
Banjir Rob Mengguncang Wilayah Pesisir Belitung
Pada Minggu malam, acara musik yang dijadwalkan tampil oleh Vanessa dari AFIFA Music batal dilaksanakan akibat cuaca buruk. Angin kencang dan pasang rob yang menghantam kawasan wisata Tanjungpendam, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung menyebabkan acara tersebut ditunda hingga Senin jam 2 siang. Namun kondisi cuaca semakin memburuk, sehingga tenda-tenda dan peralatan acara harus dibongkar.
“Minggu malam awalnya musiknya main, tapi karena angin kencang batal dan diundur Senin jam 2 siang. Tapi kondisinya lebih parah, air laut naik, tenda-tenda sudah dibongkar,” kata Vanessa kepada aiotrade, Senin (8/12).
Karena kondisi itu, pihaknya merugi karena batal tampil. Padahal demi tampil di kawasan Tanjungpendam, dia dan rekannya membatalkan pesanan untuk tampil di tempat lain. “Intinya bukan rezeki kami kali ini,” ujarnya.
Banjir rob disertai hujan kembali menerjang area Pantai Wisata Tanjungpendam, Kecamatan Tanjungpendam, Kabupaten Belitung pada Selasa (8/12) pagi. Genangan banjir meluas hingga ke area panggung utama hingga mata kaki. Akibatnya, event bazar di area tersebut terpaksa dihentikan dengan alasan keamanan pelaku UMKM dan pengunjung.
“Jadi dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk bazar off dulu. Karena faktor cuaca juga tidak bisa diprediksi,” ujar perwakilan panitia bazar, Apriliansyah.
Ia menjelaskan, berdasarkan rencana awal, bazar dilaksanakan selama empat hari, mulai tanggal 6 sampai 10 Desember 2025. Bahkan panitia sudah mengurus berbagai perizinan yang diperlukan. Awalnya bazar berjalan lancar yang diramaikan puluhan UMKM disertai hiburan musik.
“Nah mulai tanggal 8 Desember kemarin, cuaca mulai kurang bagus ditambah banjir rob juga,” kata April.
Kemudian, pengawas Pantai Wisata Tanjungpendam memberikan imbauan agar mengamankan barang elektronik. Ditambah cuaca tadi pagi diterpa angin kencang yang membuat tenda-tenda UMKM rusak. “Mohon dimaklumi juga karena ini faktor cuaca,” katanya.
Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung turut melakukan patroli di kawasan tersebut. Pengawas Area Pantai Tanjungpendam, Nikky Nakaromi, mengingatkan warga agar berhati-hati saat beraktivitas di area wisata, mengingat gelombang pasang masih mungkin terjadi.
“Kami tetap memantau. Pada Minggu pagi pengunjung ramai karena kegiatan car free day dan senam, jadi motor mereka kami minta dipindahkan dari area yang sudah tergenang,” ujarnya.
Banjir Rob Meluas ke Permukiman Warga
Tidak hanya kawasan wisata, rob juga merendam permukiman warga di beberapa lokasi pesisir. BPBD Belitung melaporkan sedikitnya tiga titik terdampak: Pantai Tanjungpendam, Juru Seberang, dan aliran Sungai Kuale, Kecamatan Sijuk. Gelombang setinggi sekitar dua meter membuat air laut melewati tanggul dan mengalir ke rumah-rumah warga.
“Rob mulai terlihat sejak pukul 06.30 dan mencapai puncaknya sekitar pukul 09.00 WIB. Siang hari mulai surut, tetapi di beberapa wilayah air sudah masuk ke pemukiman,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Belitung, Agus Supriadi.
Di Juru Seberang, situasi paling parah. Lebih dari 70 rumah di RT 01 hingga RT 07 terendam dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Warga terpaksa mengangkat barang-barang ke area lebih tinggi tanpa bantuan posko khusus.
Total 1.473 Rumah
BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat sebanyak 1.473 rumah terdampak banjir rob yang terjadi serentak di sejumlah wilayah pesisir, Senin (8/12). Selain rumah warga, tiga fasilitas umum dan tiga dermaga juga ikut terendam. Kondisi ini disebut sebagai salah satu kejadian rob terluas yang terjadi di Babel dalam beberapa tahun terakhir.
Data BPBD Babel juga mencatat Kota Pangkalpinang menjadi wilayah paling terdampak dengan 671 rumah yang terendam di 14 titik berbeda. Disusul Kabupaten Bangka Barat dengan 633 rumah terdampak di 15 lokasi.
Kepala BPBD Provinsi Bangka Belitung, Budi Utama, menjelaskan banjir rob merupakan fenomena naiknya permukaan air laut, yang cenderung terjadi pada wilayah pesisir saat pasang maksimum. Kondisi tersebut dapat semakin buruk ketika bertepatan dengan cuaca ekstrem atau hujan deras.
“Rob adalah fenomena siklus yang selalu mungkin terjadi pada waktu tertentu. Jika bersamaan dengan hujan, dampaknya tentu lebih besar,” ujarnya.
Budi menekankan perlunya kolaborasi seluruh pihak dalam penanganan bencana, mulai dari pemerintah, masyarakat, sektor swasta, hingga pelaku usaha dan pengembang. Menurutnya, penanganan rob tidak cukup hanya mengandalkan perbaikan fisik, tetapi harus menyeluruh dan saling terintegrasi.
“Diperlukan pendekatan komprehensif, mulai dari pembangunan infrastruktur dan perbaikan drainase, pemulihan ekologis, edukasi masyarakat, hingga tata ruang yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim,” jelasnya.
Rumah Roboh dan Kendaraan Mogok
Di Kabupaten Bangka Barat, cuaca ekstrem sejak akhir pekan menimbulkan dampak serius. Sejumlah infrastruktur rusak, permukiman terendam, hingga satu rumah warga roboh akibat derasnya arus sungai. Di Mentok, ratusan kepala keluarga terdampak banjir rob, sementara beberapa ruas jalan umum tidak dapat dilalui karena genangan.
Di Dusun Sinar Kelabat, Desa Cupat, Kecamatan Parittiga, satu bangunan toko yang menyatu dengan rumah warga roboh dan sebuah jembatan terputus pada Minggu (7/12) sore. Hujan berintensitas tinggi sejak pagi membuat debit sungai naik drastis dan menggerus talud penopang jembatan.
Camat Parittiga, Adhian Zulhajjany, menyebut tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Pemilik rumah sudah mengungsi setelah lebih dulu mengantisipasi kondisi sungai yang terus meluap.
“Arus sungai sangat deras dan menggerus dinding bangunan di bantaran. Rumah dalam keadaan kosong dan pemiliknya selamat,” ujar Adhian.
Dorong Mobil Mogok
Di Kecamatan Mentok, intensitas hujan yang kembali tinggi pada Senin (8/12) pagi membuat sejumlah ruas jalan tergenang air. Beberapa kendaraan mogok, memaksa aparat kepolisian turun tangan membantu warga.
Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha mengatakan genangan air dapat menyebabkan kendaraan mati mesin hingga jarak pandang terbatas.
“Kami meminta pengendara agar berhati-hati, mengurangi kecepatan, dan tidak memaksakan menerobos genangan yang tidak terlihat kedalamannya,” ujarnya.
Personel kepolisian dikerahkan untuk membantu pengguna jalan, mendorong kendaraan mogok, serta melakukan patroli pada titik rawan banjir. Kepolisian juga menyingkirkan kayu dan sampah dari badan jalan agar arus lalu lintas tetap aman.
Rob yang terjadi bersamaan dengan hujan deras kembali merendam permukiman di pesisir Tanjung Laut, Kecamatan Mentok. Sedikitnya 300 kepala keluarga terdampak di kawasan tersebut, belum termasuk titik lain seperti Gang Sadar (200 KK), Telbi Laut (30 KK), dan Tanjung Pakdan/Teluk Rubiah Ujung (30 KK).
Berdoa Setiap Malam
Banjir rob juga merendam ratusan rumah di Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Senin (8/12). Genangan terjadi di dua kawasan pesisir, yakni Kampung Nelayan 2 dan Air Anyut, setelah permukaan air laut naik sejak pagi hari.
Kepala BPBD Kabupaten Bangka, Rusmansyah, mengatakan air mulai masuk ke permukiman sekitar pukul 07.00 WIB dan bertahan hingga 13.00 WIB. Dari pendataan awal, tercatat 700 rumah terdampak di Nelayan 2 dan 160 rumah di Air Anyut.
Di tengah upaya penanganan, banjir rob juga menyisakan cerita haru dari warga yang tinggal di zona rawan. Nek Masiah (76), warga Kampung Nelayan 2, mengaku hidupnya dihantui rasa takut setiap kali hujan turun atau air mulai naik.
Sore hari setelah banjir surut, lantai rumahnya masih basah. Kain lap tergeletak di berbagai sudut, dan ia berulang kali mengelap genangan yang tersisa. Rumahnya berada tepat di samping selokan besar yang kerap meluap saat curah hujan tinggi.
“Aku dak pacak tiduk. Kadang berdoa lah aku, sembahyang sepanjang malam,” ujarnya lirih. Ia tinggal seorang diri setelah anak-anaknya merantau ke luar Pulau Bangka.
Sudah lebih dari 20 tahun ia tinggal di rumah yang menjadi langganan banjir setiap akhir tahun. Ia mengingat pernah mengalami banjir setinggi betis sekitar lima atau enam tahun lalu. Tahun ini, menurutnya, genangan terasa lebih besar dibanding tahun sebelumnya.
“Ada lah tiga hari ini banjir. Hari ini mulai naik dari jam tujuh pagi,” katanya.
BPBD menegaskan akan terus memperbarui data dan memberikan peringatan dini kepada warga pesisir.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar