
Sumber Penyakit yang Harus Diperhatikan
Menurut para ahli kesehatan, penyakit bisa berasal dari dua sumber utama, yaitu perut dan pikiran. Maka dari itu, untuk menjaga kesehatan tubuh, kita perlu memperhatikan kedua hal tersebut secara teratur. Jangan lupa untuk menjaga pola makan agar tidak mengganggu fungsi pencernaan dan juga menjaga pikiran agar tidak terlalu khawatir atau overthinking.
Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Seperti kata pepatah, "sedia payung sebelum hujan". Lebih baik menjaga kesehatan diri dari awal daripada harus menghadapi sakit yang bisa sangat melelahkan dan mahal. Terlebih jika kita bergantung pada BPJS, seringkali setelah dirawat tiga hari kita dinyatakan pulang, padahal masih merasa tidak nyaman.
Perut seperti ruang tamu di dalam rumah. Semakin banyak barang yang ada di dalamnya, semakin sulit untuk membersihkannya. Untuk menjaga kebersihan, kita perlu telaten dalam merawatnya, menyapu, memel, dan melap sudut-sudutnya secara rutin.
Demikian pula dengan perut kita. Semakin banyak makanan yang masuk, semakin berat beban usus untuk mencerna. Belum selesai mencerna satu makanan, sudah ada makanan lain yang masuk lagi. Hal ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan dan penurunan kesehatan secara keseluruhan.
Deteksi Dini Kesehatan Diri Sendiri
Sebagai pengalaman pribadi, ketika saya pergi ke dokter internis, saya diminta untuk mengambil sampel kotoran sendiri. Setelah hasil laboratorium keluar, dokter hanya berkata: "Bapak makannya jorok." Kata itu terasa sangat menohok dan langsung membuat saya sadar akan kebiasaan makan saya.
Sebelum pergi ke dokter, setiap kali saya sakit, saya selalu mengalami demam tinggi dan rasa ngilu di tulang. Ketika berbicara dengan orang biasa, mereka mengatakan bahwa saya mengalami "flu Hong Kong". Sakit yang saya alami selalu parah saat musim hujan. Selain itu, saya juga merasa lemas dan dokter memberi diagnosis bahwa saya mengalami gejala typus.
Setelah dokter menyebut saya "JOROK", saya mulai mencari tahu penyebabnya. Ternyata, kebiasaan makan saya ternyata sangat tidak sehat. Setiap habis makan, saya selalu minum minuman bersoda. Meski iklannya menggoda, setelah makan rasa mual hilang dengan minum soda. Selain itu, sarapan saya juga tidak teratur. Saya cenderung makan apa saja, termasuk makanan pedas berlebihan.
Kebiasaan ini sesuai dengan kebiasaan kerja yang tidak bisa menyesuaikan waktu. Pekerjaan dibawa pulang dan sering kali butuh validasi dari orang lain agar dianggap rajin. Akibatnya, pikiran terus-menerus mengikuti cara berpikir orang lain. Akhirnya, tubuh tidak bisa menyangga lagi dan sakit pun datang.
Checklist Kebiasaan Makan Kita
Awal dari checklist kebiasaan makan ini membantu saya mengubah kebiasaan. Pertama, saya mulai menghindari sambal berlebihan dalam sarapan pagi. Kedua, sejak tahun 2001, saya berhenti minum minuman bersoda. Awalnya berhenti total, sekarang hanya sedikit untuk mengingat rasa, cukup sampai di mulut saja. Ketiga, saya mulai menghindari minuman yang dicampur es. Saat haus menggoda, melihat minuman dengan es membuat lidah ingin minum. Namun dengan tekad kuat, saya ganti dengan air dalam kemasan.
Hasilnya, saya berhasil mencapai usia yang sebentar lagi berkepala enam dengan jarang mengalami sakit. Pernah terserang sakit karena overwork, hampir terkena sakit kuning. Sebelum parah, saya curiga dengan warna air kencing yang kuning pekat. Dokter berkata untung saya tahu lebih awal sehingga bisa dicegah. Dalam resepnya, dokter menyarankan untuk minum madu dan ternyata dokternya juga menjual madu.
Checklist kebiasaan ini harus terus ditingkatkan sesuai dengan pertambahan usia. Karena daya tahan tubuh juga berkaitan dengan usia. Istri saya orang Minang, jadi saya tahu betapa pedasnya makanan yang disajikan. Rasa pedas mulai dikurangi agar perut tidak semakin melemah.
Kesadaran Sehat Harus Dibangun dengan Disiplin
Saat dokter mengatakan saya memiliki kebiasaan makan yang jorok, sebenarnya sudah banyak yang mengingatkan. Buku-buku kesehatan, tips kesehatan, atau bahkan mendengarkan dari radio selalu mengingatkan pentingnya pola makan sehat.
Jadi, ketika dokter mengatakan dengan jelas, apa yang sudah terpahat di kepala, seperti tinggal menyalakan saklar. Itu membentuk kesadaran yang saya terapkan hingga sekarang. Kuncinya adalah disiplin diri.
Obat-obatan dan vitamin tetap harus disiapkan, tetapi jauh lebih penting adalah memperkuat imun tubuh dengan kebiasaan hidup sehat. Sehingga kalau pun sakit, kita cepat sembuh dan pulih kembali.
Ingat, sakit saat ini mahal. Lebih baik melakukan kebiasaan sehat. Selamat mencoba!
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar