
Insiden Rasisme di Media Sosial Terhadap Dua Pemain Malut United
Dua pemain Malut United, Yakob Sayuri dan Yance Sayuri, menjadi korban serangan rasisme di media sosial usai pertandingan melawan Persib Bandung. Insiden ini terjadi setelah pertandingan yang berlangsung di Stadion Kie Raha, Ternate.
Latar Belakang dan Peristiwa
Yance Sayuri, salah satu pemain yang terlibat dalam insiden dengan kapten Persib Bandung, Marc Klok, mengalami benturan saat mencoba menghentikan serangan balik dari lawan. Akibatnya, keduanya terjatuh, dan Marc Klok tampak menarik celana Yance Sayuri. Respons spontan dari Yance Sayuri berupa gerakan seperti memukul memicu reaksi dari sejumlah netizen.
Meski Yakob Sayuri tidak bermain karena sanksi larangan bertanding, ia juga menjadi target serangan rasisme di media sosial. Hal ini bukan pertama kalinya Yance dan Yakob menghadapi isu rasisme. Sebelumnya, mereka pernah mendapat komentar rasis setelah laga melawan Persib Bandung pada pekan 31 Liga 1 2024/2025.
Reaksi dari Yance Sayuri
Setelah pertandingan, Yance Sayuri mengunggah video pendek di akun Instagram pribadinya @yansayuri11, menunjukkan bahwa ia berjalan sendiri saat pertandingan. Dalam keterangan video tersebut, Yance mengakui kesalahan atas tindakan ke Marc Klok dan menyampaikan permintaan maaf secara langsung dan melalui media sosial.
Namun, ia merasa kecewa karena beberapa netizen memberikan teguran dengan kata-kata rasialis. Ia menegaskan bahwa keluarganya tidak terlibat dalam pertandingan, sehingga tidak layak menerima hinaan.
“Anak dan istri saya tidak ikut bertanding di dalam lapangan kemarin. Terus kenapa kalian rasis istri dan anak saya yang tidak tahu apa-apa sama sekali,” tulis Yance dalam unggahannya.
Ia juga menyebut bahwa netizen menyamakan anaknya dengan makhluk seperti monyet, anjing, dan babi. “Kalian boleh rasis saya, tapi mohon dengan sangat hormat jangan pernah rasis anak saya yang belum tahu apa-apa sama sekali.”
Meski menghadapi serangan, Yance tetap sabar dan bahkan berdoa agar orang-orang yang menghinanya diberikan kesehatan dan berkat.
Tanggapan dari Klub dan Asosiasi
Media Officer Malut United, Weshley Hutagalung, menyatakan bahwa pihak klub sedang mempertimbangkan langkah hukum untuk menghentikan rasisme di sepak bola Indonesia. Ia juga mengajak PSM Makassar untuk bersama-sama mengecam tindakan rasisme ketika kedua tim bertemu dalam pertandingan pekan 15 Super League 2025/2026.
CEO Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), M Hardika Aji, menyatakan bahwa pihaknya masih dalam tahap komunikasi dengan para pemain terkait kasus rasisme. Meskipun APPI mendukung tindakan tegas terhadap pelaku, keputusan akhir tetap diserahkan kepada korban.
Hardika menegaskan bahwa APPI akan terus melakukan kampanye anti-rasisme bersama operator sepak bola Indonesia, I.League. Ia menilai bahwa tindakan represif diperlukan untuk mencegah pengulangan insiden serupa.
Kesimpulan
Insiden rasisme yang dialami oleh Yance dan Yakob Sayuri menunjukkan bahwa masalah ini masih menjadi tantangan besar dalam dunia sepak bola Indonesia. Meski demikian, upaya dari klub, asosiasi, dan pemain untuk menghadapi dan mencegah tindakan rasisme terus dilakukan. Dengan dukungan dari seluruh stakeholder, harapan besar terhadap masa depan sepak bola yang lebih inklusif dan aman terus diwujudkan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar