Daftar Konflik Global 2025 dan Ancaman Eskalasi ke 2026

aiotrade Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh dengan ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia. Konflik-konflik yang sudah lama berlangsung, seperti perang antara Rusia dan Ukraina serta Palestina dan Israel, terus memicu krisis yang semakin kompleks. Di samping itu, munculnya potensi konflik baru akibat persaingan wilayah, sumber daya, dan pengaruh politik juga turut memperburuk situasi. Dengan perubahan aliansi global, perlombaan persenjataan, serta kekuatan regional yang semakin kuat, sejumlah analis mengatakan bahwa periode 2025–2026 bisa menjadi titik krusial bagi arah keamanan dunia. Pertanyaannya adalah bagaimana konflik-konflik yang terjadi pada 2025 ini akan memengaruhi kemungkinan eskalasi atau deeskalasi pada 2026?

Daftar Konflik dan Perang Tahun 2025

Berikut adalah daftar konflik terbesar yang membentuk dinamika geopolitik di tahun 2025, sekaligus memberikan gambaran arah eskalasinya menuju 2026:

  1. Perang Rusia dan Ukraina
    Invasi Rusia ke Ukraina masih terus berlangsung hingga pertengahan Oktober 2025. Berbagai sumber memperkirakan kerugian pasukan Rusia mencapai 200.000–285.000 jiwa. Angka pasti sulit dipastikan karena minimnya data resmi dari Kremlin. Sementara itu, Ukraina juga kehilangan lebih dari 81.000 personel militer dan warga sipil antara 2024–2025. Jutaan warga mengungsi, disertai deportasi tawanan perang ke Rusia, membuat penelusuran korban secara akurat hampir mustahil.

  2. Wilayah Palestina (Gaza/Tepi Barat)
    Konflik Israel dan Gaza yang kembali memuncak sejak Oktober 2023 terus membawa dampak menghancurkan. ACLED memperkirakan 21.417 korban jiwa pada Agustus 2024–Agustus 2025, menjadikannya salah satu konflik paling mematikan. Serangan udara, pertempuran darat, dan blokade bantuan memicu gelombang pengungsian serta melumpuhkan layanan dasar. Kerusakan luas pada fasilitas kesehatan, sekolah, dan infrastruktur membuat PBB menyebut situasi kemanusiaan di Gaza sebagai bencana besar.

  3. Myanmar
    Perang saudara Myanmar yang telah berlangsung sejak 1948 kembali memasuki fase paling mematikan setelah kudeta militer 2021 memicu gelombang kekerasan baru. Meski sempat mereda selama periode reformasi 2011–2021, bentrokan antara militer dan berbagai kelompok etnis kembali meningkat tajam. Menurut estimasi ACLED, lebih dari 15.000 orang tewas antara pertengahan 2024 hingga pertengahan 2025. Jumlah tersebut melanjutkan tren kenaikan korban sejak 2021 yang sebelumnya mencapai belasan ribu jiwa tiap tahun.

  4. Sudan
    Perang saudara antara SAF dan RSF sejak 2023 menjadi salah satu konflik paling mematikan. ACLED mencatat sekitar 20.373 korban jiwa pada Agustus 2024–Agustus 2025, dengan angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi. Pertempuran menghancurkan kota besar, membuat lebih dari 12 juta orang mengungsi, dan memicu krisis kelaparan. PBB mengecam keras kekejaman yang meluas saat konflik memasuki tahun ketiganya.

  5. Afganistan
    Konflik berkepanjangan di Afghanistan, yang telah berlangsung sejak 1978, terus berlanjut meski pasukan AS dan PBB sudah angkat kaki pada 2021. Setelah Taliban kembali menguasai negara, bentrokan dengan berbagai kelompok, termasuk ISIL-K, tetap memicu kekerasan. Menurut Rawadari, sekitar 768 orang tewas pada 2024, sementara data ACLED menunjukkan ribuan korban jiwa masih tercatat dalam beberapa tahun terakhir. Ketidakstabilan dan serangan sporadis membuat angka korban 2025 sulit dipastikan.

  6. Meksiko
    Perang Narkoba di Meksiko terus menelan korban di tengah bentrokan antara pemerintah dan kartel-kartel besar yang beroperasi dengan kekerasan ekstrem. Sejak 2006, konflik ini diperkirakan telah merenggut lebih dari 350.000 nyawa, sementara 72.000 orang masih hilang. Menurut ACLED, 8.616 korban jiwa tercatat antara Agustus 2024 hingga Agustus 2025, menegaskan bahwa perang melawan kartel tetap menjadi salah satu krisis keamanan paling mematikan di dunia.

  7. Yaman
    Perang saudara di Yaman, yang meletus sejak Houthi merebut Sanaa pada 2014, terus berlangsung sengit dengan kedua kubu mengklaim sebagai pemerintah sah. Intervensi koalisi yang dipimpin Arab Saudi sejak 2015 turut memperluas skala konflik. Menurut berbagai sumber, sekitar 1.000–3.000 orang tewas sepanjang 2025. Sementara perhitungan ACLED menunjukkan lebih dari 140.000 korban jiwa sejak perang dimulai, menjadikannya salah satu krisis kemanusiaan paling berkepanjangan di kawasan.

  8. Konflik lain berbagai skala
    Sejumlah negara lain juga menghadapi konflik berkepanjangan dan kekerasan bersenjata, mulai dari pemberontakan teroris, kekerasan etnis, hingga perang saudara. Beberapa contohnya adalah:

  9. Pemberontakan teroris: Irak, Nigeria, Bangladesh, DR Kongo, Iran, Thailand, Tanzania, Uganda, Aljazair, Angola, Maroko, Pantai Gading, Kamerun, Niger, Mali, Burkina Faso, Chad, Benin, Rwanda, Tunisia, Togo, Libya
  10. Kekerasan etnis: Sudan Selatan
  11. Perang geng/saudara: Haiti
  12. Perang saudara/narkoba: Kolombia, Ekuador
  13. Perang saudara: Etiopia, Mozambik, Somalia, Republik Afrika Tengah
  14. Konflik perbatasan: Pakistan (Afghanistan–Pakistan)

Potensi Konflik Baru di 2026

Menurut analisis skenario oleh Komandan Paul Giarra, Kapten Bill Hamblet, dan Gerard Roncolato, Angkatan Laut AS (Purn.) dari U.S Naval Institute, ketegangan di Asia-Pasifik berpotensi meningkat menjadi konflik berskala besar pada 2026. Setelah pemilihan presiden Taiwan 2024 yang mendorong arah politik menuju kemerdekaan, China diprediksi meningkatkan tekanan militer di Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur. Insiden antara kapal dan pesawat militer AS, Jepang, dan Taiwan menunjukkan risiko konfrontasi langsung semakin tinggi.

Dalam skenario terburuk, China dapat melancarkan operasi militer besar untuk menguasai pulau-pulau lepas pantai Taiwan, disertai serangan siber dan rudal balistik terhadap fasilitas militer AS dan sekutu. Serangan ini berpotensi melumpuhkan komunikasi, jalur perdagangan, dan infrastruktur pertahanan di kawasan, memicu respons militer gabungan AS, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Filipina. Konflik ini diprediksi menjadi perang “gabungan” multi-domain yang mencakup laut, udara, siber, dan ruang angkasa, dengan dampak tidak hanya regional tetapi global.

Singkatnya, 2026 bisa menjadi titik kritis dalam persaingan AS dan China, dengan Asia-Pasifik sebagai pusat ketegangan militer dan geopolitik dunia.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan