kita selamat karena doa ibuku works! Terima kasih, Yaa Allah..." Pernah mendengar anak remaja berkata seperti ini dengan penuh semangat? Dari nada bicaranya, dia kelihatan yakin ibunya selalu mendoakannya, di manapun dia berada. Dan saat ditanya, "Tahu dari mana, ibunya mendoakannya?", remaja ini menjawab singkat. "Random aja sih..."

Doa adalah salah satu tugas utama seorang ibu. Dari ilustrasi di atas, sepertinya ibu dan doa untuk anaknya menjadi dua hal yang tidak terpisahkan. Bahkan ketika ibu sedang tersakiti hatinya oleh perkataan anaknya, masih saja mendoakan agar anaknya insyaf. Mengapa demikian?

Boleh jadi saya akan mendapatkan beragam jawaban yang tidak dituliskan dalam kolom komentar. Dan salah satunya menyebut bahwa seorang ibu begitu mulia hatinya. Penuh cinta, dan tidak ingin darah dagingnya mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.

Hohoo, bukankah seorang ayah juga demikian? "Tidak, tidak. Seorang ibu lebih dari itu!" jawab remaja itu lagi, sebelum berlalu meninggalkan saya.

Video Singkat yang Menyentuh

Pada suatu pagi yang dingin ketika anak-anak baru saja berangkat sekolah dan rumah berubah hening, saya menemukan video singkat yang dibagikan seorang teman. Caption di sana berbunyi, "Cepet sehat, ya Mak..." Tampak Bunda teman saya ini sedang merekam perjalanannya menuju rumah sakit. Mulai dari berhenti sejenak di depan lintasan kereta api, lanjut melewati persawahan hijau, menembus jalan-jalan kota Metro, melewati bundaran tugu Pena, hingga akhirnya menyusuri koridor panjang. Seorang wanita renta duduk lemah di atas ranjang rumah sakit dengan mata basah, memandang anak perempuan dan cucu-cucunya dengan perasaan berharga.

Tanpa menunda lagi, saya langsung mengaminkan dan ngobrol via chat. Terungkaplah alasan kepulangan teman ini beberapa hari lalu, karena ingin menemani ibunya yang sedang sakit. Pantas saja kedua anak kembarnya (serta si bungsu) melewatkan hari terakhir pelaksanaan ujian semester di sekolah.

Ibu Dirawat di Rumah Sakit, Urgent bagi Anak Rantau untuk Pulang

Berani merantau, harus berani pulang. Prinsip ini juga yang saya miliki ketika mengikuti suami. Saat itu ibu mertua sakit dan kami boyongan pulang kampung. "Gong"nya adalah hampir ditolak petugas pelabuhan sebab saat itu saya sedang hamil tua. Bahkan tidak hanya itu, saya juga sudah mengurus surat pindah sekolah untuk dua anak kami. Siapa yang tahu dua tahun kemudian, ibu yang saya tinggalkan dalam keadaan sehat, tiba-tiba sakit keras.

Saya yakin pengalaman ini dirasakan juga oleh banyak orang. Ketika berada jauh di rantau, hidup memberi kesempatan untuk pulang kepada ibu yang dicintai. Hikhik.

Tidak Semua Orang Beruntung

Tapi jika kita mendengarkan pengakuan pengguna media sosial seperti Threads, cukup banyak yang tidak mempunyai hubungan baik dengan ibu mereka. Hffft... saya turut prihatin (berkata dengan nada lembut). Jangan salah. Ini bukan soal beruntung atau tidak beruntung. Setiap orang memang harus belajar menyesuaikan diri untuk membina hubungan dengan siapa saja, lebih-lebih ibu. Tidak ada sim salabim dalam kehidupan nyata, bukan?

Seperti yang sudah disinggung di awal, doa ibu "bekerja" untuk anak-anaknya. Rugilah orang yang mengesampingkan ridho (restu) ibunya. Bahkan untuk menjadi sukses, rezeki lancar, berhasil dalam bisnis, hubungan baik dan doa ibu sesungguhnya amat penting. Mari simak penuturan Jusuf Hamka, pengusaha jalan tol dengan penghasilan 5 miliar per hari, berikut ini:

Anak adalah Penyejuk Mata Kedua Orang Tuanya

Menjadi orang tua adalah proses. Mulanya hanya seorang anak kecil yang manja dan bergantung kepada ibu dan ayahnya, lalu menjadi remaja dengan segala fase psikologis termasuk pubertas, kemudian melewati masa muda yang mandiri dan mungkin emosional. Hingga suatu hari menemukan belahan jiwa menuju bahtera rumah tangga. Di titik ini, seseorang belum otomatis menjadi orang tua. Harus menunggu saat takdir menggariskan hadirnya si buah hati. Puncaknya, saat bayi mungil itu beranjak tumbuh dan memberikan tantangan demi tantangan. Saat pening kepala dan berkorban jiwa raga itulah seseorang mulai menyadari sulitnya menjadi orang tua. Membayangkan bagaimana kira-kira orang tua sebelum mereka, bisa melewati banyak kesusahan demi membahagiakan anak-anaknya.

Dengan pemahaman ini, akan sangat layak bila anak memperlakukan kedua orang tuanya dengan penuh cinta pula. Menjadi penyejuk mata yang mendamaikan hati ibu dan ayahnya.

Dia Memang Lemah, Karena Itu Muliakan Lah

Hidup memang ibarat roda berputar. Puluhan tahun lalu, ibu masih nampak muda dan kuat. Ibu berjuang menghidupi anak-anaknya dengan segala upaya. Ibu menjadi sandaran dan tempat berkeluh-kesah. Siang berganti malam, pagi berganti petang. Tak terasa wajah ibu mulai diisi garis-garis halus. Suaranya mulai parau, dan tangannya mulai gemetar memegang gelas minumnya. Akan mudah sekali bagi seorang anak menghancurkan hati ibunya. Hanya dengan sedikit bentakan, atau kata-kata kasar, maka jatuhlah air matanya bercucuran.

Justru dengan kondisi ini, seorang ibu pantas dimuliakan anak-anaknya. Betapa ibu senantiasa mendahulukan kebahagiaan anaknya dengan satu alasan saja: amanah (titipan) dari Sang Pencipta.

"Cepet sehat, ya Mak..." akan selalu menjadi harapan anak-anak yang mencintai ibunya. Diiringi segala doa dalam ibadahnya. Semoga bermanfaat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan