Dampak jalan putus dan longsor, omzet UMKM Srikeminut merosot

Dampak jalan putus dan longsor, omzet UMKM Srikeminut merosot

Dampak Jalan Longsor terhadap UMKM di Srikeminut, Bantul

Para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang berada di kawasan wisata Srikeminut, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami penurunan pendapatan akibat jalan longsor dan putus yang terjadi beberapa waktu lalu. Hal ini memengaruhi aktivitas bisnis mereka, terutama di area sekitar Jembatan Kedungjati ke arah timur.

Lurah Sriharjo, Titik Istiyawatun Khasanah, menjelaskan bahwa selama jalan longsor, jumlah pengunjung warung di wilayah tersebut mengalami penurunan signifikan. Menurutnya, meskipun tidak diketahui secara pasti besaran persentase penurunan omzet, para pemilik usaha merasa kesulitan dalam menjaga kelangsungan bisnis mereka.

"Kemarin, saya bertemu dengan pemilik warung teras kayu di sebelah timur jembatan. Katanya, omzet turun. Tapi, belum tahu persentasenya," ujar Titik saat dikonfirmasi, Jumat (12/12/2025).

Pembenahan Jalan dan Jembatan Darurat

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul telah melakukan pengerjaan dan pembenahan pada jalur wisata yang terkena dampak longsoran. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan jembatan darurat yang telah rampung dan dilakukan uji coba pada Kamis (11/12/2025). Meskipun hanya dapat dilalui oleh pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor, jembatan ini diharapkan bisa membantu pemulihan ekonomi para pelaku UMKM di kawasan Srikeminut.

"Harapannya dengan adanya jalan pertolongan nanti juga UMKM di area Srikeminut di ujung timur bisa normal kembali," harap Titik.

Selain itu, pihak terkait juga masih melakukan pengerukan sedimentasi di bekas longsoran serta pemasangan bronjong atau anyaman kawat besi untuk mencegah erosi lebih lanjut. Proses ini sedang berlangsung dan diharapkan dapat selesai dalam waktu dekat.

Perlahan Pulih, Namun Masih Ada Batasan

Meskipun proses pembenahan sudah mulai berjalan, kondisi jalan yang ada saat ini masih belum dapat dilalui kendaraan bermotor. Hal ini dilakukan sebagai langkah pencegahan agar tidak terjadi erosi tambahan dari Sungai Oya, sehingga tebing di sisi utara diperkuat.

Namun, setelah pengerukan sedimentasi dan pemasangan bronjong selesai, pihak desa akan memasang police line di area bekas jalan putus dan longsor. Ini dilakukan untuk mencegah masyarakat melintasi jalur tersebut hingga tanah benar-benar stabil.

"Jadi, meskipun penanganan sudah selesai, tetap kami pasang police line untuk tidak dilewati dulu. Karenakan masih harus nunggu biar matang dulu tanahnya. Kira-kira enam bulan, tanahnya baru matang," papar Titik.

Dampak Jangka Panjang terhadap Ekonomi Lokal

Dampak dari peristiwa jalan longsor ini tidak hanya terasa secara langsung pada omzet para pelaku UMKM, tetapi juga berpotensi memengaruhi mobilitas masyarakat dan kunjungan wisatawan ke kawasan Srikeminut. Dengan kondisi jalan yang belum sepenuhnya pulih, aktivitas ekonomi di kawasan tersebut masih terbatas, terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada pengunjung.

Titik berharap, dengan berjalannya proses pembenahan dan kestabilan jalan, mobilitas masyarakat dapat kembali lancar, serta ekonomi lokal dapat bangkit kembali. Namun, proses ini membutuhkan waktu dan kesabaran dari semua pihak terkait.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan