
China, sebagai negara utama pembeli minyak mentah Venezuela, mengecam tindakan Amerika Serikat (AS) yang dianggap melanggar hukum internasional. Pemerintah China menilai bahwa serangan dan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan negara tersebut.
Sebagai pembeli minyak mentah terbesar sekaligus kreditur utama bagi Venezuela, China mengungkapkan kekecewaannya terhadap tindakan AS. Dalam pernyataannya, juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyampaikan bahwa penggunaan kekuatan oleh AS terhadap negara berdaulat serta tindakan terhadap presidennya sangat merusak perdamaian dan keamanan di kawasan Amerika Latin dan Karibia.
Meskipun China tidak lagi mengimpor minyak mentah Venezuela sejak Maret 2025, data pihak ketiga dan pelacakan kapal menunjukkan adanya aliran minyak dari Venezuela ke China yang signifikan selama tahun lalu. Kilang independen di China, yang dikenal sebagai ‘teapots’, menjadi pembeli utama minyak Merey dari Venezuela. Minyak ini adalah jenis minyak mentah berat yang biasa digunakan untuk produksi bitumen dalam pengaspalan jalan.
Minyak Merey ditawarkan dengan diskon besar dibandingkan jenis minyak lainnya, sehingga menarik bagi kilang-kilang di China yang menghadapi margin keuntungan yang tipis. Distribusi minyak Venezuela ke China juga dilakukan melalui jalur yang tidak biasa. Pengiriman umumnya memakan waktu lebih dari dua bulan dan melibatkan beberapa kali pemindahan muatan dari kapal ke kapal untuk menyamarkan asal kargo.
Selain itu, China telah menjadi kreditur utama bagi Venezuela sejak 2007. Awalnya, China memberikan dana untuk proyek infrastruktur dan minyak pada masa pemerintahan Presiden Hugo Chávez. Data publik menyebutkan bahwa China telah memberikan pinjaman berbasis minyak senilai lebih dari USD 60 miliar kepada Venezuela melalui bank-bank milik negara hingga 2015. Angka ini mencerminkan investasi diplomatik dan finansial yang tinggi di kawasan Amerika Latin.

Selain China, beberapa negara lain seperti Brasil, Rusia, Kolombia, Meksiko, dan Kuba juga mengecam operasi militer AS di Venezuela. Rusia menyampaikan rasa prihatin mendalam terhadap tindakan AS, sementara Presiden Brasil Lula da Silva menyebut bahwa AS telah melewati batas.
“Tindakan ini mengingatkan pada episode terburuk campur tangan dalam politik Amerika Latin dan Karibia dan mengancam untuk merusak status kawasan tersebut sebagai zona perdamaian,” tulis Presiden Brasil di X.
Presiden Kolombia Gustavo Petro sedang berupaya mengadakan pertemuan Dewan Keamanan PBB untuk menolak agresi AS terhadap kedaulatan Venezuela. Langkah ini didukung oleh Brasil, Rusia, dan Meksiko. Sementara itu, pemimpin Kuba, Miguel Diaz-Canel, menyerukan komunitas internasional untuk mengambil sikap terhadap serangan AS ke Venezuela yang disebutnya sebagai tindakan kriminal.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar