
Cinta yang Tak Pernah Hanyut, Ketika Kenangan Menjadi Jangkar di Tengah Kehilangan
Ada sebuah istilah Bahasa Madagascar yang saya suka hingga hari ini: "Ho an'ireo izay niala nefa mbola anatiny," yang terjemahkan dengan "Cinta yang tak pernah pergi: untuk mereka yang telah pergi, tapi masih tinggal di dalam hati." Kata-kata ini sangat cocok dengan situasi saudara dan saudari kita yang tertimpa bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Nangroe Aceh Darrusalam.
Di tengah derasnya air yang menyapu rumah, jembatan, bahkan nama-nama dari peta, ada sesuatu yang tetap utuh, tak terseret arus, tak terkubur lumpur: cinta. Bukan cinta yang bergantung pada kehadiran fisik, melainkan cinta yang justru semakin nyata ketika kepergian telah terjadi. Untuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh (daerah-daerah yang kembali diuji oleh amukan alam) kisah ini bukan tentang kekuatan bencana, melainkan tentang keuletan jiwa yang memilih untuk tetap mencintai, mengenang, dan berharap, meski dunia di sekitarnya runtuh dalam hitungan menit.
Ketika Air Naik, Kenangan Justru Mengakar Lebih Dalam
Banjir bandang mungkin mampu menghancurkan fondasi bangunan, namun ia tak mampu mengikis jejak tawa yang pernah menggema di ruang makan, aroma masakan ibu yang masih membekas di pikiran, atau genggaman tangan yang terakhir kali dirasakan sebelum segalanya berubah.
Di balik wajah-wajah yang kini memandang reruntuhan dengan mata kosong, tersimpan arsip hidup yang tak bisa diluluhlantakkan, sebuah arsip yang terus diperbarui lewat doa, lewat cerita yang diulang pada cucu, lewat nama yang disebut pelan di penghujung hari. Justru dalam kehampaan itulah, kenangan berubah dari bayangan menjadi kehadiran yang nyata: bukan ilusi, melainkan realitas batin yang memberi kekuatan untuk bernapas kembali.
Mereka yang Pergi Belum Benar-Benar Berpamitan
Dalam tradisi spiritual yang dalam (baik dalam iman Kristiani maupun dalam kearifan lokal Nusantara) kematian bukanlah penghapusan, melainkan perpindahan bentuk kehadiran. Mereka yang hilang dihanyutkan arus, atau yang terkubur dalam diam tanpa sempat mengucap salam terakhir, tidak lenyap dari komunitas jiwa.
Mereka kini tinggal dalam gerak tangan seorang kakak yang memeluk adiknya lebih erat, dalam kebiasaan seorang ayah yang masih menyiapkan secangkir kopi untuk dua orang, dalam nyanyian rohani yang dinyanyikan lebih pelan, lebih dalam.
Di sinilah iman dan kemanusiaan berjabat tangan: bahwa kepergian fisik justru membuka ruang bagi kehadiran rohani yang lebih murni, hadir bukan karena kebetulan, tapi karena pilihan untuk tetap mengingat, menghormati, dan mencintai tanpa syarat.
Bangkit Bukan Berarti Melupakan, Tapi Membawa Mereka dalam Setiap Langkah
Penyembuhan setelah bencana bukanlah proses menghapus luka, melainkan menenun luka itu ke dalam kain identitas baru, lebih kuat di jahitan yang pernah robek. Membangun kembali rumah bukan berarti mengganti yang lama, tapi menciptakan ruang di mana foto-foto lama bisa digantung lagi, di mana cerita tentang dia yang tak kembali bisa diceritakan tanpa rasa bersalah.
Anak-anak yang kehilangan orang tua mulai belajar: bahwa menjadi kuat bukan berarti tak boleh menangis, tapi berani menangis sambil tetap berdiri. Para penyintas yang kehilangan segalanya menemukan makna baru dalam kata milik: bukan tanah atau emas, tapi rasa saling menjaga, doa bersama di tenda pengungsian, dan kepercayaan bahwa Tuhan tidak sedang tidur, Dia sedang merangkul erat mereka yang terjatuh.
Cinta sebagai Aksi, Bukan Sekadar Perasaan
Di tengah duka yang menggunung, cinta menampakkan dirinya dalam bentuk paling konkret: nasi bungkus yang dibagi tanpa ditanya agama, tenaga relawan yang menggali lumpur hingga kuku terkelupas, pastor dan ustadz yang berdiri berdampingan di lokasi pengungsian, memimpin doa dalam bahasa yang berbeda namun dengan kerinduan yang sama, akan kedamaian.
Cinta yang tak pernah pergi bukanlah nostalgia pasif; ia adalah komitmen aktif untuk menjaga nyala kemanusiaan, untuk menolak membiarkan kehilangan mengeras menjadi kebencian atau keputusasaan. Ia adalah keputusan kolektif: Kami tidak akan biarkan kalian dilupakan. Kami tidak akan biarkan kalian sendirian.
Banjir suatu hari akan surut. Lumpur akan kering. Puing akan dibersihkan. Tapi yang tertinggal bukan hanya tanah yang kosong, melainkan tanah yang telah disiram oleh air mata, doa, dan cinta yang tak bisa diukur dengan meteran.
Di sanalah, perlahan, benih harapan ditanam kembali, bukan harapan yang buta, tapi harapan yang lahir dari keyakinan bahwa selama masih ada orang yang bersedia mengingat, menyebut nama, dan membawa cerita ke depan.
"Aza matahotra fa tsy misy olona namanao no very mandritra ny tontolo tany; fa ny fitiavana dia mandalo ny fahafatesana toy ny hazavana mandalo ny rivotra.": Jangan takut, sebab tak ada seorang pun yang kau kasihi benar-benar hilang selamanya di dunia ini; sebab cinta mampu menembus kematian, bagai sinar matahari yang menembus angin.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar