Fase Remaja dan Perasaan Jatuh Cinta

Jatuh cinta adalah hal yang wajar terjadi pada manusia, tanpa memandang usia. Baik itu orang tua, remaja, maupun anak-anak, semua bisa merasakan perasaan ini. Namun, jatuh cinta lebih berkesan ketika terjadi di fase remaja. Fase ini sering disebut sebagai masa penuh perubahan emosional, seperti menaiki wahana roller coaster yang memiliki banyak lengkungan. Ada saat-saat di mana kita merasa terlalu menggebu-gebu hingga melupakan akal dan logika. Di sisi lain, ada juga masa di mana kita merasa hampa, mengira bahwa cinta bukanlah untuk diri kita sendiri. Semua hal ini sering terjadi selama masa remaja.
Terkadang, jatuh cinta tidak memperhatikan latar belakang dari orang yang kita cintai. Apapun suku, keluarga, asal, atau agamanya, cinta bisa membuat kita mengabaikan segalanya. Hampir sebagian besar remaja pernah mengalami hal ini, terutama dalam mencintai seseorang tanpa memedulikan agamanya.
Agama memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Ia menjadi pedoman hidup, membimbing kita untuk memilih jalan yang benar dan menghindari jalan yang salah. Selain itu, agama juga mengatur bagaimana kita berinteraksi dengan sesama manusia. Meskipun agama memberikan ruang untuk berinteraksi tanpa memandang latar belakang, kita tetap harus tahu batasan dalam hubungan tersebut.
Agama tidak melarang kita untuk mencintai sesama manusia. Bahkan, Tuhan menciptakan cinta untuk mempersatukan umat-Nya, bukan untuk memecah belahnya. Namun, karena adanya perbedaan keyakinan, hal ini menjadi tolok ukur bagi seseorang untuk melanjutkan hubungannya ke tahap yang lebih serius. Ini sering menjadi bahan perdebatan antara pasangan yang percaya bahwa "agama bukan penghalang dalam mencintai seseorang". Padahal, agama secara halus melarang hubungan antar sesama yang tidak seiman.
Dalam kitab II Korintus 6:14, tertulis, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?" Ayat ini menekankan pentingnya kesamaan ikatan rohani dalam hubungan yang mendalam. Meskipun konteks awalnya lebih luas, ayat ini bermaksud untuk menasihati umat agar tidak membentuk ikatan asmara atau pernikahan dengan mereka yang memiliki keyakinan berbeda.
Dalam Al-Qur'an, tidak ada penjelasan spesifik tentang hubungan tak seiman. Namun, dalam surat Al-Kafirun ayat 6, disebutkan, "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku". Ayat ini secara jelas memisahkan urusan akidah (keyakinan) dan ibadah antara pemeluk Islam dan non-Islam, menekankan adanya batasan dan pengakuan terhadap perbedaan keyakinan. Dua orang dengan agama yang berbeda, tetapi memiliki keyakinan yang sama, yaitu bahwa dalam menjalin ikatan cinta, harus memiliki ikatan rohani yang sama.
Sebagai seorang remaja yang sedang jatuh cinta, hal ini sangat normal. Jatuh cinta kepada seseorang adalah hal paling indah dalam hidup. Akan tetapi, jatuh cinta belum tentu berbalas. Mencintai seseorang adalah hal yang mudah, tetapi memiliki cinta itu adalah hal yang sulit untuk direalisasikan. Perasaan cinta muncul dari berbagai arah, seperti pandangan pertama, cara berbicara, atau perlakuan orang tersebut terhadap kita. Hal-hal ini menciptakan gejolak di hati kita untuk mencintai atau menyukai seseorang.
Terkadang, hal ini disalahpahami oleh beberapa orang yang mudah jatuh cinta. Banyak orang lupa bahwa tidak semua orang mengerti bahwa perlakuan mereka adalah hal yang lumrah dan sama terhadap orang-orang yang mereka kenal. Mereka seolah-olah menormalisasi perlakuan mereka atas dasar "dekat" dengan orang tersebut. Sehingga, orang akan merasa bahwa mereka adalah orang yang spesial. Pada kenyataannya, perlakuan tersebut diterapkan kepada semua orang. Peristiwa ini sering disebut "Friendly" di kalangan Gen-Z.
Seseorang dianggap friendly oleh Gen-Z karena mereka memancarkan aura yang inklusif dan tidak menghakimi. Di mata Gen-Z, orang yang friendly adalah orang yang cepat tanggap terhadap pesan. Mereka tidak akan "ghosting"—menghilang tiba-tiba—karena itu dianggap sebagai tindakan yang tidak menghargai perasaan dan waktu orang lain.
"Friendliness" sering kali dianggap negatif, karena dirasa memberikan harapan palsu kepada seseorang. Walaupun, pada kenyataannya hal tersebut adalah hal yang normal dan menurut mereka itu adalah cara mereka menunjukkan sifat ramah mereka.
Di sisi lain, sebagai seorang remaja yang sedang jatuh cinta, kita harus bisa memilih dan menjaga perasaan, baik kepada seseorang maupun terhadap diri sendiri. Terkadang kita akan dihadapi dengan orang-orang yang dekat dengan kita hanya sesaat dan menghilang secara perlahan. Bukan karena tidak ada ketertarikan, tetapi karena mereka takut untuk melanjutkan kedekatan tersebut. Hal ini sering disebut "Avoidant".
Avoidant sering kali dianggap sebagai sifat yang tidak acuh kepada seseorang. Akan tetapi, itulah cara mereka jatuh cinta. Mereka akan menjaga jarak dan menghindar jika sudah merasa hubungannya terlalu dekat. Mereka perlahan-lahan akan menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba kembali tanpa rasa bersalah.
Itulah sebabnya, banyak remaja kesulitan untuk mendapatkan cinta yang mereka inginkan. Banyak sekali halangan yang harus dihadapi. Mulai dari tembok yang terlalu tinggi, perasaan yang tidak pasti, hingga terlalu jatuh cinta kepada orang yang terlihat mencintai kita.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar