Cinta Laura: Sawit Sebagai Karunia, Mengapa Hanya Sedikit yang Nikmati?

Kritik Cinta Laura Kiehl terhadap Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera

Aktris ternama, Cinta Laura Kiehl, menyampaikan kritik tajam terkait bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera. Dalam pernyataan terbarunya, ia menyoroti kontras antara narasi tentang kekayaan sumber daya alam, khususnya kelapa sawit, dengan realitas penderitaan yang dialami rakyat kecil akibat kerusakan lingkungan.

Cinta mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap sebagian pihak yang dinilainya kurang peka terhadap krisis yang sedang terjadi. Menurutnya, saat rakyat sedang berjuang melawan bencana, justru muncul narasi yang memperagakan industri ekstraktif sebagai sesuatu yang positif.

"Apa mereka yang hidup jauh dari realita rakyat sudah terlalu lama enggak ngerasain tanah dan udara yang jadi kenyataan sehari-hari bagi kita ya? Sampai-sampai saat rakyat tenggelam, yang keluar bukan empati, tapi kalimat manis tentang 'karunia sawit'," ujar Cinta dalam video yang diunggah di Instagramnya, Rabu (10/12/2025).

Ia juga mempertanyakan klaim "karunia" tersebut jika pada kenyataannya manfaat ekonomi tidak dirasakan secara merata, sementara dampak kerusakannya justru harus ditanggung oleh masyarakat luas. Pertanyaan ini menjadi bagian dari argumen kuat yang disampaikan Cinta.

"Kalau komoditas seperti sawit dianggap 'karunia', kenapa yang nikmatin hanya segelintir? Siapa yang sebenarnya menang saat hutan hilang, sistem air rusak, bumi panas, dan banjir makin besar?" tanya Cinta.

Ketimpangan yang Terjadi di Lapangan

Cinta menegaskan bahwa ketimpangan yang terjadi di lapangan sangat jelas. Menurutnya, keuntungan besar hanya dinikmati oleh pemilik modal, sedangkan rakyat kecil, termasuk pekerja lapangan, hanya mendapatkan sisa-sisa dampak buruknya.

"Pemilik modal tentu dapat margin, middleman dapat insentif. Tapi gimana dengan pekerja lapangan dan rakyat kecil lainnya? Mereka yang selalu nanggung harga termahal, menghirup asap, menerima upah minimum, dan tinggal di wilayah rawan bencana," tuturnya.

Bencana Bukan Sekadar Takdir

Lebih lanjut, Cinta menekankan bahwa bencana banjir yang terjadi saat ini tidak bisa dianggap sekadar takdir atau faktor alam semata. Ia menyebut bencana ini adalah konsekuensi dari eksploitasi alam yang berlebihan, seperti penebangan hutan dan pengerukan tanah.

"Banjir ini bukan kutukan langit. Ini hasil dari pilihan manusia. Hutan yang ditebang, tanah yang dikeruk, air yang dicemari," kata Cinta.

Desakan untuk Kebijakan Nyata

Cinta pun mendesak para pemegang kekuasaan untuk tidak hanya memberikan retorika, melainkan kebijakan nyata yang berpihak pada keselamatan rakyat dan kelestarian lingkungan. Ia menegaskan pentingnya tindakan nyata yang dilakukan oleh pihak berwenang.

"Turun ke lapangan, mikul beras, salam-salaman dengan warga, semua orang bisa ngelakuin itu. Tapi enggak semua orang punya otoritas untuk bikin kebijakan publik yang bisa menghentikan kerusakan ini. Hanya yang berkuasa yang bisa," ujarnya.

Kesimpulan

Pernyataan Cinta Laura Kiehl menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran lingkungan dan keadilan sosial. Ia menunjukkan bahwa bencana yang terjadi bukanlah hal yang alami, tetapi hasil dari tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian, diperlukan kebijakan yang lebih bijaksana dan berkelanjutan untuk menjaga kehidupan masyarakat serta keberlanjutan alam.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan