Dampak Perubahan Iklim Ancam Kalteng dengan Bencana Hidrometeorologi

Kalimantan Tengah Hadapi Ancaman Perubahan Iklim

Kalimantan Tengah (Kalteng) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim global. Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, serta peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi menjadi tantangan nyata yang harus segera dihadapi oleh pemerintah daerah. Untuk mengantisipasi hal ini, diperlukan langkah-langkah strategis yang efektif dan berkelanjutan.

Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Herson B Aden, menyampaikan bahwa kejadian ekstrem akibat perubahan iklim telah dirasakan oleh masyarakat di beberapa wilayah Indonesia. Contohnya, masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sedang mengalami banjir bandang dan tanah longsor yang menimbulkan kerugian besar.

Herson menekankan bahwa Kalteng memiliki risiko yang tinggi terhadap perubahan iklim. Berdasarkan data historis, provinsi ini pernah menghadapi kebakaran hutan dan gelombang panas akibat fenomena El Nino pada 2015, serta banjir berulang sejak 2010 hingga 2024. Selain itu, terdapat tren peningkatan suhu dan kejadian ekstrem lainnya.

"Kondisi hidrologi, karakteristik lahan gambut, luasnya kawasan hutan, serta dinamika sosial ekonomi masyarakat menuntut adanya perencanaan adaptasi yang terarah, ilmiah, dan dapat diimplementasikan lintas sektor," ujar Herson.

Pemerintah pusat juga menunjukkan komitmen dalam pengendalian perubahan iklim melalui ratifikasi Paris Agreement. Hal ini dituangkan dalam NDC (Nationally Determined Contribution), dan kini diperkuat lagi melalui SNDC (Strategi Jangka Panjang untuk Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim).

Penyusunan Dokumen Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim Provinsi Kalteng dinilai strategis untuk mengidentifikasi risiko, merumuskan langkah adaptasi, serta mengintegrasikannya ke dalam rencana pembangunan daerah. Herson menekankan pentingnya sinergi dalam penyusunan dokumen tersebut. "Saya meminta kepada seluruh Perangkat Daerah untuk mencermati isi dokumen ini agar selaras dengan arah pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah," pungkasnya.

Banjir Rob dan Antisipasinya

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada tujuh daerah pesisir Kalteng yang berpotensi mengalami bencana banjir rob. Wilayah-wilayah tersebut adalah pesisir selatan Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Sukamara, Seruyan, Katingan, Pulang Pisau bagian selatan, dan Kapuas.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Reniatana, menjelaskan bahwa masyarakat di sekitar wilayah tersebut diimbau tetap waspada terhadap dampak bencana seperti angin kencang, menambah tinggi gelombang laut, genangan air, banjir, dan pohon tumbang.

Kepala Bidang Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng, Indra Wiratama, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan upaya mitigasi bencana dengan memetakan wilayah rawan banjir. Selain itu, BPBD telah berkoordinasi, berkomunikasi, dan bekerja sama dengan instansi terkait seperti BPBD Kabupaten/Kota, Kementerian PU, Balai Wilayah Sungai (BWS), BMKG, serta kecamatan dan Desa/Kelurahan terkait peringatan dini dan langkah-langkah kesiapsiagaan terhadap bencana setiap minggu.

Indra juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat terkait pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana. "Kami juga memperkuat evaluasi dan pelaporan terkait perkembangan data dan keadaan di daerah serta mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung untuk membantu pelaksanaan evaluasi dan penyelamatan," pungkasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan