
Sudah empat kali aku mencoba menulis cerpen. Beberapa dari karya-karyaku antara lain: Kofie, 10 M Uang Bodoh, 10 Kanal dan Satu Weg, dan Udara Seperenambelas Kematian. Aku membaca ulang cerpen 10 Kanal yang dibagi menjadi dua babak. Dalam proses baca ulang ini, babak pertama terasa kurang memadai dan perlu direvisi secara total jika ingin ditulis ulang. Sementara untuk cerpen Udara, aku mencoba menggunakan kata ganti "aku". Penggunaan kata ganti ini bagi saya terasa menakutkan dan sulit. Dulu saya selalu menghindarinya. Ternyata, dengan cerpen Udara, rasa takut akan penggunaan "aku" itu agak tergusur. Saya harus berterima kasih kepada M. Iqbal yang memberikan referensi ultim untuk menulis cerpen. Kumcer Iksaka Banu Semua Demi Hindia adalah pencerahan yang luar biasa. Berbeda dengan penggunaan kata ganti orang ketiga yang cenderung membuat penjelasan naratif lebih luas, tetapi justru bisa membuatnya bertele-tele dan kurang nyambung, penggunaan "aku" justru menggali imajinasi untuk bisa lebih personal dalam naratif.
Tak terasa, aku masuk ke dalam cerpen kelima. Judul sementaranya adalah Sang Kontrolir. Setelah Sang Kontrolir, aku menulis cerpen Senyum Manis Tuan Lim. Sesudahnya, aku jeda dari menulis cerpen. Eh, malahan menulis novelet. Saat ini, aku tidak ingin membayangkan bagaimana bentuk novelet ini akan menjadi. Biarkan saja berdialektika.
Aku telah menyelesaikan membaca Kumcer Iksaka Banu "Semua Untuk Hindia". Sebelumnya, aku bertekad untuk membaca ulang cerpen-cerpen ini. Tapi, aku bergeser. Aku juga menyelesaikan membaca cerpen Sumur karya Eka Kurniawan. Terbitan Gramedia. Cerpen ini sebanyak hampir lima puluh halaman. Aneh juga, Gramedia menerbitkan cerpen tunggal. Rupanya, cerpen Sumur ini pernah diterbitkan oleh Penguin Books. Aku juga menyelesaikan membaca dua cerpen Eka: Kutukan Dapur dan Lesung Pipit. Antara Sumur dan Lesung Pipit ada kesamaan dalam setting, yaitu mata air yang menjadi sarana penghidupan kampung.
Lalu aku mengunduh aplikasi Fizzo Novel. Ini setelah membandingkan dengan aplikasi-aplikasi sejenis. Fizzo diunduh 50-an juta kali. Aplikasi-aplikasi sejenis tidak ada yang mencapai jumlah unduhan seperti ini. Bisa jadi, aku mencoba mengunduh aplikasi ini karena omongan istriku tentang cerpen online. Sulit mencari aplikasi cerpen online. Justru banyak aplikasi novel online. Maka, aku mencoba mengunduh aplikasi tersebut. Dua hari lalu, aku memposting cerpen Kofie yang rencananya akan diubah format menjadi novel. Kofie bisa dibilang sebagai cerpen pertamaku lagi. Cerpen yang kugarap serius karena untuk membuatnya aku mencari referensi-referensi historis dan mengkonstruksi konteksnya dengan logis.
Cerpen Kofie ini sempat kumohon ke Jawa Pos. Lantaran beberapa bulan tak ada kabar, maka kuanggap gagal tayang. Aku sempat minta ulasan dari M. Iqbal, editor Marjin Kiri. Menurutnya menarik, hanya masih banyak kekurangan. Iqbal juga mengirimkan beberapa buku kumcer untukku mengasah diri.
Cerpen Kofie yang kuubah format jadi novel terasa punya nafas panjang. Sebagai cerpen konflik batinnya hambar, tapi saat diubah menjadi Bab 1 ia membuka kemungkinan yang luas. Sebenarnya aku gambling juga memasukkan Kofie ke Fizzo sebagai novel. Entah, apa ada yang akan tertarik membacanya. Tapi, tak ada salahnya test the water. Rupanya, dalam dua hari, sudah tercatat 111 tayangan. Berarti ada 111 pasang mata yang sudah menekuri Bab 1 Kofie.
Fizzo, saat kucermati lagi, memuat novel-novel para pemula. Banyak novelnya berkisar tema 18+. Rupanya di situlah pangsa pasarnya utamanya. Fizzo juga membuat leverage agar penggunanya tertarik membaca dan menyebarkan aplikasinya kepada teman-teman. Dia bikin sistem koin yang nantinya akan diubah menjadi saldo rupiah. Semakin banyak baca novel di Fizzo, maka semakin banyak poin terkumpul. Merekomendasikannya juga dapat koin.
Ada penulis novel di Fizzo yang mengklaim novelnya sudah diterbitkan Gramedia. Pengikutnya di Fizzo sudah jutaan. Tapi, aku belum cross-check klaim ini.
Fizzo bilang bila novel yang diunggah sudah mencapai 5.000 kata, maka si penulis akan dikontrak. Tapi, novel itu sendiri ditarget mencapai 50.000 kata.
Bisa dibilang, menulis cerpen bahkan novel secara serius adalah out of the box bagiku. Terbiasa menulis artikel dan esai bikin mindset terkotak di situ. Kalau tak ada sesuatu yang luar biasa yang mendorong keluar dari kotak, maka penulis artikel akan tetap di dunia artikel. Aku mengalami peristiwa luar biasa yang bikin aku keluar dari kotak artikel dan esai. Peristiwa yang tak perlu disebutkan di sini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar